Balada Bitcoin: Ultah ke-13 Tahun yang Tanpa "Party"

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
10 January 2022 08:45
BI Tahan Suku Bunga Acuan Di 3,5%, Hingga Elon Musk Investasi Besar-Besaran Di Bitcoin

Jakarta, CNBC Indonesia - Aset kripto Bitcoin (BTC) mengalami hari-hari yang buruk selama pekan pertama di tahun 2022. Di tengah masa-masa hari ulang tahunnya (ultah), BTC malah sempat ambles mendekati level US$ 40.000. 

Bitcoin diluncurkan pada 3 Januari 2009 atau 13 tahun silam. Setelah mengalami masa stagnan bertahun-tahun, pada pertengahan 2018 harga Bitcoin sempat melonjak ke US$ 19.497. 

Lonjakan itu tidak bertahan lama. Ini lantaran koin yang diciptakan sosok anonim Satoshi Nakamoto tersebut ambruk ke level US$ 3.000 - US$ 4.000 selang setahun kemudian. 


Kemudian, pandemi Covid-19 yang datang di awal 2020 malah membuat orang-orang kembali memborong BTC-berikut pula aset kripto lainnya. Harga aset-aset kripto pun meledak.

Bitcoin sendiri dua kali menyentuh level tertinggi sepanjang masa pada 2021, yakni pada April di kisaran US$ 63.500 dan pada 10 November di US$ 68.622. Sepanjang 2021 pun BTC berhasil melonjak sekitar 70%.

Namun, tidak bisa dilupakan juga, di antara dua rekor tertinggi tersebut, pada 20 Juli, BTC sempat 'terjun bebas' ke level US$ 29.807.

Ini menunjukkan bahwa Bitcoin, termasuk kripto lainnya, memiliki pergerakan yang sangat fluktuatif dibandingkan dengan aset tradisional lainnya.

Nah, setelah menyentuh level tertinggi pada November lalu, Bitcoin cenderung bergerak 'menuruni bukit', meninggalkan level US$ 60.000 dan US$ 50.000.

Gagal 'Party' saat Ultah

Perayaan Natal 2021 sebenarnya sempat membuat para pemegang BTC semringah. Ini karena sepanjang 24-27 Desember, harga BTC berhasil kembali ke level US$ 50.000 - US$ 51.000.

Namun, pemulihan tersebut berlangsung singkat. Bitcoin kembali dilego para investor sehingga bertahan di level US$ 48.000 saja sulit dilakukan.

Sebenarnya, selain Natal, investor BTC sempat berharap adanya kabar positif pada 3 Januari 2022, hari kelahiran koin tersebut. Namun, kenyataan berkata lain. Pada hari jadinya dan hari-hari setelahnya, harga BTC cenderung loyo alias gagal berpesta (party) dan malah sempat ambles ke US$ 40.836 pada Minggu kemarin (9/1).

Penurunan harga BTC pun sebesar 11% dalam seminggu terakhir, dan sekitar 17% selama dua minggu terakhir.

Indeks yang mengukur sentimen ketakutan dan ketamakan investor khusus Bitcoin juga sempat berada di level ketakutan ekstrem (extreme fear), yakni di angka 10. Saat ini, angka tersebut bergerak naik ke angka 23, kendati masih level extreme fear.

Indikator Fear & Greed Index (FGI) menggunakan skala 0-100 dengan peringkat antara 0-50 mewakili berbagai tingkat "ketakutan" dan 50-100 mewakili berbagai tingkat "ketamakan".

Sederhananya, FGI adalah gambaran harian dari sentimen pasar kripto secara umum berdasarkan faktor bobot, seperti volatilitas, volume pasar, media sosial, dominasi, dan tren.

Catatan saja, kendati menarik dan cukup informatif, FGI hanyalah salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan oleh investor.

'Kambing hitam' amblesnya BTC dan pasar kripto secara umum pun langsung dicari-cari. Beberapa orang menyebut kerusuhan di Kazakhstan yang menyebabkan internet terputus ikut menebar ketakutan atas kripto. Asal tahu saja, melansir Decrypt, Kazakhstan menyerap 18% hashrate Bitcoin setelah China menindak penambangan kripto tahun lalu.

Hashrate adalah ukuran daya komputasi per detik yang digunakan saat menambang. Singkatnya, hashrate adalah kecepatan penambangan BTC.

Penyebab kedua pun diasalusulkan ke potensi dipercepatnya pengetatan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) alias kenaikan suku bunga oleh the Federal Reserve (The Fed).

Beberapa hari lalu, pasar kripto juga ikut terkoreksi bersama dengan pasar saham global, karena investor merespons negatif dari potensi percepatan pengetatan kebijakan moneter The Fed.

Dalam rapat The Fed edisi Desember 2021, Ketua The Fed, Jerome 'Jay' Powell dan para koleganya menyebut pasar tenaga kerja sudah sangat ketat dan inflasi terus meninggi. Hal ini membuat The Fed sepertinya harus menaikkan suku bunga acuan lebih cepat.

Pasar pun langsung bereaksi. Mengutip CME FedWatch, kemungkinan kenaikan suku bunga acuan dalam rapat Komite Pengambil Kebijakan The Fed (Federal Open Market Committee/FOMC) edisi Maret 2022 mencapai 64,1%.

Para investor Bitcoin pun belum bisa bernapas lega. Ini karena Bitcoin (BTC) mungkin bakal kembali tertekan jika data inflasi AS yang akan dirilis pada hari Rabu datang lebih tinggi dari yang diperkirakan.

Melansir Tradingeconomics, ekonom memperkirakan indeks harga konsumen (CPI) akan naik 7,1% untuk tahun 2021 hingga Desember dan 0,4% secara bulanan. Lonjakan inflasi tersebut akan semakin menopang arah kebijakan pengetatan a la The Fed.

Bitcoin, yang selama ini oleh banyak analis dianggap diuntungkan di tengah kebijakan ultra-longgar The Fed-demi pemulihan ekonomi akibat pandemi-diprediksi akan tertekan dengan pembalikan arah kebijakan moneter oleh Jerome Powell Cs.

"Aset kripto berada di ujung terjauh dari kurva risiko," cuit Alex Krüger, pendiri Aike Capital, sebuah perusahaan manajemen aset yang berbasis di New York. pada Minggu, dikutip Cointelegraph.

Ia pun menambahkan, kebijakan The Fed bisa membuat investor memindahkan uangnya ke kelas aset yang lebih aman.

Akhir-akhir ini, Bitcoin seringkali bertindak seperti aset tradisional-seperti saham-dalam, misalnya, menyikapi arah kebijakan moneter bank sentral. Krüger pun menyebut ini lantaran BTC sudah menjadi aset makro.

"Bitcoin sekarang menjadi aset makro yang diperdagangkan sebagai proxy untuk kondisi likuiditas. Saat likuiditas berkurang, pemain makro sekarang dalam kehebohan menjual Bitcoin, dan semua aset kripto pun mengikuti," jelasnya.

Belum lagi, secara musiman, Januari bukanlah bulan milik Bitcoin. Menurut data CoinDesk, rata-rata return Bitcoin bulanan di Januari adalah -3,3% selama sembilan tahun terakhir.

Namun, faktor musiman hanya sebuah tren. Dengan kata lain, faktor-faktor lain, seperti aksi borong investor kakap (whale), bisa saja mengganggu tren tersebut dan barangkali membuat Bitcoin bisa bergerak positif selama Januari ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Geger Duit Rp 4.300 T Lenyap di Pasar Kripto, Ini Penyebabnya


(adf/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading