Fenomena K-Shaped Recovery, Sektor Mana Untung & Buntung?

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
24 March 2022 18:15
Suasana gedung bertingkat di Jakarta, Senin (5/2/2018). Tahun ini, bank Indonesia memperkirakan ekonomi akan tumbuh lebih baik dibandingkan dari tahun lalu di kisaran 5,1 hingga 5,5 persen seiring membaiknya perekonomian global. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto) Foto: CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 yang muncul sejak 2020 membuat sejumlah sektor industri sangat terpukul dan membawa ekonomi ke jurang resesi. Pemulihan yang terjadi pun ternyata tidak terjadi secara seimbang, berbeda di setiap sektor.

Hal tersebut kemudian memunculkan jenis pemulihan berbentuk 'K' atau K-shaped recovery. Artinya, ada industri yang cepat pulih dan diuntungkan dan ada pula yang malah tertatih-tatih dan dirugikan.

Secara visual, bentuk pemulihan tersebut tampak bercabang dan menyerupai dua lengan huruf 'K', di mana ada sekelompok industri yang mengarah ke arah atas atawa positif dan sisanya menjadi lengan bawah huruf 'K' alias ke teritori negatif.


Istilah pemulihan "berbentuk K" sering muncul di media pada 2020 setelah resesi tajam di AS yang menyertai pagebluk Covid-19. Ini untuk menggambarkan pemulihan ekonomi yang timpang alias tidak merata di berbagai sektor, industri, dan kelompok orang tertentu.

Ilustrasi K-Shaped RecoveryFoto: U.S. Chamber Of Commerce/Forbes
Ilustrasi K-Shaped Recovery

Teranyar, Founder & Chairman CT Corp Chairul Tanjung juga menyinggung soal fenomena K-shaped recovery tersebut dalam presentasinya dalam CNBC Indonesia Economic Outlook 2022, Selasa (22/3/2022).

"Kita tahu sektor-sektor dari digital mendapatkan keuntungan dari pandemi ini. Begitu pun sektor-sektor yang terkait dengan white collar atau kelompok masyarakat atas," kata Chairul Tanjung yang akrab disapa CT.

Di sisi lain, CT melanjutkan, ada kelompok yang dirugikan terkait dengan pandemi ini, seperti pariwisata, transportasi, UMKM hingga kelompok menengah bawah atau yang ia sebut blue collar.

Apabila menilik data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2020 pertumbuhan PDB sejumlah lapangan usaha tercatat minus. (Lihat grafik di bawah ini).

Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan UsahaFoto: BPS
Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha

Sektor transportasi & pergudangan menjadi yang paling terpukul seiring pembatasan mobilitas masyarakat, hingga minus 15,05% pada 2020. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga anjlok (-10,22%).

Selain itu, sektor industri pengolahan (-2,93%), perdagangan; reparasi mobil & motor (-3,78%) dan konstruksi (-3,26%) ikut terpukul.

Di sisi lain, sektor informasi & komunikasi (+10,61%) dan sektor jasa kesehatan & kegiatan sosial (+11,56%) malah tumbuh tinggi kala pagebluk menghantam sendi-sendi perekonomian RI pada 2020.

Kemudian sepanjang 2021, kendati mulai pulih, sejumlah sektor masih belum bisa kembali ke level pra-pandemi.

Industri pengolahan berhasil tumbuh 3,39% pada 2021, setelah minus 2,93% pada 2020. Namun, masih belum bisa melampaui capaian 2019 (+3,80%). Begitu pula, misalnya, dengan transportasi & pergudangan yang tumbuh 3,25% (vs +6,38% pada 2019) dan konstruksi (+2,81% pada 2021 vs +5,76% pada 2019).

Berbeda, sektor yang berhasil pulih dan malah melampaui pertumbuhan pada 2019 adalah pertambangan & penggalian, di tengah melesatnya harga komoditas tambang sepanjang tahun lalu (dan berlanjut hingga tahun ini). Sektor ini tumbuh +4,00% pada 2021, lebih tinggi tinimbang pertumbuhan pada 2019 yang sebesar +1,22%.

Tidak Seekstrem Tahun Lalu

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menjelaskan, fenomena K-shaped recovery saat ini sudah tidak seekstrem tahun lalu atau 2020 lantaran sejumlah sektor yang tertekan sudah mulai pulih.

David bilang, sejumlah sektor yang masih lagging atau masih tertekan saat ini, seperti pariwisata, berikut maskapai penerbangan, termasuk restoran, cafe yang terutama berada di daerah wisata.

Kendati demikian, David optimistis, pada semester dua nanti, sektor tersebut akan semakin pulih.

"Semester dua harusnya sudah makin bagus, sektor-sektor tersebut bisa lebih cepat lagi [pertumbuhannya]," jelas David kepada CNBC Indonesia, Kamis (24/3/2022).

Di sisi lain, David menambahkan, sektor-sektor yang tidak banyak terpengaruh pagebluk, antara lain IT, logistik atau packaging, industri telekomunikasi dan digitalisasi (e-commerce, ride-hailing dll).

"Sekarang [pertumbuhan] mereka [sektor-sektor di atas] sudah mulai normalisasi, tidak secepat yang dulu-dulu," kata David.

Di samping itu, imbuh David, sektor komoditas juga bangkit seiring harganya naik tinggi.

"Ke depan, setelah siklus komoditas, akan merembes ke sektor lain kita berharap," jelas David. "Sektor perdagangan, properti, otomotif, kita berharap bisa pulih juga di semester dua sampai tahun depan," bebernya.

Tidak ketinggalan, relaksasi PPKM, David pikir, bisa mendorong kinerja sektor-sektor consumer goods domestik.

Namun, di samping ada prospek pemulihan, David menekankan, situasi pandmei dan perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung bisa mengganggu pemulihan global.

Cukup senada dengan David, Pengamat Pasar Modal dari Asosiasi Analis Efek Indonesia Reza Priyambada menjelaskan, sektor telekomunikasi dan logistik adalah sektor yang berhasil bertumbuh.

"Itu yang kita lihat sektor-sektor yang masih menunjukkan pertumbuhan," kata Reza kepada CNBC Indonesia, Kamis (24/3).

Di sisi lain, sektor pariwisata juga masih tertekan. Namun, Reza bilang, seiring pelonggaran level PPKM secara bertahap sektor pariwisata bisa kembali pulih


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kasus Harian di DKI Menurun, Jabar Ambil Alih Kasus Terbanyak


(RCI/RCI)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading