IHSG Turun Tipis, Asing Borong BBRI-ASII & Lepas BUKA-TOWR

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
19 October 2021 16:55
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal menembus level tertingginya sepanjang masa pada perdagangan Selasa (19/10/2021), karena investor mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah IHSG melesat selama sepekan lebih.

Indeks bursa saham acuan Tanah Air tersebut ditutup turun tipis 0,04% ke level 6.655,999. Sejatinya, tinggal sekitar setengah persen lagi IHSG akan menyentuh level tertingginya sepanjang masa yang pernah dibukukannya pada tahun 2018 silam, yakni di level 6.693,466.

Namun nyatanya, IHSG pada hari ini kembali tak dapat menembus level tertingginya karena investor mulai merealisasikan keuntungannya pada hari ini.


Data perdagangan mencatat nilai transaksi hari ini kembali menurun menjadi Rp 13,9 triliun. Investor asing tercatat masih melakukan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 654 miliar di pasar reguler. Sebanyak 247 saham terapresiasi, 262 saham terdepresiasi, dan 149 lainnya stagnan.

Pada hari ini, asing tercatat masih mengoleksi saham bank berkapitalisasi pasar terbesar (big cap) kedua, yakni saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang diborong oleh asing sebesar Rp 310 miliar.

Selain BBRI, asing juga tercatat mengoleksi saham big cap lainnya, yakni saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Asing juga tercatat mengoleksi saham emiten batu bara PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan saham emiten gas negara PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).

Berikut saham-saham yang dikoleksi oleh investor asing pada hari ini.

Net Buy Asing

Sementara itu dari penjualan bersih, asing tercatat kembali melepas saham big cap terjumbo di RI, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 230 miliar.

Selain saham BBCA, asing juga tercatat melepas saham e-commerce PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), saham emiten menara telekomunikasi Grup Djarum PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), saham emiten konsumer PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan saham emiten produsen semen bermerek Semen Gresik yakni PT Semen Indonesia Tbk (SMGR).

Adapun saham-saham yang dilepas oleh investor asing pada hari ini adalah:

Net Sell Asing

Untuk hari ini, ada beberapa sentimen yang mewarnai perdagangan. Pertama adalah kinerja saham-saham di bursa Amerika Serikat (AS) Wall Street yang ditutup variatif pada dini hari tadi waktu Indonesia.

Pada akhir penutupan perdagangan Senin (18/10/2021) waktu AS, S&P 500 tercatat naik 0,3%. Nasdaq Composite yang diuntungkan dari perbaikan kinerja saham beberapa perusahaan teknologi tercatat naik 0,8%. Sedangkan Dow Jones Industrial Average menjadi satu-satunya indeks yang mengalami koreksi atau turun 0,1%.

Sentimen lain datang dari China. Pertumbuhan PDB Negeri Panda di kuartal III-2021 dilaporkan tumbuh positif 4,9% secara tahunan (year-on-year/yoy). Namun pertumbuhan ekonomi China melambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya di angka 7,9% (yoy).

Perlambatan ekonomi China dipicu oleh beberapa hal terutama akibat krisis energi dan krisis utang di sektor properti China.

Krisis energi yang sedang dialami memaksa sebagian pabrik beroperasi di bawah kapasitas normal dan juga pemadaman juga sempat diberlakukan di beberapa wilayah.

Turunnya kapasitas pabrik di China tentu menjadi pukulan besar, mengingat banyak bahan baku dan barang kebutuhan global diproduksi di negara tersebut.

Sementara itu dari dalam negeri, pada Selasa (19/10/2021) sore, Bank Indonesia (BI) akhirnya mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar sejak kemarin. BI memutuskan untuk kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50%, sesuai dengan ekspektasi pasar.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18-19 Oktober 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam jumpa pers usai RDG, Selasa (19/10/2021).

Sebelumnya, konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan BI 7-Day Reverse Repo Rate bertahan di 3,5%. Seluruh institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus sepakat bulat, tidak ada dissenting opinion.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Asing Belanja, Ini Dia Big Cap yang Diborong & Dilepas


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading