Ada Perusahaan Bakrie di Ladang 'Harta Karun' Lapindo

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
25 January 2022 14:08
Kampung Tenggelam Lumpur Lapindo (Budi Sugiharto/detikcom/File Foto 2015)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bencana geologis berupa semburan lumpur panas yang terjadi di lokasi pengeboran Lapindo, Kabupaten Sidoarja 16 tahun lalu ternyata terindikasi memiliki kandungan 'harta karun' berupa rare earth element atau mineral logam tanah jarang (LTJ).

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat selain logam tanah jarang yang ada di campuran lumpur Lapindo, terindikasi juga ada potensi critical raw material yang jumlahnya besar dan melebihi kapasitas logam tanah jarang di daerah tersebut.

Critical raw material sendiri merupakan logam atau mineral yang secara ekonomi dan strategis penting bagi perekonomian tetapi memiliki risiko tinggi terkait dengan pasokannya. Negara seperti Amerika Serikat serta Uni Eropa melakukan pembaharuan secara berkala terkait daftar material yang dapat dikatakan kritikal.


Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Eko Budi Lelono menyampaikan bahwa pihaknya sudah sejak tahun 2020 melakukan penyelidikan terkait dengan adanya 'harta karun' super langka itu atau mineral logam tanah jarang di Lumpur Lapindo, Sidoarjo itu.

Indikasi adanya kandungan logam tanah jarang yang banyak dibutuhkan teknologi modern saat ini, membuat beberapa perusahaan kembali turun ke lapangan melakukan kajian lebih rinci.

Sebagai informasi LTJ merupakan komponen penting sebagai bahan baku untuk baterai, telepon seluler, komputer, industri elektronika hingga pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/ Angin (PLTB). Selain itu, LTJ juga kerap digunakan untuk bahan baku industri pertahanan hingga kendaraan listrik.

Minarak Group selaku Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) minyak dan gas bumi (migas) pengelola wilayah kerja migas (WK Migas) Brantas, saat ini tengah melakukan kajian internal dengan menyiapkan tim ahli untuk menelusuri terkait adanya indikasi logam tanah jarang.

Sekretaris Perusahaan Minarak Group, Ananda Arthaneli menyampaikan bahwa sejauh ini pihaknya masih melakukan kajian di internal atas adanya inidikasi mineral logam tanah jarang di lumpur Lapindo, Sidoarjo, Jawa Timur itu.

"Di mana kami juga melibatkan beberapa tim ahli. Jika sudah ada Hasil yang pasti akan kami beritahukan. Kami sangat berharap apa pun itu semoga suatu hal yang dapat bermanfaat bagi kita semua," terang Ananda kepada CNBC Indonesia, Senin (24/1/2022).

Sayang dia belum menjelaskan detil, atas hasil kajian internal tersebut.

"Untuk nanti diproduksi oleh siapa kami belum mempersiapkan itu. Namun pastinya kami akan kordinasi bersama pemerintah," ungkap dia.

Siapa pemilik Minarak?

Berdasarkan laporan konsolidasi kuartal III Energi Mega Persada (ENRG), pada bagian transaksi dengan pihak-pihak berelasi diketahui bahwa Minarak Brantas Gas Inc. adalah perusahaan yang dahulu bernama Lapindo Brantas Inc.

"Perusahaan, melalui satu atau lebih perantara, adalah entitas sepengendali dengan PT Bumi Resources Tbk (BUMI), Minarak Brantas Gas Inc (MBG) (dahulu Lapindo Brantas, Inc.) dan Energi Timur Jauh Limited (ETJL)," tulis ENRG.

Artinya Minarak merupakan bagian dari Grup Bakrie sebagaimana dengan BUMI dan ENRG yang juga dikendalikan oleh grup tersebut. Meski demikian belum diketahui secara pasti siapa saja pemegang saham lain sekain Grup Bakrie.

Dalam laporan tersebut diketahui bahwa Minarak memiliki utang US$ 74,63 juta atau setara dengan Rp 1,07 triliun kepada ENRG. Pinjaman tersebut diberikan oleh kelompok usaha tanpa bunga dan tanpa jangka waktu pengembalian tetap.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Induk Grup Bakrie Masih Rugi Q3, Daley Capital Tambah Saham!


(fsd/fsd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading