Bursa Asia Berakhir Cerah Bergairah, kok Shanghai Loyo?

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
14 October 2021 17:17
An investor takes a nap in front of a board showing stock information at a brokerage office in Beijing, China October 8, 2018. REUTERS/Jason Lee

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa Asia ditutup cerah bergairah pada perdagangan Kamis (14/10/2021), setelah investor menyikapi positif dari rilis data inflasi China dari sisi Indeks Harga Produsen (PPI) periode September 2021.

Indeks Nikkei Jepang ditutup melonjak 1,46% ke level 28.550,93, Straits Times Singapura menguat 0,36% menjadi 3.167,72, KOSPI Korea Selatan terbang 1,5% ke 2.988,64, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melesat 1,36% ke posisi 6.626,11.

Namun untuk indeks Shanghai Composite China ditutup turun 0,1% ke level 3.558,28 pada perdagangan hari ini, karena investor merespons negatif data inflasi dari sisi Indeks Harga Konsumen (IHK).


Sementara untuk indeks Hang Seng Hong Kong pada hari ini tidak dibuka karena sedang libur nasional.

Inflasi China dari sisi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada periode September 2021 tercatat turun menjadi 0,7% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sedangkan secara bulanan (month-on-month/MoM), IHK China tercatat turun ke level 0%.

Namun data inflasi China cenderung berbeda, di mana dari sisi harga produsen, inflasi China periode September tercatat melonjak 10,7% (YoY).

"Kami percaya bahwa setiap langkah kebijakan pendukung pertumbuhan akan ditargetkan dan spesifik, mengingat tekanan inflasi akan terbatas di antara produsen dan manufaktur," kata Xing Zhaopeng, ahli strategi senior China di ANZ, dikutip dari Reuters.

Namun, sebagian besar investor di Asia cenderung optimis pada hari ini, setelah dua indeks utama di bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street berhasil ditutup rebound pada perdagangan Rabu (14/10/2021) waktu AS.

Adapun dua indeks utama tersebut yakni indeks S&P 500 yang ditutupĀ 0,30%. Sementara indeks Nasdaq Composite ditutup melesa 0,73% pada penutupan perdagangan Rabu waktu AS atau dini hari tadi waktu Indonesia.

Dari AS, Risalah rapat bank sentral AS the Fed menunjukkan bahwa para pengambil kebijakan sepakat untuk mulai melakukan pengurangan pembelian obligasi atau tapering di pertengahan November atau pertengahan Desember, meskipun mereka tetap bersilang pendapat atas seberapa besar ancaman inflasi yang tinggi dan seberapa cepat mereka mungkin perlu menaikkan suku bunga.

Risalah pertemuan tersebut menunjukkan para anggota merasa The Fed telah hampir mencapai tujuan ekonominya dan segera dapat mulai menormalkan kebijakan dengan mengurangi laju pembelian aset bulanannya.

Sebelumnya, laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi AS dari sisi harga konsumen meningkat solid pada September, semakin memperkuat kasus kenaikan suku bunga Fed.

IHK AS periode September tercatat tumbuh 0,4% (MoM) dan 5,4% (YoY), lebih tinggi dari perkiraan ekonom dalam survei Dow Jones yang memperkirakan angka pertumbuhan sebesar 0,3% (MoM) dan 5,3% (YoY)

Sementara, inflasi inti tercatat naik 0,2% (MoM) dan 4% (YoY), atau relatif sama seperti perkiraan yang masing-masing berujung pada angka sebesar 0,3% dan 4%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading