Harga Batu Bara Anjlok 7%, tapi Krisis Energi Masih Lanjut...

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
17 October 2021 08:53
A pile of coal is seen at a warehouse of the Trypillian thermal power plant, owned by Ukrainian state-run energy company Centrenergo, in Kiev region, Ukraine November 23, 2017. Picture taken November 23, 2017. REUTERS/Valentyn Ogirenko

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara acuan global Thermal Newcastle ditutup melemah 6,91% ke level US$ 241,35 /ton. Tren penurunan yang terjadi di minggu ini disebabkan karena harga batu bara yang sudah naik tajam sehingga memicu aksi ambil untung para trader di bursa berjangka (futures stock) atau profit taking.

Di sepanjang pekan ini, harga batu bara Newcastle diperdagangkan di rentang terendah US$ 225,92 /ton dan level tertingginya US$ 260 /ton. Namun di awal Oktober harga batu bara sempat menyentuh ke level tertingginya di sepanjang masa di level US$ 280 /ton.

Salah satu pemicu kenaikan harga batu bara adalah krisis energi yang melanda berbagai negara, mulai dari AS, Eropa, hingga Asia.


Batu bara banyak dimanfaatkan untuk pembangkit listrik di berbagai negara. Namun, di negara-negara maju kebijakan bauran energi yang lebih ramah lingkungan membuat porsi penggunaan batubara mulai dikurangi dan dialihkan ke gas alam.

Namun sayangnya, harga gas alam yang sudah terbang tinggi membuat perusahaan utilitas terutama pembangkit listrik kembali beralih menggunakan batu bara. Adanya kenaikan permintaan terhadap batubara membuat harganya ikut melesat.

Toby Hassall, Analis Refinitiv, menilai kenaikan harga gas alam yang begitu tajam mendukung lesatan harga batu bara.

Sabtu kemarin, harga gas alam di Henry Hub (Oklahoma, Amerika Serikat) melejit 2,78% Sejak akhir 2020 (year-to-date), harga meroket 122,92%.

Saat harga gas alam naik, maka biaya pembangkitan listrik dengan sumber energi primer dari komoditas ini semakin mahal. Di Eropa, biaya pembangkitan listrik dengan gas alam pada 12 Oktober 2021 adalah EUR 85,22/MWh. Sementara dengan batubara adalah EUR 54,76/MWh.

Tren kenaikan harga batu bara dunia cenderung menguntungkan Indonesia sebagai salah satu produsen dan eksportir batu bara terbesar global. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor bahan bakar mineral yang termasuk di dalamnya ada batu bara, pada periode Januari - September 2021 tercatat sebesar US$ 21,54 miliar atau setara dengan 13,85% dari total ekspor non migas.

Kenaikan harga batu bara dunia juga memicu naiknya Harga Batubara Acuan (HBA).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menetapkan HBA untuk Oktober 2021 sebesar US$ 161,63 /ton. HBA bulan ini naik US$ 11,6 /ton dibandingkan bulan September 2021.

Kepala Biro Komunikasi layanan informasi publik dan kerjasama Kementerian ESDM, Agung Pribadi, menjelaskan kenaikan HBA dipengaruhi permintaan yang terus meningkat di Cina.

Cina, sebagai konsumen batu bara terbesar di dunia memang sedang mengalami krisis pasokan, di saat ekonominya membaik yang mendorong permintaan terhadap listrik meningkat. Apalagi, jelang akhir tahun masuk periode musim dingin secara historis akan meningkatkan permintaan dari Negeri Panda.

Di Cina, harga batu bara acuan Qinhuangdao di pasar spot naik 8,9% ke level RMB 1835 /ton. Ini menjadi bukti bahwa krisis pasokan global kompak mengerek harga batu bara dunia.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading