Newsletter

Omicron 'Bergentayangan', Gimana Nasib IHSG Hari Ini?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
29 November 2021 06:10
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia/ IHSG, Senin (22/11/2021) (CNBC Indonesia/Muhammad sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air kompak lesu pada pekan lalu. Bursa saham nasional anjlok, menyusul sentimen mayor dari bursa global menyusul penemuan varian baru virus Covid-19 di Afrika yang diduga lebih mudah menular dan lebih tahan melawan antibodi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat (27/22/2021) drop 2,06% atau 137,79 poin menjadi 6.561,553. Namun dalam hitungan sepekan, IHSG terhitung ambles 2,36% atau 158,7 poin dibandingkan dengan posisi penutupan akhir pekan lalu di level 6.720,263.


Koreksi mingguan itu berbalik dari reli sepekan sebelumnya yang sebesar 1,04%. Tekanan tersebut juga membuat IHSG longsor melewati dua level psikologis, dari 6.700 menjadi 6.500, dan menghapus seluruh reli yang dikumpulkan sepanjang November.

Dalam 5 hari perdagangan pekan ini, indeks acuan utama bursa nasional ini menguat 3 hari, yakni pada Senin, Rabu, dan Kamis. Reli terbesar terjadi pada Kamis, yakni sebesar 0,24%, dengan total reli hanya sebesar 0,37%.

Mengawali pekan, IHSG menguat tipis hanya 3 poin pada Senin. Kenaikan terjadi mengikuti tren positif di bursa global mengenai konfirmasi Jerome Powell untuk melanjutkan tugasnya memimpin bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Terpilihnya kembali Powell dinilai memberikan kepastian mengenai kelangsungan rencana kebijakan moneter AS, terutama komitmennya untuk mempertahankan kebijakan moneter longgar meski mulai mengurangi pembelian surat utang di pasar sekunder (tapering off) tahun ini.

Selanjutnya, IHSG bergerak volatil mengikuti arah perkembangan inflasi di AS dan kenaikan kasus Covid-19 di Eropa Barat, termasuk di Singapura. Kekhawatiran mengenai temuan varian virus yang lebih mudah menular dan bisa mementahkan vaksinasi baru muncul pada Jumat yang memicu koreksi akbar di bursa dunia, termasuk Indonesia yang anjlok hingga 2% lebih.

Data PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan total nilai perdagangan sepekan mencapai Rp 68,8 triliun, yang didapat dari transaksi 121,7 miliar saham sebanyak 6,9 juta kali. Investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) di pasar reguler sebesar Rp 602,6 miliar.

Sementara itu, nilai tukar rupiah sepanjang pekan lalu konsisten melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah tingginya inflasi di Negara Adidaya di tengah program pengurangan pembelian obligasi (tapering off).

Mata Uang Garuda berada di level Rp 14.300 per dolar AS pada Jumat (27/11/2021), atau melemah dari posisi penutupan Kamis sebesar 0,22%. Sepanjang pekan, rupiah juga terhitung melemah, yakni sebesar 0,46% (65 poin). Sepekan sebelumnya, kurs rupiah juga melemah, sebesar 0,48%, ke Rp 14.233/dolar AS.

Pelemahan terjadi konsisten selama 5 hari beruntun sepekan lalu, dengan posisi stagnan hanya pada Rabu tatkala dolar AS menguat berkat kabar positif dari data klaim tunjangan pengangguran sepekan di angka 199.000, atau terendah lebih dari 50 tahun. Pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021 juga direvisi naik menjadi 2,1%.

Wall Street Anjlok Terimbas Varian Baru Virus Corona
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading