Masih Tahan Suku Bunga Acuan 3,5%, Ini Penjelasan Lengkap BI

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
19 April 2022 17:10
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo Memberikan Keterangan Pers Mengenai Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2022 (Tangkapan Layar Youtube Kemenkeu RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reserve Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,5%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, keputusan tersebut sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan terkendalinya inflasi. Serta upaya untuk tetap mendorong pertumbuhan ekonomi, di tengah tekanan eksternal yang meningkat terkait adanya tensi Rusia-Ukraina, serta percepatan normalisasi kebijakan moneter di negara maju.


"Bank Indonesia juga terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut," jelas Perry dalam konferensi pers, Selasa (19/4/2022).

Pemulihan ekonomi global diperkirakan terus berlanjut meski lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, disertai ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. Bank Indonesia merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi global pada 2022 menjadi 3,5% dari sebelumnya sebesar 4,4%.

Volume perdagangan dunia juga diperkirakan lebih rendah sejalan dengan perlambatan ekonomi global dan gangguan rantai pasokan yang masih berlangsung.

Ketidakpastian pasar keuangan global juga, kata Perry masih tinggi seiring dengan masih berlanjutnya ketegangan geopolitik di tengah percepatan normalisasi kebijakan moneter di berbagai negara maju, termasuk AS, sejalan dengan semakin tingginya tekanan inflasi.

"Hal tersebut mendorong terbatasnya prospek aliran modal asing, khususnya portofolio, dan tekanan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia," tuturnya Perry.

BI pun turut mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk keseluruhan tahun 2022 dari 4,7% - 5,5% menjadi 4,5% - 5,3%.

Ke depan, perbaikan kinerja ekonomi akan dipengaruhi oleh volume ekspor yang tertahan seiring dengan lebih rendahnya pertumbuhan ekonomi global dan perdagangan dunia akibat berlanjutnya ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina.

Perbaikan permintaan domestik ke depan juga akan berpengaruh baik karena tertahannya volume ekspor maupun kenaikan harga energi dan pangan global.

Adapun tingkat inflasi dinilai masih terkendali dan mendukung stabilitas perekonomian. Inflasi diklaim tetap terjaga rendah dan berada di kisaran target BI sebesar 3% plus minus 1%. Inflasi tercatat 2,64% secara tahunan dan 0,66% jika dilihat secara bulanan per Maret 2022.

Hal tersebut, kata Perry sejalan dengan masih memadainya sisi penawaran dalam merespons kenaikan sisi permintaan, tetap terkendalinya ekspektasi inflasi, stabilitas nilai tukar Rupiah, serta respons kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan Pemerintah.

"Bank Indonesia terus mewaspadai sejumlah risiko inflasi, terutama dampak kenaikan harga energi dan pangan global," jelasnya.

"Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) guna menjaga inflasi IHK dalam kisaran sasarannya," kata Perry melanjutkan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Inflasi Banyak Negara Melonjak Drastis, RI Bakal Ikutan?


(cap/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading