Pernah Dialami RI, Begini Dampak Mengerikan dari Aksi The Fed

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
27 January 2022 14:50
U.S. Federal Reserve Chairman Jerome Powell holds a news conference following a two-day Federal Open Market Committee (FOMC) policy meeting in Washington, U.S., September 26, 2018. REUTERS/Al Drago

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia bersiap menghadapi normalisasi kebijakan moneter yang akan dilakukan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Federal Reserve (The Fed). Di tahun 2013, Indonesia sudah merasakan dampak buruk dari aksi bank sentral paling powerful di dunia tersebut.

Di tahun 2013, The Fed mengumumkan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) pada bulan Juni, dan berdampak pada pelemahan rupiah hingga tahun 2015 akibat terjadinya capital outflow dari pasar obligasi yang masif.

Di akhir Mei 2013, kurs rupiah berada di level Rp 9.790/US$ kemudian terus melemah hingga mencapai puncaknya pada 29 September 2015 menyentuh level terlemah Rp 14.730/US$, artinya terjadi pelemahan lebih dari 50%.


idr

Jebloknya kinerja rupiah berdampak besar dan buruk bagi Indonesia. Inflasi menjadi meroket hingga ke atas 8%.

Inflasi yang tinggi pun memakan korban, daya beli masyarakat menurun yang pada akhirnya berdampak pada pelambatan pertumbuhan ekonomi.

Di kuartal II-2014, produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 4,94% year-on-year (yoy). Untuk pertama kalinya sejak kuartal III-2009, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi di bawah 5%. Setelahnya, PDB Indonesia sulit kembali ke atas 5%.

pdb

Dampak normalisasi kebijakan moneter The Fed beberapa tahun lalu tersebut bisa menjadi gambaran risiko yang akan dihadapi Indonesia saat Jerome Powell dan kolega mulai mengerek suku bunga di tahun ini.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> The Fed Lebih Agresif Ketimbang 2013

The Fed Lebih Agresif Ketimbang 2013
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading