Menanti Kenaikan Harga Pertalite, Masyarakat Sudah Siap?

Market - CNBC Indonesia, CNBC Indonesia
22 April 2022 08:25
DPR: Harga Pertalite Maksimum Naik Rp 3 Ribu/Liter

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah beberapa waktu lalu menaikan harga Pertamax. Meski bukan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, kenaikan harga ini cukup memberikan dampak yang kurang sedap dengan adanya demo dari mahasiswa.

Lalu kini, pemerintah juga berencana menaikan harga Pertalite yang banyakdigunakan oleh kelas menengah ke bawah. Pemerintah dalam beberapa kesempatan telah memberikan sinyal kuat atas naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis RON 90 atau Pertalite dan juga Solar serta Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram (kg).

Terbaru, dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi VII DPR, Rabu (13/4/2022), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyebutkan, bahwa pemerintah dalam jangka menengah akan melakukan penyesuaian harga Pertalite dan minyak Solar, serta LPG 3 kg sebagai respons atas lonjakan harga minyak dunia.


"Strategi menghadapi dampak kenaikan harga minyak dunia, untuk jangka menengah.. akan dilakukan penyesuaian harga Pertalite, minyak Solar, dan mempercepat bahan bakar pengganti seperti Bahan Bakar Gas (BBG), bioethanol, bio CNG, dan lainnya," ungkap Menteri Arifin.

Seperti diketahui, harga bensin Pertalite dan Solar subsidi pada periode 1 April 2022 ini tidak mengalami perubahan, di mana masing-masing masih dipertahankan pada Rp 7.650 per liter dan Rp 5.150 per liter.

Sementara harga Pertamax (RON 92) sudah dinaikkan menjadi Rp 12.500 - Rp 13.000 per liter dari sebelumnya Rp 9.000 - Rp 9.400 per liter.

Sedangkan harga Solar non subsidi kini sudah dibanderol sebesar Rp 12.950 - Rp 13.550 per liter untuk jenis Dexlite (CN 51). Artinya, ada selisih setidaknya Rp 7.800 per liter dengan harga Solar bersubsidi.

Arifin mengatakan, lonjakan harga minyak mentah dunia sebagai dampak dari serangan Rusia ke Ukraina sejak 24 Februari 2022 lalu telah berimbas pula pada kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP).

ICP pada Maret mencapai US$ 98,4 per barel. ICP ini jauh di atas asumsi APBN yang hanya mengasumsikan sebesar US$ 63 per barel.

Pjs Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, SH C&T PT Pertamina (Persero) Irto Ginting mengatakan, perseroan belum mengetahui soal usulan besaran kenaikan harga BBM dari siapapun.

Dia menegaskan, penyesuaian harga BBM menjadi kewenangan pemerintah. Oleh karena itu, Pertamina hanya menerima instruksi dari pemerintah dalam hal penyesuaian harga bahan bakar.

"Penyesuaian harga BBM Subsidi kewenangannya ada di Pemerintah," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kalau Pertamax Tidak Naik, Pertamina Boncos Rp 7.000/liter


(Teti Purwanti/dhf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading