Harga Komoditas Naik Hingga 2030, Tidak Akan Turun Lagi!

Market - Lalu Rahadian, CNBC Indonesia
18 March 2022 16:45
Menteri BUMN Erick Thohir (Twitter) Foto: Menteri BUMN Erick Thohir (Twitter)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri BUMN Erick Thohir memprediksi kenaikan harga komoditas akan terjadi hingga 2030 mendatang. Kenaikan harga komoditas akan membuat banyak produk tidak akan kembali harganya ke titik awal.

Prediksi ini dia sampaikan setelah melihat perubahan yang terjadi dan mengganggu rantai pasok dunia akibat pandemi Covid-19. Gangguan terhadap rantai pasok dunia terjadi akibat arus digitalisasi dan terjadinya pandemi mengubah keseharian manusia.

"Gonjang ganjing supply chain terjadi karena Covid juga, sehingga equilbrium komoditas sekarang tentu akan terus meningkat sampai 2030," kata Erick dalam Sidang Dewan Pleno BPP Hipmi 2022, Jumat (18/3/2022).

Dia menyebut harga komoditas dunia akan bertahan di level atas karena ongkos produksi juga akan naik. Akan tetapi, Erick menyebut Indonesia tak perlu takut menghadapi hal itu karena saat ini sudah melakukan hilirisasi SDA dan mendorong pertumbuhan ekonomi digital.

"Angka komoditas akan sampai seperti ini, dan 2030 seperti ini, tidak turun lagi. Akan terjadi goncangan supply chain, ongkos produksi akan lebih mahal," ujarnya.

Menurut Erick, ke depannya pelaku usaha harus jeli melihat sektor bisnis apa yang berpeluang terus tumbuh. Menurutnya, mengutip sebuah studi, salah satu sektor bisnis yang akan terus tumbuh adalah kesehatan.

Selain itu, industri makanan dan minuman juga diyakini akan terus tumbuh di tengah disrupsi. Ketiga, ada industri digital yang akan mengalami hal serupa. Kemudian, potensi besar juga dimiliki industri finansial dan logistik.

"Digital ini akan tumbuh luar biasa. Market digital kita sangat tinggi dan besar. Karena itu saya sering sampaikan dan kita konsolidasi, kita harus ada roadmap sendiri, roadmap Indonesia. Ini penting, jangan sampai akhirnya pertumbuhan ekonomi digital kita tidak yang mengisi. Yang kerja bukan kita, pengusahanya bukan kita," ujarnya.

Erick lantas menyebut saat ini Kementerian BUMN fokus memberikan pembiayaan dan pendampingan bagi pelaku usaha. Dua hal ini terutama dilakukan untuk membuat UMKMĀ naik kelas.

Dia memaparkan, saat ini Indonesia berusaha menaikkan rasio pembiayaan UMKM dari perbankan menjadi 30% dari portofolio kredit total. Hal ini dilakukan karena, dibandingkan negara lain, porsi kredit perbankan ke UMKM di Indonesia masih rendah.

"Presiden mendorong harus menjadi 30%. Yang menarik, data ini dilihat seperti KUR itu 92,4% adalah Himbara. Jadi HImbara adalah lokomotif pembiayaan UMKM. karena itu kita lihat angkanya sekarang dari Rp282 triliun Presiden minta (KUR) ditingkatkan menjadi Rp388 triliun di 2022," katanya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pantas Saja 3 BUMN Ini Dibubarkan, Sudah Begini Kondisinya


(RCI/dhf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading