Alasan BI Tetap Tahan Suku Bunga 3,5% Meski Dunia Guncang

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
24 May 2022 17:50
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo Memberikan Keterangan Pers Mengenai Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Mei 2022. (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan atau 7 Days Reverse Repo Rate atau BI-7DRR sebesar 3,5% pada Mei 2022. Juga dengan tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility masing-masing tetap 2,75% dan 4,25%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan penahanan suku bunga ini sejalan dengan berbagai assessment kondisi ekonomi global dan domestik.

"Keputusan ini sejalan dengan perlunya pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar, serta tetap mendorong pertumbuhan ekonomi, di tengah tingginya tekanan eksternal terkait dengan ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina serta percepatan normalisasi kebijakan moneter di berbagai negara maju dan berkembang," jelas Perry dalam konferensi pers, Selasa (24/5/2022).



BI, kata Perry akan terus mencermati arah perkembangan inflasi dan menempuh langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan terkendalinya inflasi sesuai sasaran yang ditetapkan.Inflasi dinilai terkendali dan mendukung stabilitas perekonomian.

Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2022 tercatat inflasi sebesar 0,95% (mtm). Secara tahunan, inflasi IHK April 2022 tercatat 3,47% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 2,64% (yoy), seiring dengan peningkatan harga komoditas global, mobilitas masyarakat, dan pola musiman Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

"Bank Indonesia terus mewaspadai dampaknya terhadap peningkatan ekspektasi inflasi dan menempuh langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan terkendalinya stabilitas inflasi ke depan," ujarnya.

Kendati demikian, di tahun ini, BI memperkirakan inflasi akan menyentuh di atas 4%. "Secara keseluruhan, inflasi ini kemungkinan sedikit di atas 4%. Namun tidak jauh dari 4%," jelasnya.

Pada 2023, lanjut Perry, laju inflasi diperkirakan melambat dan diperkirakan kembali dalam rentah 3% plus minus 1%. "Tidak lebih dari 4%, akan kembali ke bawah 4%," ujarnya lagi.

Dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pemulihan ekonomi nasional, koordinasi kebijakan moneter dan fiskal terus ditingkatkan, termasuk komitmen Bank Indonesia dalam pembelian SBN sebesar Rp 224 triliun untuk pembiayaan kesehatan dan kemanusiaan dalam APBN 2022.

Perbaikan ekonomi dunia berlanjut namun berisiko lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, disertai dengan kenaikan inflasi serta percepatan normalisasi kebijakan moneter di berbagai negara.

Peningkatan ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina, implementasi kebijakan zero Covid-19 di China, dan percepatan normalisasi kebijakan moneter di berbagai negara berdampak pada pelemahan pertumbuhan ekonomi global.

"Volume perdagangan dunia berpotensi lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sejalan dengan risiko tertahannya perbaikan perekonomian global dan masih berlangsungnya gangguan rantai pasokan global," ujarnya.




Harga komoditas global masih meningkat, termasuk komoditas energi, pangan, dan logam, sehingga memberikan tekanan pada inflasi global.

Peningkatan inflasi global tersebut mendorong percepatan normalisasi kebijakan moneter di negara maju, termasuk AS, dan negara berkembang, yang berdampak pada peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global.

Oleh karena itu, BI tetap diproyeksi ekonomi RI tumbuh berkisar 4,5% hingga 5,3% pada 2022.

Sementara, BI mencatat rupiah terdepresiasi 2,8% per 23 Mei 2022 dibandingkan akhir Desember 2021. Meski begitu, depresiasi rupiah diklaim masih lebih baik dibandingkan dengan pelemahan nilai tukar negara lain, seperti India yang minus 4,1%, Malaysia 5,1%, dan Korea Selatan 5,9%.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Likuiditas Melimpah, Lihat Bunga Kredit Segini Bikin Nangis!


(cap/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading