Dua Tahun Lagi, ADRO Bermanuver ke Bisnis Smelter

Market - Aldo Fernando & dhf, CNBC Indonesia
30 March 2022 16:16
FILE PHOTO: The logo of PT Adaro Energy as seen at PT Adaro Energy headquarters in Jakarta, Indonesia, October 20, 2017. REUTERS/Beawiharta/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) serius mengembangkan bisnis di luar batu bara. Saat ini, emiten yang dinakhodai Garibaldi 'Boy' Thohir tersebut sedang berusaha berekspansi ke proyek smelter aluminium.

Menurut penjelasan manajemen ADRO, perusahaan saat ini sedang berusaha masuk ke sektor ekonomi hijau atau green energy, dengan berusaha menjadi pemasok bahan baku pembuatan komponen mobil listrik (EV) atau panel surya ke depan.

"Saat ini masih dalam tahap perencanaan. Proses konstruksi diperkirakan memakan waktu 24 bulan. Produk yang akan dihasilkan berupa aluminium ingot atau aluminium sheet," jelas Head of Corporate Communication ADRO Febriati Nadira kepada CNBC Indonesia, Rabu (30/3/2022).


Sebagai informasi, nilai investasi proyek pembangunan smelter yang berada di Kawasan Industri Hijau Indonesia tersebut diperkirakan akan mencapai US$ 728 juta atau kisaran Rp 10,41 triliun (asumsi kurs Rp 14.300/US$).

Wakil Presiden Direktur Adaro Ario Rachmat mengatakan investasi ini sejalan dengan rencana transformasi bisnis melalui green initiative jangka panjang perusahaan dan mendukung program hilirisasi industri yang dicanangkan pemerintah.

"Melalui investasi ini, kami berharap dapat membantu mengurangi impor aluminium, memberikan proses dan nilai tambah terhadap alumina serta meningkatkan penerimaan pajak negara. Kami juga berharap keberadaan industri aluminium di Kalimantan Utara ini dapat mendatangkan banyak investasi lanjutan dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat," kata Ario dalam siaran persnya, pada 23 Desember 2021.

Pembangunan smelter ini akan dilakukan melalui PT Adaro Aluminium Indonesia. Perusahaan telah menandatangani Surat Pernyataan Maksud Investasi (Letter of Intention to Invest) untuk menyatakan kesiapan pembangunan smelter tersebut.

"Kami optimis permintaan dunia atas produk aluminium akan terus meningkat, terutama untuk kabel, baterai, dan sasis. Kami juga berharap di masa mendatang, industri lainnya seperti industri panel surya dan mobil listrik yang membutuhkan aluminium juga bisa diproduksi di sini," terang dia.

Kinerja Moncer Tahun Lalu

Apabila nanti terealisasi dan mulai beroperasi, proyek smelter aluminium ADRO berpotensi semakin memperkuat kinerja keuangan emiten yang melantai di bursa sejak Juli 2008 silam tersebut.

Mengenai rapor keuangan teranyar, laba kotor dan laba inti ADRO tercatat senilai masing-masing US$1,77 miliar dan US$1,256 miliar sepanjang 2021. Nilai laba kotor dan inti ini tumbuh masing-masing 207% dan 210% secara tahunan (year on year/YoY).

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan per Desember 2021, nilai laba per saham (EPS) Adaro Energi Indonesia naik menjadi US$ 0,02927 dari sebelumnya senilai US$ 0,00459. Kenaikan EPS perusahaan mencapai 538% secara tahunan.

Selain itu, laba bersih perusahaan tercatat naik 547% secara tahunan menjadi US$1,02 miliar per akhir 2021.

Lonjakan laba bersih tersebut ditopang kenaikan pendapatan usaha pertambangan dan perdagangan batu bara sebesar 62% YoY menjadi US$3,83 miliar, dan pendapatan lain perusahaan sebesar US$65 juta atau naik 35% YoY.

Sepanjang 2021, Adaro Energy Indonesia tercatat mampu meraih pendapatan usaha bersih sebesar US$ 3,99 miliar atau tumbuh 58% YoY dari sebelumnya US$ 2,53 miliar per Desember 2020. Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau EBITDA perusahaan pada periode yang sama naik 138% menjadi US$2,10 miliar.

Dalam keterangan perusahaan, kenaikan pendapatan ini ditopang kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sebesar 70% YoY. Sepanjang 2021 lalu, Adaro Energy Indonesia memproduksi sekitar 52,70 juta ton batu bara dan menjual 51,58 juta ton ke pembeli.

Secara valuasi, dengan menggunakan metode price-to-earning ratio (PER) dan price-to-book (PBV), saham ADRO masih menarik dan lebih 'murah' (undervalued) tinimbang industri. PER saham ADRO saat ini sebesar 6,47 kali (vs industri 21,4 kali) dan PBV saham ADRO tercatat 1,46 kali (vs industri 3,78 kali).

Dari 15 riset analis yang dihimpun Refinitiv, 10 di antaranya rekomendasikan beli saham ADRO, 4 hold, dan 1 menyarankan jual.

Samuel Sekuritas Indonesia dalam riset pada 22 Maret 2022, misalnya, merekomendasikan beli dengan target price (TP) Rp 3.200/unit. Contoh lain, Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam risetnya pada 7 Maret 2022 juga merekomendasikan beli dengan TP Rp 3.700/unit.

Adapun, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pukul 13.58 WIB, harga saham ADRO turun 2,89% ke Rp 2.690/unit.

Dalam sebulan saham ini naik 3,88%, adapun sejak awal tahun (ytd) melesat 19,11%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Booming Komoditas, Laba Adaro Meroket 280% Jadi Rp 6 T


(adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading