Tiba-tiba Terbang! Bitcoin Cs Balik Arah, Borong Koin Murah

Market - chd, CNBC Indonesia
13 May 2022 11:47
Ilustrasi Cryptocurrency (Photo by Art Rachen on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah sempat ambruk parah kemarin, aset kripto mulai bangkit (rebound) dan terpantau menghijau pada perdagangan Jumat (13/5/2022) pagi menjelang siang hari.

Per pukul 11:00 WIB, Bitcoin dan kripto utama lainnya terpantau menghijau hingga belasan persen. Bitcoin melejit 7,47% ke level US$ 30.512,96 per keping atau setara dengan Rp 445.794.346 per keping (asumsi kurs Rp 14.610/US$), sedangkan Ethereum melonjak 5,82% ke posisi US$ 2.091,3 per keping (Rp 30.553.893 per keping).

Sementara untuk koin digital (token) stablecoin Tether (USDT) mulai kembali stabil pada hari ini di kisaran level US$ 1 per kepingnya.


KriptoSumber: CoinMarketCap

Sebelumnya pada perdagangan Kamis kemarin, Bitcoin dan kripto lainnya terpantau ambruk 'berjamaah' karena aksi jual aset berisiko oleh investor yang sangat masif kemarin, di mana salah satu faktor pemberatnya adalah karena masih panasnya inflasi di Amerika Serikat (AS).

Bitcoin sebelumnya sempat menyentuh ke bawah level US$ 27.000 pada perdagangan kemarin, di mana level ini merupakan level terendahnya sejak Juli 2021.

Namun pada pagi hari ini, koreksinya terus terpangkas dan pada akhirnya berhasil rebound ke zona hijau serta kembali ke level psikologisnya di US$ 30.000.

Sebelumnya pada Kamis kemarin, indeks harga produsen (producer price index/PPI) April, yang menunjukkan harga barang di tingkat grosir AS, melonjak 11% secara tahunan. Angka itu memang lebih rendah dari posisi Maret, tetapi lebih buruk dari ekspektasi pelaku pasar.

Hal ini kembali memicu kekhawatiran bahwa inflasi tinggi belum akan berakhir. Data inflasi pada Rabu lalu dari sisi konsumen (Indeks Harga Konsumen/IHK) April berada di 8,3%, yang lebih buruk dari ekspektasi dan masih berada di dekat rekor tertingginya sejak 40 tahun di 8,5%.

Inflasi yang masih tinggi membuat investor semakin khawatir akan dampak ekonomi dan potensi semakin agresifnya bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam menentukan kebijakan moneter kedepannya.

Aksi jual yang masif telah membawa kapitalisasi pasar keseluruhan kripto anjlok menjadi US$ 1,2 triliun, berdasarkan data dari CoinMarketCap. Kini, kapitalisasi pasar keseluruhan kripto kembali menguat menjadi US$ 1,3 triliun.

Di lain sisi, kehancuran token TerraUSD (UST), salah satu token stablecoin terbesar di dunia sempat membuat heboh di kalangan investor dan trader kripto serta membuat harga Bitcoin dan kripto lainnya makin terpuruk, selain tersengat dari sentimen negatif kenaikan inflasi global.

Bahkan, kejatuhan UST sempat membuat stablecoin utama lainnya yakni Tether (USDT) terpaksa menyentuh ke bawah level US$ 1 per keping atau lebih tepatnya ke kisaran level 95 sen dolar AS.

Stablecoin sejatinya dipatok dengan rasio 1:1 terhadap dolar AS, sehingga harganya harus bertahan di kisaran US$ 1 per keping, meski terkadang harganya melebihi sedikit atau lebih rendah sedikit.

Tetapi, dengan kasus kejatuhan UST dan USDT, maka banyak pengamat skeptis bahwa stablecoin dapat dianggap sebagai alternatif kripto yang sangat volatil.

Menteri Keuangan AS, Janet Yellen pun memberikan peringatan akan dampak kasus anjloknya harga token Terra LUNA dan UST. Dia menuturkan kejadian itu membuktikan potensi ancaman pada stabilitas keuangan yang ditimbulkan oleh pasar kripto yang tidak diatur.

"Stablecoin yang dikenal sebagai TerraUSD mengalami penurunan nilainya. Saya pikir itu hanya menggambarkan ini adalah produk yang berkembang pesat dan ada risiko pada stabilitas keuangan dan kami membutuhkan kerangka kerja yang sesuai," kata Yellen dalam sidang Komite Perbankan Senat, dikutip dari Market Watch, Kamis (12/5/2022) kemarin.

Meski begitu, Menteri Keuangan AS, Janet Yellen mengatakan kejatuhan stablecoin UST belum menimbulkan risiko sistemik pada sistem keuangan di AS.

"Saya tidak akan menggolongkannya pada skala ini sebagai ancaman nyata terhadap stabilitas keuangan, tetapi mereka tumbuh sangat cepat dan mereka menghadirkan jenis risiko yang sama yang telah kita ketahui selama berabad-abad sehubungan dengan kasus penarikan dana besar-besaran," katanya pada saat Sidang Komite Jasa Keuangan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tahun Ini 'Menggila', 2022 Masih Zaman Main Kripto?


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading