IPO Jumbo Rp20 T Lebih, Mitratel Mau Masuk Bisnis Fiber Optik

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
11 November 2021 12:35
Dok: Telkom Foto: Dok: Telkom

Jakarta, CNBC Indonesia - Manajemen PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menargetkan anak usahanya PT Dayamitra Telekomunikasi alias Mitratel bisa melakukan ekspansi bisnis usai melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO).

Beberapa pengembangan usaha yang bisa dilakukan mulai dari masuk ke bisnis fiber optik, mendukung pengembangan 5G.

Direktur Utama Telkom Indonesia Ririek Ardiansyah mengatakan di luar menambah menara telekomunikasi, baik secara organik dan anorganik, bisnis fiber optik juga dinilai berpotensi untuk memberikan pertumbuhan baru baru anak usahanya ini.

"Juga akan masuk ke bisnis baru yang relevan dengan tower, seperti misalnya fiber optik atau juga akuisisi perusahaan yang memiliki layanan fiber optik," kata Ririek dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu kemarin (10/11/2021).

Selain itu, dalam rangka pengembangan 5G di Indonesia, tidak hanya dibutuhkan menara telekomunikasi baru di daerah yang belum mendapatkan akses telekomunikasi, namun juga perlu pembangunan pool baru untuk mendukung jaringan ini di wilayah yang sudah tak lagi dibangun menara.

Lainnya adalah pengembangan apps computing untuk mendukung jaringan 5G yang memiliki karakter distributif sehingga harus menjadi sedekat mungkin dengan pelanggannya.

"Juga akan mendukung perkembangan IT karena 5G karakternya distributif, jadi kemampuan computing-nya itu harus sedekat mungkin dengan pengguna akhir, pelanggan seluler, sehingga Mitratel akan mempersiapkan apps computing di berbagai lokasi tower yang dimilikinya," terangnya.

Untuk diketahui, perusahaan saat ini sedang menunggu diberikannya pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa didapatkan pada 12 November, sehingga perusahaan menargetkan akan melakukan penawaran umum 16-18 November 2021 nantinya.

Saham perdana Mitratel dengan kode MTEL akan ditawarkan dengan harga Rp 775-Rp 975/saham dengan jumlah yang ditawarkan sebanyak-banyak 25.540.000.000 saham atau setara dengan 29,85%.

Namun Ririek enggan membeberkan harga penetapan IPO dengan para penjamin emisi.

"Angka persisnya nantinya ini masih proses [harga IPO], ada literasi yang dilakukan menyesuaikan aturan yang ada, tapi 29,8% ini angka maksimum," imbuh dia.

"Total yang diharapkan adalah Rp 15 triliun sampai Rp 24 triliun dan ini semua akan masuk kepada Mitratel."

Hanya saja, CNBC Indonesia, sudah memberitakan berdasarkan sumber pasar bahwa harga penawaran saham Mitratel telah ditetapkan di Rp 800/saham. Penetapan ini setelah dilakukan penawaran awal (book building) yang pada 26 Oktober-4 November 2021 lalu.

Dengan demikian, dengan melepas 25.540.000.000 saham atau sebanyak-banyaknya 29,85% dari modal yang ditempatkan dan disetor perusahaan setelah penawaran umum, maka perusahaan akan mendapatkan dana senilai Rp 20,43 triliun.

Ririek menjelaskan, dana yang didapat perusahaan dari IPO ini akan digunakan untuk belanja modal (capital expenditure/capex) organik perusahaan untuk pembangunan menara telekomunikasi baru maupun anorganik dengan mengakuisisi, termasuk milik PT Telkomsel. Lainnya adalah untuk memenuhi kebutuhan modal kerja perusahaan.

IPO Direstui

Komisi VI DPR RI pun memberikan dukungan kepada Mitratel untuk melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam kesimpulan rapat dengar pendapat di Komisi VI DPR RI untuk membahas mengenai rencana IPO ini, dengan IPO ini diharapkan Mitratel akan dapat meningkatkan value dan nilai perusahaan.

Selanjutnya, Komisi VI diharapkan bisa segera mendapatkan pernyataan efektif dari OJK agar proses IPO ini bisa dilanjutkan.

Hal ini sejalan dengan pernyataan dari Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra Andre Rosiade. Dia mengatakan bahwa diharapkan surat OJK ini segera keluar, jika tidak nantinya akan mengganggu target perusahaan untuk bisa tercatat jelang akhir bulan ini.

"Info yang saya dapat sampai sekarang surat pernyataan efektif dari OJK belum keluar. Ini perlu jadi catatan. Kita dukung agar surat OJK segera dikeluarkan, kalau ga berantakan semua bisa tertunda IPO bisa ga November ini," kata dia.

Hal lainnya yang juga menjadi pertimbangan dari anggota DPR adalah mengenai rencana pengembangan jaringan 5G yang akan dilakukan oleh Mitratel.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

IPO Jumbo Mitratel, Seperti Apa Industri Menara Telko RI?


(tas/tas)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading