IHSG Akhiri Ronde Kena Knock Out, Sempat Ambruk 2%!

Market - Putra, CNBC Indonesia
25 January 2022 15:14
Seorang pria mengamati layar pergerakan perdagangan saham di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/11/2020). Bursa Efek Indonesia mencatatkan pertumbuhan investor baru di bursa yang signifikan, dimana ada penambahan lebih dari 1 juta Single Investor Identification (SID) saham, reksa dana dan obligasi sehingga total investor sudah mencapai 3,5 juta. Digitalisasi di segala platform menjadi yang terpenting dan mengedukasi masyarakat agar semakin banyak yang berminat untuk berinvestasi di pasar modal. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan dengan koreksi 1,31% di level 6.586,17 pada perdagangan hari ini, Selasa (25/1/2022). IHSG sempat terkoreksi parah ke posisi paling rendahnya yakni koreksi 1,97% di level 6.523,92.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 13,27 triliun. Asing pun masuk ke bursa saham domestik dengan net buy di pasar reguler mencapai Rp 36,6 miliar.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) jadi yang paling banyak dilepas asing dengan net sell Rp 194 miliar dan Rp 144 miliar.


Sedangkan saham yang banyak diburu asing adalah saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan net buy masing-masing Rp 121 miliar dan Rp 101 miliar.

Pergerakan IHSG mengekor indeks saham kawasan Asia yang juga terbenam di zona merah dengan Nikkei Jepang yang ambles menyusul Dow Futures yang terpantau longsor 0,86%.

Jelang pertemuan The Fed yang digelar mulai malam nanti, pasar negara berkembang terguncang. Aliran dana asing keluar karena mengantisipasi pengetatan moneter yang dilakukan oleh bank sentral AS.

Goldman Sachs memproyeksikan kenaikan sebanyak 4 kali tahun ini. Namun, bank investasi ini melihat ada risiko bahwa kenaikan suku bunga akan lebih banyak dari itu karena lonjakan inflasi.

Kenaikan suku bunga di AS bisa berdampak pada aliran dana asing yang keluar dari Indonesia. Diperkirakan akan ada sedikit goncangan di pasar keuangan Indonesia. Walaupun tidak separah yang terjadi pada tahun 2013, karena fundamental ekonomi Indonesia yang lebih kuat.

Maka dari itu investor diperkirakan akan bersikap wait and see menunggu pertemuan The Fed selesai untuk mendapatkan sinyal agenda kenaikan suku bunga AS.

Investor juga mulai mencermati perkembangan di Benua Biru di mana potensi terjadinya konflik militer lumayan tinggi akibat perseteruan antara Ukraina dan Russia.

Investor juga berfokus pada perkembangan pandemi Covid-19 di Tanah Air, di mana kasus infeksi harian Covid-19 meningkat hampir 10x sejak awal tahun. Per 24 Januari angka kasus harian Covid-19 Indonesia tercatat 2.927 orang.

Biang keladi kenaikan kasus harian Covid-19 Indonesia adalah Omicron. Hingga saat ini secara kumulatif, ada 1.170 kasus konfirmasi Omicron ditemukan di Indonesia.

Kecemasan investor adalah pemerintah akan kembali menarik rem darurat sewaktu-waktu jika kasus Covid-19 meledak dan menjadi sentimen negatif bagi aset berisiko seperti saham.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Cuekin Omicron, IHSG Ditutup Menguat 5 Hari Beruntun


(trp/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading