Newsletter

Adu 'Banteng' dan 'Beruang' Imbang, IHSG Bisa ke 7.000?

Market - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
24 March 2022 06:50
Kondisi papan perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (9/2/2018). IHSG hari ini bergerak negatif karena respon sentimen anjloknya bursa saham Amerika hingga 4,15%. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot dari posisi harga penutupan tertinggi sepanjang sejarah di Rp 7.000 pada perdagangan kemarin. Meskipun begitu asing masih 'memarkir' dananya di bursa acuan saham Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 0,17% di level 6.996,11 pada perdagangan hari ini, Rabu (23/3/2022). Asing kembali mencatatkan inflow dengan net buy di pasar reguler mencapai Rp 789,42 miliar.


Mayoritas bursa saham Asia kembali bergerak di zona hijau pada perdagangan hari ini. Indeks Nikkei Jepang memimpin penguatan dengan apresiasi 3% dan disusul Hang Seng yang naik 1,21%

Sementara untuk indeks Shanghai Composite China ditutup menguat 0,34% ke level 3.271,03, Straits Times Singapura bertambah 0,42% ke 3.364,26, ASX 200 Australia terapresiasi 0,5% ke 7.377,9, dan KOSPI Korea Selatan melesat 0,92% ke posisi 2.735,05.

Sementara itu, rupiah ditutup di Rp 14.345/US$, menguat tipis 0,08%. Rupiah menjadi satu-satunya mata uang utama Asia yang mampu menguat pada hari ini.

Kemarin,harga minyak mentah jenis Brent melonjak 5,3% menjadi US$ 121,6 per barel, sedangkan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melesat 2,32% ke level US$ 114,35 per barel.

Pelaku pasar mulai menimbang-nimbang kemungkinan resesi terjadi lagi. Triliuner Carl Icahn memberikan peringatan tersebut.

"Saya pikir kemungkinan terjadinya resesi sangat besar, bahkan bisa lebih buruk lagi," kata Icahn, dalam acara "Closing Bell Overtime"CNBC International, Selasa (22/3).

Icahn mengatakan inflasi yang sangat tinggi menjadi ancaman bagi utama bagi perekonomian, dan Perang Rusia - Ukraina menambah ketidakpastian yang ada.

Inflasi di Amerika Serikat kini berada di level tertinggi dalam 40 tahun terakhir, yang membuat bank sentral AS (The Fed) akan agresif menaikkan suku bunga di tahun ini. The Fed pada pekan lalu sudah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 0,25% - 0,5%, dan berencana menaikkan 6 kali lagi masing-masing 25 basis poin di tahun ini.

Namun, ketua The Fed, Jerome Powell, membuka peluang kenaikan lebih agresif lagi. Pelaku pasar melihat ada probabilitas sekitar 66% The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada bulan Mei. Selain itu, bank investasi Goldman Sachs bahkan melihat The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada bulan Mei dan Juni.

Era Inflasi Tinggi Belum Akan Berakhir, Wall Street Ambyar
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading