Berasa Kena Prank, Saham Bukalapak Tak Kunjung Rebound

Market - Riset, CNBC Indonesia
29 November 2021 07:50
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia/ IHSG, Senin (22/11/2021) (CNBC Indonesia/Muhammad sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 2% dan terlempar ke 6.561,55 minggu lalu (26/11), salah satu saham yang turut berkontribusi dalam anjloknya indeks adalah saham emiten teknologi PT Bukalapak.com Tbk (BUKA).

Saham BUKA kembali ditutup dengan koreksi sebesar 6,45% ke level Rp 580/unit. Dengan harga yang berada di level penutupan tersebut, artinya dua hari beruntun saham BUKA menyentuh batasanĀ auto reject bawah (ARB) pekan lalu.

Sejatinya saham BUKA benar-benar tak pernah mengalami kenaikan di sepanjang pekan kemarin. Dalam lima hari perdagangan saham BUKA terus berada di zona merah. Koreksi saham BUKA semakin dalam jelang perdagangan minggu lalu berakhir.


Nilai kapitalisasi pasar BUKA tercatat sudah ambles 18,88% dalam periode seminggu terakhir. Bersamaan dengan anjloknya harga saham BUKA, investor asing juga terpantau melepas kepemilikannya di saham emiten e-commerce yang didirikan oleh Achmad Zaky satu dekade silam itu.

Net sell asing di saham BUKA bahkan menjadi salah satu yang terbesar. Asing sudah melepas kepemilikan di saham BUKA sebesar Rp 315,6 miliar dalam sepekan.

Kini harga saham BUKA semakin jauh dari harga saat awal penawaran perdanananya di Rp 850/unit. Itu artinya market cap BUKA sudah anjlok nyaris 32% dari saat awal IPO dan membuatnya menyentuh level All Time Low terbaru.

Sebagai informasi, BUKA pertama kali melantai di bursa saham domestik pada awal Agustus dengan harga Rp 850/unit. Jika total saham BUKA mencapai 103,1 miliar maka nilai kapitalisasi pasar saat awal IPO mencapai Rp 87,6 triliun.

Pada penutupan Jumat (26/11) market cap BUKA berada di Rp 59,78 triliun. Itu berarti nilai pasar saham BUKA sudah longsor Rp 27,83 triliun sendiri sejak penawaran perdana.

Jatuhnya harga saham BUKA dan emiten blue chip lain yang membuat IHSG terbenam juga diikuti dengan koreksi bursa saham dunia. Baik indeks acuan Wall Street maupun indeks saham utama Bursa Asia, mayoritas ambles lebih dari 2%.

Semua itu terjadi setelah Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan ada varian baru Covid-19 yang lebih ganas dari virus awal. Varian tersebut dinamai varian Omricon yang kemudian menjadi variant of concern.

Varian Omricon bahkan disebut jauh lebih menular ketimbang varian Delta yang memicu gelombang lanjutan di India dan Indonesia. Varian baru ini memiliki mutase di protein yang esensial dan dikhawatirkan bakal resisten terhadap vaksinasi.

Adanya kecemasan bahwa lockdown akan kembali marak dan kinerja ekonomi memburuk lagi, membuat investor memilih jaga jarak dengan aset-aset berisiko seperti saham.

Kembali ke kasus BUKA, anjloknya harga saham e-commerce tersebut terjadi justru ketika indeks sektoral teknologi membukukan koreksi yang tipis yakni 0,47% pada Jumat (26/11). Di sepanjang minggu lalu indeks sektoral teknologi juga membukukan pelemahan sebesar 4,27%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading