Analisis Pasar

Ini Dua 'Fitnah' terhadap Saham-Saham Sektor Teknologi

Market - Arif Gunawan & Feri Sandria, CNBC Indonesia
01 April 2022 11:15
Orang tua murid menunjukkan aplikasi pembayaran sekolah lewat digital di sekolah madrasah pembangunan uin, tangerang selatan, selasa, 18/2/2020. madrasah pembangunan uin ini merupakan salah satu yang nantinya menerapkan pembayaran via digital. menurut orang tua murid mengaku belum disosialisasikan pihak sekolah. seperti diketahui pembayaran spp di beberapa sekolah sudah dapat dilakukan dengan pembayaran elektronik gopay. kementerian pendidikan dan kebudayaan (kemdikbud) mendukung kebijakan dari kerja sama teknologi di bidang pendidikan.  pembayaran dapat dilakukan melalui aplikasi gojek di fitur gobills, dan telah terhubung dengan 180 lembaga pendidikan seperti pesantren, madrasah, sekolah dan tempat kursus di indonesia. tidak hanya membayar spp, pembayaran pendidikan lain seperti buku, seragam, dan kegiatan ekstrakurikuler juga dapat dibayar dengan gopay. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham teknologi dunia tengah terkoreksi menyusul kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS). Di situasi demikian, dua pandangan keliru sering mengemuka dalam memandang prospek saham sektor masa depan tersebut.

Saham teknologi yang semula menjadi idaman banyak orang dan merupakan mesin uang bagi pemodal ventura, sedang kesusahan. Harga saham mereka tergerus sejak bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mengurangi kebijakan moneter ekstra longgar.

Perlahan kinerja saham teknologi mulai turun, setelah sebelumnya pada masa pandemi mengalami kenaikan signifikan. Pengetatan kebijakan moneter The Fed merupakan sinyal bahwa tidak ada lagi banjir dana di pasar modal yang menjadi sumber pendanaan obligasi emiten teknologi.


Menurut catatan Tim Riset CNBC Indonesia, perusahaan rintisan (startup) yang baru masuk bursa atau yang belum mencapai profitabilitas ikut terpukul. Perusahaan startup raksasa dunia yang sukses meraup dana fantastis tahun lalu, kapitalisasi pasarnya justru terus menyusut.

Contoh terdekat adalah unicorn PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) yang memegang rekor perolehan dana terbesar lewat penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) Rp 22 triliun. Setelah sempat di zona hijau pasca-listing, harganya kian tertekan hingga kapitalisasi pasarnya kini drop 50%.

Di Asia, e-commerce asal Korea Selatan yang disokong SoftBank, Coupang, mencetak IPO fantastis dan meraup US$ 4,6 miliar di bursa New York (NYSE). Ia menjadi perusahaan Asia yang meraih dana IPO terbesar kedua setelah Alibaba, dengan valuasi mencapai US$ 60 miliar.

Selanjutnya dari China ada Didi, perusahaan yang digadang-gadang merevolusi sektor transportasi di China. Meski meraup dana IPO hingga US$ 4,4 miliar dengan valuasi US$ 73 miliar, harganya jatuh bebas setelah pemerintah China menyoroti persoalan keamanan data.

Perusahaan Singapura yang beroperasi di Indonesia juga mengalami hal serupa. Grab yang tidak memilih jalur penawaran tradisional dan menggunakan perusahaan 'cek kosong' (SPAC), kinerja sahamnya juga mengecewakan.

Perusahaan tercatat telah kehilangan 70% kapitalisasi pasarnya dan terancam dituntut oleh para investor melalui class action karena dianggap 'menyesatkan' investor terkait pembukaan data dan informasi penting perusahaan.

Selain itu beberapa perusahaan besar asal AS yang digadang-gadang menjadi calon raksasa baru ternyata kinerja sahamnya juga melempem, di antaranya Robinhood, emiten pemesanan katering online DoorDash dan emiten pergudangan berbasis komputasi awan Snowflake.

qSumber: Yahoo Finance

Kinerja negatif nyaris dirasakan oleh semua perusahaan startup yang melakukan IPO dalam 2 tahun terakhir, dari Uber, Lyft, hingga WeWork sahamnya masih tercatat tumbuh negatif sejak pertama diperdagangkan publik.

Bukan “Kiamat” Saham Teknologi (Saja)
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading