Marah Disebut Ponzi, CEO LUNA Taruhan dan Kalah Rp 146 M?

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
17 May 2022 07:30
FILE PHOTO: Representations of the Ripple, Bitcoin, Etherum and Litecoin virtual currencies are seen on a PC motherboard in this illustration picture, February 13, 2018. Picture is taken February 13, 2018. REUTERS/Dado Ruvic/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Investor kripto kembali dihadapkan pada kerugian besar, terutama mereka yang memegang stablecoin Terra USD (UST) dan Luna.

Nilai kedua koin digital tersebut anjlok tajam dalam sepekan terakhir. UST merupakan sebuah token kripto yang didesain untuk memiliki nilai stabil (stablecoin) dan dipatok di UST 1 sama dengan US$ 1.

Namun sejak 10 Mei 2022, harga UST terus turun dan menyimpang jauh dari kisaran yang dijanjikan. Hingga artikel ini ditulis, harga UST 1 telah anjlok lebih dari 87% dan bersisa 13 sen dolar AS saja.


Sementara sister coin UST yaitu Luna, nasibnya jauh lebih mengenaskan. Koin yang sempat dihargai lebih dari US$ 100, kini bisa dikatakan tak berharga sama sekali karena harganya sudah sangat dekat dengan US$ 0.

Sebenarnya apa hubungan antara Terra dan Luna? Mengapa keduanya bisa anjlok tajam dan merugikan investor hingga ratusan triliun dalam hitungan hari?

Semua berawal dari seorang pria berkebangsaan Korea Selatan bernama Do Kwon, mantan insinyur yang pernah bekerja di perusahaan sekelas Apple dan Microsoft, yang memutuskan untuk mengembangkan token kripto pada 2018.

Do Kwon kemudian mendirikan perusahaan pengembang cryptocurrency yang berbasis di Singapura dengan nama Terraform Labs (TFL). Di bawah TFL inilah Do Kwon mengembangkan sistem blockchain dan menciptakan dua token digital yaitu UST dan Luna.

Apa yang dilakukan oleh Do Kwon sebenarnya adalah menciptakan uang digital. Berbeda dengan uang fiat yang dikendalikan oleh pemerintah. Sistem moneter dengan basis blockchain dan cryptocurrency mengusung prinsip desentralisasi.

Bisa dibilang, Terra, Luna dan berbagai token kripto lain merupakan sistem moneter tersendiri yang sampai saat ini masih terpisah dari sistem konvensional yang mengandalkan lembaga seperti bank sentral.

Do Kwon menciptakan UST sebagai stablecoin dan berbeda dengan stablecoin lain yang memiliki underlying asset seperti Tether, UST menjadi satu-satunya stablecoin raksasa yang tidak memiliki underlying asset dan hanya bergantung terhadap arbitrase pasar yakni dalam rangka stabilisasi inilah Luna hadir untuk menunjang fungsi tersebut.

Secara sederhana, harga UST akan sangat tergantung pada permintaan dan suplainya di pasar. Saat permintaan naik tapi suplai tetap maka harga UST naik.

Namun karena harga UST 1 di-peg untuk tetap di kisaran US$ 1, maka dalam kasus kenaikan permintaan terhadap UST akan dibarengi dengan penambahan suplai.

Datangnya penambahan suplai UST ini dari sister coin-nya yaitu Luna. UST dan Luna terhubung dalam algoritma dan skema swap. Artinya setiap Luna dapat ditukarkan menjadi UST dengan nominal yang sama begitu pun sebaliknya. Namun ini bertujuan untuk stabilisasi harga UST melalui mekanisme arbitrase.

Skema ini sering disebut sebagai cetak dan bakar atau mint & burn. Saat investor ingin membeli UST, tetapi suplai terbatas, harga UST naik. Namun dengan adanya mekanisme Swap, Luna dapat ditukarkan menjadi UST.

Dalam kasus swap terjadi, artinya suplai Luna di pasar berkurang (burnt) sedangkan UST bertambah (minted). Secara teoritis skenario ini memungkinkan harga UST stabil karena jika UST naik atau turun maka ada arbitrator yang siap melakukan arbitrase untuk mengambil untung dan kembali menstabilkan harga UST.

Sementara itu investor yang melihat prospek UST yang bagus dapat memilih berinvestasi dan memegang (hold) Luna karena dapat memperoleh capital gain dari Luna.

Namun itu terjadi sebelum bulan Mei ini. Aksi jual besar-besaran terhadap Luna hingga harganya sudah mendekati US$ 0 karena developer yaitu TFL gagal memenuhi janjinya untuk mempertahankan stabilitas UST di kisaran US$ 1.

Sistem moneter dalam platform kripto Terra juga sebenarnya melibatkan mekanisme seperti perbankan. Artinya pelaku pasar bisa mendepositokan token kripto UST miliknya untuk mendapatkan bunga. Selain deposito, platform ini juga memfasilitasi adanya mekanisme meminjam atau utang yang tentu dengan bunga juga.

Banyak analis menilai bahwa ketidakstabilan sistem UST dan Luna juga diakibatkan oleh bunga atau sering disebut yield yang terlalu tinggi.

Meskipun UST merupakan stablecoin yang harganya di-peg untuk tetap stabil terhadap US$, tetapi investor masih bisa memperoleh cuan dengan mendepositokan UST miliknya.

Berdasarkan penelusuran CNBC Indonesia, yield yang ditawarkan dari skenario deposito UST ini mencapai 19,5% per tahun di mana mayoritas UST yang beredar, didepositokan oleh pemiliknya.

Sejatinya banyak pihak yang sudah curiga terhadap yield jumbo yang diberikan TFL dan menduga bahwa UST merupakan penipuan skema Ponzi. Para investor yang curiga ini mempertanyakan hal tersebut kepada Do Kwon di media sosial Twitter.

Alih-alih menanggapi kritik tersebut, Do Kwon malah berang dan mengatai para kritik ini sebagai orang-orang yang miskin.

Bahkan Do Kwon menerima tantangan salah satu trader kripto GCR sebesar US$ 10 juta dolar (Rp 146 miliar) bahwa pada Maret 2023 harga Luna akan berada di atas US$ 88/koin, di mana sepertinya GCR akan memenangkan taruhan tersebut.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ini 3 Aksi Tipu-tipu di Dunia Kripto Paling Gempar di Dunia


(RCI/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading