Kebijakan MAS Picu Kenaikan Tajam Kurs Dolar Singapura

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
21 October 2021 11:15
FILE PHOTO: A Singapore dollar note is seen in this illustration photo May 31, 2017.     REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar dolar Singapura menguat tajam melawan rupiah pada perdagangan Kamis (21/10), bahkan sebelumnya sudah mencatat kenaikan 3 hari beruntun. Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) yang mengetatkan kebijakan moneter membuat dolar Singapura menjadi perkasa.

Pada pukul 10:21 WIB, SG$ 1 setara Rp 10.522,2, dolar Singapura menguat 0,47% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Sebelumnya dalam 3 hari beruntun, Mata Uang Negeri Merlion ini sudah menguat 0,37%.

MAS pada pekan lalu secara mengejutkan mengetatkan kebijakan moneter. Untuk diketahui, di Singapura, tidak ada suku bunga acuan, kebijakannya menggunakan S$NEER (Singapore dollar nominal effective exchange rate).


Kebijakan moneter, apakah itu longgar atau ketat, dilakukan dengan cara menetapkan kisaran nilai dan nilai tengah dolar Singapura terhadap mata uang negara mitra dagang utama. Kisaran maupun nilai tengah itu tidak diumbar kepada publik.

MAS mengatakan kemiringan (slope) S$NEER sedikit dinaikkan dari sebelumnya di dekat 0%. Sementara lebar (width) masih tetap.

Slope berfungsi membuat penguatan/penurunan dolar Singapura lebih cepat/lambat. Ketika slope dinaikkan, maka dolar Singapura bisa menguat lebih cepat, begitu juga sebaliknya.

"Apresiasi slope S$NEER akan menjaga stabilitas harga dalam jangka menengah," kata MAS sebagaimana dilansir Straits Times, Kamis (14/10).

Kenaikan inflasi menjadi salah satu alasan MAS merubah kebijakan moneternya.

"Pertumbuhan di Singapura kemungkinan masih akan di atas tren dalam beberapa kuartal ke depan. Kecuali jika penyakit akibat virus corona (Covid-19) kembali melonjak atau waktu pembukaan kembali perekonomian mengalami kemunduran, output perekonomian seharusnya kembali ke potensinya di tahun 2022," kata MAS

"Di saat yang sama, tekanan harga dari eksternal dan domestik sedang terakumulasi, yang merefleksikan permintaan yang menuju normal begitu juga dengan ketatnya kondisi supply," tambah MAS.

MAS memprediksi inflasi inti di tahun ini akan mendekati batas atas target 0% hingga 1%, dan naik lagi ke 1% hingga 2% di tahun depan.

Sementara inflasi keseluruhan di tahun ini diperkirakan sebesar 2%, dan di tahun depan di kisaran 1,5% hingga 2,5%.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading