Sudah 7 Hari Tak Pernah Menguat, Dolar Singapura Sehat?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
16 February 2022 15:35
Ilustrasi Penukaran Uang (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kurs dolar Singapura lagi-lagi melemah melawan rupiah. Padahal pada Kamis pekan lalu mata uang Negeri Merlion ini mencapai level tertinggi dalam 5 bulan terakhir.

Setelahnya, arah angina berubah bagi dolar Singapura. Hingga perdagangan Rabu (16/2), dolar Singapura sudah tidak pernah menguat dalam 7 hari beruntun. Pada pukul 14:02 WIB dolar Singapura berada di kisaran Rp 10.602/GS$, melemah sekitar 0,3% di pasar spot, melansir data Refintiv.

Aliran modal yang deras masuk ke Indonesia membuat rupiah perkasa dan membuat dolar Singapura terus melemah.


Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) sepanjang bulan ini hingga 11 Februari, tercatat aliran modal masuk asing masuk ke pasar obligasi sebesar Rp 5,03 triliun, setelah terjadi outflow sekitar Rp 4 triliun di bulan Januari.

Hal tersebut menjadi indikasi pasar obligasi Indonesia masih menarik meski bank sentral Amerika Serikat (AS) akan agresif menaikkan suku bunga di tahun ini yang membuat yield Treasury menanjak.

Sementara itu di pasar saham juga terus terjadi inflow. Pada perdagangan sesi I, investor asing tercatat melakukan beli bersih (net buy) sebesar Rp 271,57 miliar di pasar reguler Sehingga sejak awal pekan net buy tercatat lebih dari Rp 1 triliun. Pada pekan lalu net buy bahkan lebih dari 7 triliun.

Aliran modal yang deras masuk ke dalam negeri, ditambah dengan rilis data ekonomi yang bagus membuat rupiah tak terbendung.

Bank Indonesia (BI) di awal pekan melaporkan penjualan ritel bulan Desember lalu melesat 13,8% year-on-year (yoy), lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya 10,8% (yoy). Selain itu di bulan Januari, penjualan ritel juga diprediksi masih akan terakselerasi menjadi 16% (yoy).

Konsumsi rumah tangga merupakan kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia berdasarkan pengeluaran. Sehingga ketika penjualan ritel melesat akan berdampak bagus bagi perekonomian.

Apalagi di awal bulan ini IHS Markit melaporkan purchasing managers' index (PMI) manufaktur di bulan Januari sebesar 53,7, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 53,5.

PMI manufaktur menggunakan angka 50 sebagai ambang batas. Di bawah 50 berarti kontraksi, di atasnya adalah ekspansi.

Artinya, ekspansi manufaktur sejalan dengan peningkatan penjualan ritel, menjadi sinyal terus membaiknya perekonomian.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tak Berkutik Lawan Rupiah, Dolar Singapura ke Bawah Rp 10.400


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading