Breaking News! Harga Batu Bara Naik 6%, Nyaris Tembus US$ 400

Market - mae, CNBC Indonesia
18 May 2022 07:35
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara semakin melesat pekan ini dan mendekati rekor tertingginya. Pada perdagangan Selasa (17/5/2022), harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) untuk kontrak Juni ditutup di level US$ 399,65 per ton. Menguat 5,8% dibandingkan dengan penutupan pada hari sebelumnya.

Level harga tersebut adalah yang tertinggi sejak 9 Maret 2022 atau lebih dari dua bulan terakhir di mana pada saat itu harga batu bara menyentuh US$ 426,85 per ton.

Kenaikan kemarin juga membawa harga emas hitam mendekati level US$ 400 per ton serta harga tertingginya di angka US$ 446 per ton pada 2 Maret 2022.


Sebagai catatan, perang Rusia-Ukraina yang dimulai pada 24 Februari 2022 melambungkan harga batu bara dari harga di kisaran US$ 250 per ton di akhir Februari menjadi di kisaran US$ 400 per ton.

Namun, level harga di kisaran US$ 400 hanya berlangsung sepekan (2-9 Maret 2022), kecuali pada 3 Maret 2022. Harga batu bara kemudian kembali melemah dan bergerak di bawah US$ 300 per ton sebelum kembali melonjak karena sanksi ke Rusia dan krisis listrik di India.

Dalam dua hari, harga batu bara telah melesat 10,5%. Secara keseluruhan, dalam sepekan, harga batu bara menguat 11,9% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas hitam juga masih menguat 24,9% dan dalam setahun melesat 301,5%.


Kencangnya pergerakan harga batu bara masih dipicu oleh kekhawatiran pasokan. India masih berkutat dengan persoalan pasokan setelah ada lonjakan permintaan listrik menyusul terjadinya gelombang panas.

Sejumlah negara yang memutuskan untuk melarang impor batu bara Rusia, seperti Jepang, tengah mempercepat persediaan sehingga pasokan kembali ketat. Di sisi lain, Amerika Serikat sebagai produsen utama diperkirakan tidak bisa memanfaatkan banyaknya permintaan karena menghadapi persoalan pengiriman dan tenaga kerja.

Dilansir dari S&P Global, perusahaan dan utilitas Jepang tengah mempercepat impor batu bara dari pemasok alternatif seperti Australia. 

Australia menjadi pilihan utama karena batu bara yang dihasilkan dari negara tersebut termasuk dalam kategori berkualitas tinggi yang dibutuhkan. Batu bara dari Vietnam dan Indonesia dianggap kurang memenuhi syarat tersebut.

Perusahaan baja Jepang selama ini menggantungkan pasokan batu bara jenis tertentu kepada Rusia. Di tahun 2021, Jepang mengimpor 12% kebutuhan thermal coal dan 8% coking coal dari Rusia.


Sementara itu, Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu produsen terbesar tengah dihadapkan pada persoalan pengiriman, tenaga kerja, dan kesulitan mencari investasi. Kondisi tersebut membuat AS kesulitan menjual batu bara mereka di tengah banyaknya pasokan.

"Kemampuan perusahaan AS untuk memanfaatkan tingginya harga batu bara dibatasi oleh hambatan logistik," tutur Ted O'Brien, dari Oluma Resources, perusahaan yang memasarkan batu bara dari Pittsburgh, seperti dikutip dari mining.com


Badan Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (US Energy Information Administration/EIA), pekan lalu, memperkirakan produksi batu bara Amerika Serikat (AS) mencapai 598 juta short ton atau 542,49 juta ton pada tahun 2022. Jumlah tersebut lebih tinggi 3% dibandingkan 578 juta short ton atau 524,35 juta ton di tahun 2021. 

Namun, ekspor batu bara AS diperkirakan stagnan. Ekspor batu bara AS pada tahun ini diperkirakan mencapai 86 juta short ton, dari 85 juta short ton pada tahun 2021. Proyeksi ekspor untuk tahun 2022 yang dikeluarkan pada bulan ini bahkan lebih rendah 3,7% dibandingkan proyeksi di April.

Sepanjang Januari-Maret, produksi batu bara AS meningkat 3,8% menjadi 203,7 juta ton namun ekspor tidak menunjukkan peningkatan. Pengiriman batu bara dari AS pada kuartal I tahun ini bahkan turun 2,5% menjadi 20,2 juta ton.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Perang Dunia III Meletus, Pasokan Batu Bara Dunia Bisa Kiamat


(mae/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading