Analisis Teknikal

Ngos-ngosan Pascacetak Rekor, IHSG Rawan Longsor di Sesi 2

Market - Putra, CNBC Indonesia
12 November 2021 13:10
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level All Time High (ATH) di awal perdagangan hanya berlangsung singkat. IHSG balik arah dan mengakhiri perdagangan sesi I di zona koreksi.

IHSG ambles 0,35% ke level 6.667,73 pada istirahat siang 11.30 WIB perdagangan Jumat (12/11/2021). Indeks bergerak di rentang terendah 6.662,08 dan tertinggi di 6.714,16 pada perdagangan intraday.

Saat IHSG terkoreksi, terpantau ada 196 saham menguat, 286 melemah dan 178 stagnan. Pelemahan saham-saham bank kakap menjadi pendorong utama anjloknya IHSG.


Tiga saham bank dengan kapitalisasi pasar lebih dari Rp 100 triliun yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) anjlok lebih dari 1%.

Sementara itu saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga ditutup terkoreksi 0,24% pada saat yang sama. Keempat saham tersebut memiliki bobot indeks yang besar atau lebih dari 15%. Sehingga wajar saja jika keempat saham bank tersebut kompak melemah maka IHSG akan terkerek turun.

Nilai transaksi mencapai Rp 6,65 triliun dan asing mencatatkan net buy di pasar reguler sebesar Rp 127,19 miliar hingga sesi I berakhir.

Koreksi yang terjadi pada IHSG hari ini sejatinya adalah hal yang wajar. Di sepanjang 4 hari perdagangan terakhir, IHSG konsisten ditutup di zona hijau dengan apresiasi lebih dari 1,5%.

Kenaikan indeks di awal perdagangan menjadi momentum yang tepat untuk para trader merealisasikan cuannya alias profit taking sehingga membuat indeks berbalik arah.

Di sisi lain sentiment eksternal juga kurang nendang. Wall Street semalam ditutup variatif. Hanya indeks Dow Jones yang ambles 0,44%. Sementara itu S&P 500 dan Nasdaq Composite naik masing-masing 0,06% dan 0,52%.

Ancaman seputar inflasi yang tinggi sehingga memicu terjadinya stagflasi di AS dan China juga menimbulkan kecemasan tersendiri di benak investor.

Setelah melemah 0,35%, bagaimana prospek IHSG di sesi II? Berikut ulasan teknikalnya.

Analisis Teknikal

TeknikalFoto: Putra
Teknikal

Pergerakan IHSG dengan menggunakan periode jam (hourly) dari indikator Boillinger Band (BB) melalui metode area batas atas (resistance) dan batas bawah (support).

Jika melihat posisi penutupan IHSG, maka indeks harus melewati level resisten terdekatnya di 6.691 untuk membentuk tren bullish.

Sementara itu indeks harus melewati level support terdekatnya di level 6.649 untuk mengalami tren bearish.

Indikator Relative Strength Index (RSI) sebagai indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu dan berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20.

Saat ini RSI berada di area 56,29 dan cenderung bergerak menurun. Dengan adanya momentum untuk profit taking, serta indikator teknikal yang kurang mendukung, IHSG berpeluang lanjut terkoreksi di sesi II.

Indeks perlu melewati (break) salah satu level resistance atau support, untuk melihat arah pergerakan selanjutnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa RI Merah Padam! Tenang...Asing Tetap Borong Saham


(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading