Asing Tarik Dana, IHSG Dibuka Merah Galau

Market - Putra, CNBC Indonesia
16 November 2021 09:19
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 0,27% ke level 6.598,41 pada awal perdagangan hari ini, Selasa (16/11/2021). IHSG melemah dan keluar dari level psikologis 6.600.

Indeks lanjut melemah 0,35% ke level 6.594 pada 09.03 WIB. Selang 11 menit, IHSG berhasil kembali naik ke atas 6.600 meski masih terkoreksi tepatnya 0,09% di angka 66.10,12. Asing juga lanjut jual saham-saham RI. Hal ini tercermin dari aksi net sell asing di pasar reguler sebesar Rp 90,73 miliar.

Saham yang paling banyak diborong asing adalah saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Kedua saham tersebut dibeli bersih asing masing-masing sebesar Rp 1,7 miliar dan Rp 2,6 miliar.


Sementara itu saham yang banyak dilepas asing pagi ini adalah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net sell masing-masing senilai Rp 56 miliar dan Rp 27 miliar.

Untuk perdagangan hari ini ada beberapa sentimen yang patut dicermati. Wall Street yang merah tipis tentunya kurang menguntungkan bagi pasar Asia pada perdagangan hari ini, apalagi IHSG akan mencoba bangkit setelah terkoreksi cukup tajam dalam dua hari beruntun.

Pemicu turunnya Wall Street adalah ekspektasi kenaikan suku bunga di AS akibat tingginya inflasi. Hal tersebut tercermin dari kenaikan yield Treasury AS.

Berdasarkan perangkat FedWatch miliki CME Group, pasar kini melihat ada probabilitas The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak 3 kali di tahun depan.

Probabilitas kenaikan suku bunga sebanyak 3 kali tersebut selain memicu kenaikan yield Treasury juga berdampak pada penguatan dolar AS.

Sementara itu pertemuan dua pemimpin negara "raksasa" di dunia akan perhatian hari ini. Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Joe Biden dijadwalkan akan bertemu secara virtual.

Dalam agenda tersebut, kedua pemimpin negara dengan nilai ekonomi terbesar di dunia ini memusatkan diskusi dalam beberapa hal termasuk perdagangan, teknologi, Xinjiang, dan terutama Taiwan. Khusus soal Taiwan, Beijing disebut-sebut meminta AS agar mundur dari dukungannya terhadap Taipei.

Sementara itu, pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19) di Indonesia memang sudah terkendali, tetapi bukan berarti sudah selesai. Lonjakan kasus masih bisa terjadi, melihat perkembangan di negara-negara lain, termasuk adanya mutasi baru virus corona.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan mutasi virus corona AY.4.2 yang menyebabkan lonjakan kasus di Inggris dan mulai ditemukan di Singapura dan Malaysia belum ditemukan di tanah air. Kepastian itu disampaikan BGS, sapaan akrab Budi Gunadi Sadikin, dalam keterangan pers di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (15/11/2021).

Ia menjelaskan, varian delta (B.1.617.2) sudah 'beranak' dan melahirkan sejumlah varian antara lain AY.23 dan AY.24. Varian AY.42 belum ditemukan di Indonesia.

Meski demikian, masyarakat masih tetap harus mematuhi protokol kesehatan agar tidak terjadi lonjakan kasus, dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) kembali diketatkan, yang mengakibatkan perekomomian melambat, dan pasar keuangan Indonesia berisiko kembali tertekan.

Apalagi, peringatan sudah dikeluarkan di Eropa. Penyebaran Covid-19 masih menjadi ancaman utama pemulihan ekonomi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa RI Merah Padam! Tenang...Asing Tetap Borong Saham


(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading