Newsletter

Wall Street Karam, The Fed Gentayangan: Pekan Berat Menanti!

Market - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
24 January 2022 06:45
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak variatif pekan lalu. Saat rupiah keok sepanjang minggu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah.

IHSG sempat merosot dalam 3 hari awal perdagangan pekan lalu, namun sukses bangkit pada hari Kamis dan Jumat. Alhasil IHSG sukses mencatat penguatan 0,49% ke 6.726,373.

Pasar saham Indonesia jadi salah satu yang perkasa kala indeks saham di Asia rata-rata anjlok 2%-3% sepanjang pekan kemarin. IHSG menempati urutan kedua return tertinggi di Asia, hanya tertinggal dari Indeks Hang Seng yang menguat 2,39% sepanjang pekan.


Arus modal asing mengalir ke bursa saham Tanah Air, mendorong IHSG menguat. Minggu lalu investor asing membukukan beli bersih Rp 1,24 triliun.

Saat dana asing mengalir ke pasar saham, pasar SBN justru sebaliknya. Bank Indonesia (BI) melaporkan asing net sell sebesar Rp 0,41 triliun.

Harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) ditutup beragam pada perdagangan akhir pekan lalu.

Melansir data dari Refinitivyield SBN bertenor 1 tahun menjadi yang paling besar penurunannya, yakni turun 12,9 basis poin (bp) ke level 2,932%.

Sedangkan yield SBN berjatuh tempo 15 tahun menjadi yang paling besar kenaikannya pada Jumat, yakni naik 0,9 bp ke level 6,382%.

Sementara untuk yield SBN berjangka waktu 10 tahun yang merupakan yield acuan obligasi negara kembali naik sebesar 0,3 bp ke level 6,425%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga naiknya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Sementara itu rupiah melemah 0,28% ke Rp 14.335/US$ di pasar spot sepanjang pekan kemarin. Keputusan BI untuk segera menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap pada Maret, Juni dan September tampaknya masih belum berhasil menopang rupiah yang dihantui kasus lonjakan Covid-19 di bumi pertiwi.

Alhasil rupiah menjadi yang terburuk ketiga di Asia, hanya lebih baik dari dolar Taiwan dan rupee India. 

Pekan Kelam Wall Street
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading