Harga Saham Bangkit, Market Cap BNI Lewati Bank Jago & EMTK

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
25 April 2022 14:50
Gedung Bank BNI

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan kinerjanya yang positif dengan kembali ditutup menguat pada pekan lalu. Artinya, secara mingguan IHSG mampu ditutup menguat selama 8 minggu beruntun.

Sebelum mengalami reli panjang ini, terakhir kali secara mingguan IHSG melemah terjadi pada akhir Februari ketika Rusia resmi memulai perang dengan Ukraina.

Selain itu IHSG juga kembali mencetak rekor penutupan all time high/ATH pada perdagangan Kamis (21/4/2022) pekan lalu di level 7.276,19.


Menurut data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), selama perdagangan periode 18-22 April 2022 atau sepanjang pekan lalu, IHSG bergerak menguat 0,20% secara point-to-point. Namun pada perdagangan Jumat akhir pekan lalu, IHSG ditutup merosot 0,7% ke level 7.225,606.

Pekan lalu, asing masih rajin melakukan borong di bursa domestik dengan catatan pembelian bersih (net buy) Rp 5,37 triliun di semua pasar. Dari pasar reguler asing diketahui memborong saham senilai Rp 5,25 triliun, sedangkan di pasar negosiasi sejumlah Rp 119 miliar. Sejak awal tahun, net buy asing di pasar reguler telah mencapai Rp 55,92 triliun.

Di tengah positifnya IHSG selama 8 pekan beruntun, saham emiten perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terus mencatatkan kenaikan kapitalisasi pasar (market cap) dalam setidaknya dua pekan terakhir.

Market Cap BBNI pada akhir pekan lalu naik sebesar Rp 18 triliun menjadi Rp 173 triliun. Posisi BBNI pada akhir pekan lalu pun berada di atas saham emiten teknologi dan media yakni PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dan emiten bank digital yakni PT Bank Jago Tbk (ARTO).

Sebelumnya pada Jumat tanggal 14 April lalu, market cap BBNI juga sempat naik sebesar Rp 9 triliun menjadi Rp 155 triliun.

Pada perdagangan hari ini, market cap BBNI pun kembali naik Rp 5 triliun menjadi Rp 178 triliun, meski IHSG ditutup turun tipis pada penutupan perdagangan sesi I hari ini, yakni turun 0,14% ke level 7.215,467.

Dari pergerakan sahamnya pada perdagangan sesi I hari ini, saham BBNI ditutup melonjak 2,14% ke level harga Rp 9.550 per unitnya, nyaris menyentuh kisaran level Rp 10.000 per unit. Bahkan kini, harga saham BBNI sudah lebih tinggi dari saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Ada beberapa katalis positif yang turut mengerek naik harga saham BBNI di sepanjang tahun ini. Pertama adalah dari sisi inflow.

Data perdagangan mencatat investor asing membukukan pembelian bersih net buy saham BBNI senilai Rp 5,9 triliun. Saham BBNI menjadi saham big cap yang paling diborong asing ketiga setelah BBRI dan TLKM.

Adanya inflow dana asing apalagi besar tentu dapat mengerek naik harga suatu saham termasuk saham blue chip sekelas BBNI.

Katalis positif kedua adalah jika dicermati sebenarnya harga saham BBNI sejak pandemi virus corona (Covid-19) cenderung lagging dibandingkan dengan harga saham big bank lain.

Saat awal-awal Covid-19 melanda, harga saham BBNI drop hampir 60% dan menjadi saham bank kakap dengan penurunan paling signifikan.

Proses recovery harga saham BBNI pun terbilang lambat. Ketika harga saham BBCA & BBRI mulai pulih ke level sebelum Covid-19 pada Oktober 2021, harga saham BBNI masih yang paling ketinggalan.

Namun saham BBNI berhasil mengejar dan di kuartal keempat harga saham bank dengan logo 46 ini menguat signifikan dan uptrend tersebut pun berlanjut hingga sekarang.

Katalis positif selanjutanya terkait dengan kinerja fundamentalnya. Seperti yang sudah diketahui bersama BBNI berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih hingga 3x di tahun 2021.

BBNI juga membagikan dividen sebesar 25% dari laba bersihnya senilai Rp 2,72 triliun kepada para pemegang saham untuk tahun buku 2021.

Selanjutnya katalis positif lain berasal dari prospek perseroan yang bakal menggarap bank digital lewat strategi anorganik, dengan mengakuisisi PT Bank Mayora.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Market Cap EMTK-ARTO Melonjak, BBCA Bertahan di Rp 900 T


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading