IHSG Bertahan dari Badai Omicron, Saham Astra Diobral Asing

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
29 November 2021 16:55
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia/ IHSG, Senin (22/11/2021) (CNBC Indonesia/Muhammad sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup cerah pada perdagangan Senin (29/11/2021) awal pekan ini, setelah sempat ambles pada awal perdagangan sesi I hari ini akibat masih khawatirnya pasar dari varian baru virus corona (Covid-19).

Indeks bursa saham acuan nasional tersebut ditutup melesat 0,71% ke level 6.608.29. Pada pembukaan sesi I hari ini, IHSG dibuka melemah 0,13% dan hingga 15 menit setelah dibuka indeks terus terkoreksi hingga 1%. Namun sekitar pukul 10:30 WIB, IHSG berhasil berbalik arah hingga penutupan perdagangan hari ini.

Data perdagangan mencatat nilai transaksi hari ini cenderung menurun menjadi Rp 15,3 triliun. Sebanyak 222 saham naik, 345 saham turun dan 107 lainnya stagnan.


Meskipun berhasil rebound dan ditutup melesat, tetapi investor Asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) hingga mencapai Rp 1,03 triliun di pasar reguler dan sebesar Rp 138 miliar di pasar tunai dan negosiasi, sehingga secara total asing melakukan net sell hingga Rp 1,17 triliun.

Asing masih melepas saham perbankan besar pada hari ini, namun hal tersebut tidak menjadi pemberat IHSG, karena investor domestik mampu menopang harga saham bank besar.

Adapun saham perbankan besar yang dilepas asing adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

Selain melepas saham perbankan besar, asing juga melepas satu saham berkapitalisasi pasar lainnya, yakni saham PT Astra International Tbk (ASII).

Asing juga melepas saham emiten produsen semen Gresik PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan saham emiten produsen mesin konstruksi dan alat berat pertambangan, yakni PT United Tractors Tbk (UNTR).

Berikut saham-saham yang dilepas oleh investor asing pada hari ini.

Net Sell Asing

Sedangkan dari pembelian bersih, asing tercatat masih memborong saham emiten telekomunikasi berkapitalisasi pasar besar (big capĀ­) yakni PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) hingga mencapai Rp 102 miliar.

Selain masih memborong saham TLKM, asing juga mengoleksi saham menara telekomunikasi PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), saham emiten pertambangan batu bara PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), saham emiten bank kecil PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK).

Berikutnya asing juga membeli saham emiten media periklanan digital PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX), saham emiten menara telekomunikasi Grup Djarum PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), dan saham emiten media teknologi PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).

Adapun saham-saham yang dikoleksi oleh investor asing pada hari ini adalah:

Net Buy Asing

Penguatan IHSG ditopang oleh naiknya saham-saham telekomunikasi, kesehatan dan keuangan. Hal ini tercermin dari kenaikan indeks sektoral telekomunikasi yang mencapai 2,35%.

Kemudian di posisi kedua dan ketiga ada indeks sektoral kesehatan dan keuangan yang masing-masing naik 1,1% dan 0,94%. Penguatan saham-saham bank kakap lebih dari 1% turut mendorong apresiasi indeks sektoral keuangan dan IHSG.

Sentimen yang menggerakkan pasar hari ini masih terkait dengan varian baru Covid-19 yang dinamai Omicron yang disebut oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) lebih menular dari virus penyebab Covid-19 awal dan varian Delta.

Sebagai informasi, varian tersebut pertama kali ditemukan di Afrika Selatan dan kini sudah ditemukan di Inggris, beberapa negara Eropa, dan beberapa negara di Asia seperti Hong Kong.

Tiga negara besar di daratan Eropa yaitu Inggris, Jerman dan Italia menyebutkan telah menemukan kasus terkait Omicron pada Sabtu (27/11/2021) lalu. Selain itu ada juga Hong Kong dan Belgia yang melaporkan kasus terkait Omicron di masing-masing negara.

Pekan lalu saat WHO mendeklarasikan variant of concern (VOC) tersebut, pasar keuangan global terkoreksi tajam. Indeks saham utama bursa AS, Eropa dan Asia semuanya merah dengan koreksi lebih dari 2%. Investor cenderung lari ke aset minim risiko seperti emas dan obligasi pemerintah serta menjauhi saham.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading