Nasib BUMN Karya, Cuma Dapat Laba Tipis tapi Utang Menggunung

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
09 November 2021 17:30
Direktur Utama Waskita Karya, Destiawan Soewardjono. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Belum lama ini salah satu emiten konstruksi, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) telah merampungkan restrukturisasi utang perusahaan. Pada akhir September lalu, sebanyak 21 bank telah sepakat untuk merestrukturisasi utang WSKT, di mana bank-bank tersebut memberikan keringanan berupa perpanjangan tenor hingga lima tahun ke depan dengan tingkat bunga yang kompetitif.

Selain itu upaya penyehatan likuiditas perusahaan juga dilakukan dengan menjual aset perusahaan berupa kepemilikannya di jalan tol Cibitung senilai Rp 2,44 triliun.

Baru-baru ini demi menyelesaikan kondisi keuangan perusahaan, Waskita menegaskan akan mendivestasikan seluruh aset jalan tolnya hingga 2025 mendatang.


Rencana divestasi ini karena pembangunan jalan tol menimbulkan beban utang yang besar bagi perusahaan. Utang yang ditimbulkan oleh investasi jalan tol ini setidaknya mencapai Rp 53 triliun hingga Rp 54 triliun.

Dalam konferensi pers Kamis (4/11) pekan lalu Direktur Utama Waskita Karya, Destiawan Soewardjono, mengatakan divestasi ini menjadi langkah perusahaan untuk dekonsolidasi beban utang yang tinggi ini.

Dia menjelaskan, divestasi ini menjadi poin penting dalam penataan keuangan perusahaan sehingga ke depannya utang ini tak lagi menjadi beban dalam proses bisnis perusahaan.

Hingga September 2021, Waskita sudah mendivestasikan empat ruas tol dan mendapatkan Rp 6,8 triliun dari proses tersebut. Tol tersebut antara lain Cibitung-Cilincing, Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi, Cinere-Serpong, dan Semarang-Batang.

Dari proses divestasi ini, Destiawan menyebut perusahaan juga dekonsolidasi utang senilai Rp 6 triliun, sedangkan sisanya merupakan margin usaha.

Perusahaan juga mengatakan telah melakukan restrukturisasi utang bank di Waskita dan anak usaha yang telah mencapai 92,35% dari target.

Dengan restrukturisasi ini, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi dengan memperpanjang masa fasilitas kredit sampai dengan tahun 2026 dan mendapatkan bunga yang lebih kompetitif.

Sebelumnya, Wakil Menteri BUMN II, Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan penyebab Waskita Karya memiliki liabilitas, termasuk utang, yang cukup tinggi pada tahun buku 2019 yang mencapai Rp 93,47 triliun akibat terlalu agresif mengakuisisi jalan tol dari pihak swasta sejak tahun 2015 sampai dengan 2017 lalu.

Rasio jumlah beban utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) Waskita adalah yang terbesar kedua di antara BUMN karya lainnya, yang pada pertengahan tahun ini mencapai 5,75 kali.

Sedangkan rasio lancar perusahaan merupakan yang terburuk, dengan jumlah total aset lancar hanya sebesar 69% dari total kewajiban jangka panjang. Cash ratio Waskita hanya sedikit lebih baik dari ADHI, di mana kas atau setara kas yang dimiliki hanya mampu menutup 7,50% dari kewajiban jangka panjang perusahaan.

Bagaimana dengan kondisi tiga emiten lain, masih aman?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading