Analisis

Dear Pangeran MBS, Ekonomi Arab Saudi Mau Dibawa ke Mana?

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
26 October 2021 10:15
FILE - In this Monday, June 24, 2019 file photo, Saudi Arabia's Crown Prince Mohammed bin Salman meets with Secretary of State Mike Pompeo at Al Salam Palace in Jeddah, Saudi Arabia. English Premier League club Newcastle was taken over by Saudi Arabia's sovereign wealth fund on Thursday, Oct. 7, 2021 after a protracted takeover. The takeover by the Saudi Public Investment Fund initially collapsed last year over concerns about how much control the kingdom's leadership would have in the running of Newcastle amid concerns about Saudi human rights abuses and the pirating of sports rights. (AP Photo/Jacquelyn Martin, Pool, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi, negara eksportir minyak terbesar dunia baru-baru ini menyatakan akan menargetkan netralitas karbon pada tahun 2060.

Kebijakan tersebut membuat negara Timur Tengah ini resmi bergabung dengan lebih dari 100 negara lain untuk melakukan transisi energi bersih demi menekan dampak buruk perubahan iklim.

Putra Mahkota Kerajaan Saudi Mohammed bin Salman (MBS) mengatakan Arab Saudi akan menginvestasikan lebih dari US$ 180 miliar atau setara dengan Rp 2.574 triliun (kurs Rp 14.300/US$) untuk mencapai tujuan tersebut.


Namun dia mengatakan negara teluk tersebut akan terus memproduksi minyak selama beberapa dekade mendatang. Pengumuman ini datang beberapa hari sebelum KTT perubahan iklim COP26, yang akan digelar mulai akhir pekan ini di Glasgow, Skotlandia.

Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan, pada forum tahunan perdana Saudi Green Initiative di Riyadh, bahwa penggunaan energi terbarukan dan penangkapan karbon termasuk dalam 60 proyek yang akan dikembangkan Arab Saudi untuk membantu mencapai target tersebut.

Target yang dicanangkan tersebut mengacu pada emisi yang dihasilkan di dalam negeri dan tidak berlaku untuk hidrokarbon yang diekspor dan dibakar di tempat lain.

Ini merupakan indikasi bahwa Arab Saudi tidak akan secara drastis memperlambat investasi minyak dan gas atau melepaskan kendali pasar energi dengan menjauhkan diri dari produksi bahan bakar fosil.

Ekspor energi merupakan tulang punggung ekonomi Arab Saudi, meskipun ada upaya untuk mendiversifikasi pendapatan karena dunia semakin berupaya untuk beralih dari ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Tahun ini, Arab Saudi diperkirakan menghasilkan US$ 150 miliar atau setara Rp 2.145 triliun dari minyak.

Arab Saudi saat ini juga merupakan penghasil emisi karbon per kapita terbesar kelima di dunia dengan total emisi 14,59 mt/tahun, menurut S&P Global Platts Atlas of Energy Transition.

Sementara itu, perusahaan minyak raksasa Saudi Aramco, bersama dengan anak perusahaannya Sabic Petrochemicals, menetapkan target lebih awal pada tahun 2050.

Langkah ini juga sejalan dengan kebijakan yang sebelumnya telah diambil oleh perusahaan raksasa migas lain seperti BP, Shell, Total, Repsol hingga Equinor.

"Sebagai penyedia energi terbesar di dunia, ambisi Aramco untuk mencapai nol emisi gas rumah kaca di seluruh operasi kami dalam waktu kurang dari tiga dekade adalah langkah maju bersejarah yang akan membantu mengatasi tantangan paling mendesak yang dihadapi umat manusia," CEO Aramco Amin Nasser dalam keterangan resminya.

Target jangka menengah Arab Saudi adalah untuk mengurangi emisi karbon lebih dari 278 mt/tahun pada tahun 2030, lebih dari dua kali lipat target yang ditetapkan awal tahun ini, menurut pernyataan pemerintah.

Kerajaan juga akan bergabung dengan Global Methane Pledge untuk mengurangi emisi metana global sebesar 30% pada tahun 2030.

Rencana Arab Saudi datang tidak lama setelah pengumuman Uni Emirat Arab (UEA) pada 7 Oktober yang menargetkan netralitas karbon pada tahun 2050 dan menjadi negara pertama di Timur Tengah dan Afrika Utara yang menetapkan tujuan ini.

Kerajaan yang dipimpin Raja Salman tersebut kini bergabung dengan negara seperti Rusia dan China yang juga menargetkan netralitas karbon pada tahun 2060. Amerika Serikat, Uni Eropa dan sebagian besar negara maju lainnya menargetkan tahun 2050.

Sedangkan Indonesia tertinggal 10 tahun di belakang China dan Arab Saudi yang menargetkan kondisi tersebut tercapai setengah abad lagi atau pada tahun 2070.

NEXT: Nasib Arab Saudi Pascaminyak

Nasib Arab Saudi Pasca-minyak
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading