AKRA Mau Pecah Saham, Begini Lho Nasib 4 Saham Stock Split!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
06 January 2022 13:05
PT. AKR Corporindo Tbk (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten distributor bahan bakar minyak (BBM), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) pada Kamis (6/1/2022), telah mengeluarkan jadwal rencana pemecahan nilai nominal saham perseroan atau stock split dengan rasio 1:5.

Menurut keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), setelah stock split nilai nominal semula Rp 100 per saham menjadi Rp 20 per saham. Apabila mengacu pada data saham AKRA hari ini di harga Rp 4.150/saham, harga saham AKRA akan mengecil menjadi Rp 830/saham pasca-stock split.

Namun, nantinya, total jumlah saham AKRA bertambah menjadi 20.073.474.600 saham, dari sebelumnya 4.014.694.920.


Aksi korporasi ini sendiri sudah mendapat restu pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dilaksanakan pada 20 Desember 2021.

Sebelumnya, manajemen AKRA menjelaskan, stock split ini bertujuan untuk meningkatkan likuiditas perdagangan saham perseroan di BEI.

"Melalui stock split ini harga saham perseroan akan menjadi lebih terjangkau bagi para investor ritel, sehingga diharapkan akan meningkatkan jumlah saham perseroan," kata manajemen AKRA, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (6/1).

Mengenai jadwal stock split, tanggal terakhir perdagangan saham dengan nilai nominal lama di pasar reguler dan negosiasi akan jatuh pada Selasa pekan depan (11/1).

Sementara, tanggal dimulainya perdagangan saham dengan nilai nominal anyar di pasar reguler dan negosiasi pada Rabu minggu depan (12/1).

Kemudian, recording date atau penentuan pemegang saham yang berhak atas hasil stock split berlangsung pada Kamis pekan depan (13/1).

Terakhir, sehari setelahnya, pada Jumat (14/1), saham hasil stock split akan didistribusikan oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) kepada pemegang saham.

Mengacu pada penjelasan di website AKRA, sebelum ini, pada 27 Juli 2007, perseroan juga pernah melakukan aksi stock split dengan rasio 1 : 5.

Semenjak stock split 2007 tersebut, saham AKRA sudah melambung tinggi 298% ke posisi Rp 4.150/saham saat ini.

Empat Emiten Lain Juga Stock Split

Sebelum AKRA, setidaknya sejak Oktober 2021 atau 3 bulan lalu, ada empat emiten yang telah melaksanakan aksi stock split.

Keempat emiten tersebut adalah emiten teknologi Grup Ciputra PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL), emiten jasa manajer investasi PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk (AMOR), emiten media Grup Emtek PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), dan emiten bank milik Grup Djarum PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

MTDL resmi melakukan stock split dengan rasio 1 : 5 pada Senin (3/1/2022). Sejak resmi stock split di harga baru Rp 765/saham, harga MTDL masih terbenam di zona merah. Hari ini, per pukul 11.04 WIB, saham MTDL berada di Rp 760/saham atau turun 0,65% sejak awal stock split.

Kemudian, AMOR yang juga berhasil menyelenggarakan stock split pada 8 Desember 2021 dengan rasio 1 : 2. Sejak stock split, saham AMOR juga masih loyo, yakni minus 1,54% ke posisi Rp 1.945/saham.

Setali tiga uang, saham SCMA juga malah 'terjun bebas' sebesar 44,16% ke Rp 308/saham pasca-stock split dengan rasio 1 : 5 pada 29 Oktober 2021.

Tampaknya, dari nama-nama di atas, saham BBCA memiliki nasib yang lebih baik.

Pada 13 Oktober 2021, BBCA resmi menggunakan harga stock split di Rp 7.320/saham.

Pada hari perdana pasca pemecahan nilai nominal saham dengan rasio 1 : 5 tersebut, saham BBCA bahkan sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di Rp 8.250/saham pada perdagangan intraday hari itu.

Adapun, apabila mengacu pada harga penutupan, rekor tertinggi saham BBCA berada di Rp 7.750/saham atau sehari setelah resmi stock split, pada 14 Oktober 2021.

Saat ini, dengan harga di Rp 7.450/saham, berarti sejak stock split pada Oktober lalu harga saham BBCA sudah naik 1,78%.

Beragamnya kinerja saham pasca-stock split di atas menunjukkan bahwa investor ritel tidak selalu akan memborong saham yang melakukan pemecahan nilai nominal saham.

Dengan kata lain, investor ritel juga akan memperhatikan prospek masing-masing emiten dan likuiditas suatu saham serta kondisi pasar secara luas sebelum memutuskan untuk mengoleksi saham-saham stock split.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

AKRA Optimistis Keunggulan JIIPE Jadi Daya Tarik Investasi


(adf/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading