Turunnya Harga Bitcoin Masih Wajar, Crash Crypto Sesaat?

Market - Teti Purwanti, CNBC Indonesia
13 May 2022 14:50
A bitcoin logo is seen at a facility of the Youth and Sports Ministry in Caracas, Venezuela February 23, 2018. REUTERS/Marco Bello

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga aset kripto masih melanjutkan tren negatif. Bagas Satriadi, Direktur Utama Digital Futures Exchange (DFX) mengatakan harga Bitcoin yang belakangan sedang menurun dikarenakan terjadi aksi jual yang cukup besar di market.

"Salah satu faktornya adalah kenaikan suku bunga The Fed guna mengatasi kenaikan inflasi yang terjadi di Amerika Serikat (AS). Sehingga efeknya banyak investor yang melakukan aksi jual tadi," jelas Bagas kepada CNBC Indonesia, Jumat (13/5/2022).

Meski begitu, menurut Bagas kondisi ini belum terlalu mengkhawatirkan. Bahkan investor di Indonesia bisa memanfaatkan momen ini dengan membeli Bitcoin dengan harga "diskon". Tetapi perlu diingat juga untuk selalu gunakan uang dingin.


Di sisi lain, Bagas belum bisa menjelaskan apakah kondisi ini akan berlangsung dalam jangka panjang atau tidak. Menurutnya, hal ini sulit ditentukan karena pergerakan harga murni karena demand dan supply, berdasarkan sejarah pun bisa tiba-tiba harga Bitcoin melonjak drastis setelah mengalami penurunan.

"Per hari ini harga Bitcoin jika dilihat sudah kembali menyentuh di angka US$ 30 ribu. Padahal kemarin sempat menyentuh angka US$ 25 ribu per 1 Bitcoin," tegas Bagas.

Bagas juga menyebutkan pada kondisi seperti ini terlihat ada peluang untuk investor bisa membeli Bitcoin di harga murah, namun investor juga wajib gunakan uang dingin dan kelola risiko serta perhatikan money management.

Harga Bitcoin makin merosot dan sempat menyentuh kisaran level US$ 27.000 untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun lebih, di tengah kekhawatiran investor akan kenaikan inflasi dan runtuhnya salah satu proyek stablecoin yang cukup kontroversial.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pada pukul 15:25 WIB kemarin, Bitcoin ambruk 10,01% ke level US$ 27.772,18 per keping atau setara dengan Rp 404.918.384 per kepingnya (asumsi kurs Rp 14.580/US$). Bahkan, kapitalisasi pasar Bitcoin sudah menyusut cukup besar hingga mencapai US$ 514,5 miliar.

Investor masih cenderung melakukan sell-off dari cryptocurrency, karena investor khawatir dengan kenaikan inflasi global dan kondisi pandemi Covid-19 di China.

Inflasi Negeri Paman Sam dari sisi konsumen (Indeks Harga Konsumen/IHK) pada bulan lalu mencapai 8,3% atau lebih buruk dari ekspektasi ekonom dan analis dalam polling Dow Jones yang memperkirakan angka 8,1%. Namun, realisasi tersebut masih lebih landai dari inflasi Maret 2022 yang tercatat sebesar 8,5%.

Sedangkan inflasi inti, yang mengecualikan harga energi dan makanan, melompat 6,2% atau lebih buruk dari ekspektasi sebesar 6%. Dalam basis bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,3% sedangkan inflasi inti sebesar 0,6%.

Kenaikan inflasi yang sangat tinggi membuat bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang sebelumnya bersikap dovish, kini menjadi hawkish, di mana ke depannya The Fed makin 'galak' dalam menentukan kebijakan moneternya dalam upaya untuk menurunkan inflasi.

Suku bunga acuan diramal bakal dinaikkan sampai lebih dari 5 kali pada tahun ini. Alhasil, aset-aset yang tergolong dalam growth stock dan aset kripto pun makin berguguran.

Selain itu, kondisi pandemi Covid-19 di China yang makin memprihatinkan juga menjadi kekhawatiran lainnya bagi investor.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

2021, Tahun Gila Aset Kripto


(vap/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading