Gokil IHSG Lanjut Menguat 1% & Tembus 6.600

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
14 October 2021 09:22
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melesat ke zona hijau pada perdagangan hari ini, Kamis (14/10/2021). IHSG bahkan melesat tembus level psikologis 6.600.

Pada 09.05 WIB, IHSG melesat 1,04% ke level 6.607. Sebanyak 224 saham menguat, 146 melemah dan 154 stagnan. Transaksi di awal perdagangan kembali tembus Rp 1,2 triliun. Asing belum juga bosan memborong saham domestik dengan net buy Rp 201 miliar.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi saham incaran asing dengan net buy masing-masing Rp 92 miliar dan Rp 17,4 miliar.


Sementara itu saham dengan net sell asing terbesar alias yang banyak dilego adalah saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Namun net sellnya tergolong kecil karena masing-masing hanya Rp 10,6 miliar dan Rp 4,7 miliar.

IHSG mampu tembus level psikologis bahkan di saat sentiment global cenderung negatif.

Sentimen dari luar negeri yang masih akan terus dipantau oleh investor adalah terkait kasus likuiditas perusahaan properti China, Evergrande, dan krisis energi yang melanda sejumlah negara.

MelansirReuters, Rabu (13/10), Krisis China Evergrande memicu putaran baru penurunan peringkat kredit.Kemarin, Evergrande kembali melewatkan pembayaran obligasi internasionalnya senilai US$ 150 miliar untuk ketiga kalinya dalam kurun waktu kurang dari sebulan.

Selain itu banyak pengembang properti lain yang juga menghadapi tenggat waktu pembayaran sebelum akhir tahun, senasib dengan Evergrande yang tampak semakin suram. Ini memicu kekhawatiran bahwa tekanan memicu dampak serius yang jauh lebih luas.

Selain itu, sentimen soal The Fed yang merilis risalah dari pertemuan kebijakan terakhirnya (FOMC) pada hari Kamis dini hari (01.00 WIB).

Berdasarkan risalah tersebut, para gubernur bank sentral AS mengisyaratkan bahwa mereka dapat mulai mengurangi dukungan era krisis untuk ekonomi alias melakukan tapering secara bertahap pada pertengahan November, meskipun mereka tetap bersilang pendapat atas seberapa besar ancaman inflasi yang tinggi dan seberapa cepat mereka mungkin perlu menaikkan suku bunga.

Risalah pertemuan tersebut menunjukkan, para anggota merasa The Fed telah hampir mencapai tujuan ekonominya dan segera dapat mulai menormalkan kebijakan dengan mengurangi laju pembelian aset bulanannya.

The Fed sendiri selanjutnya akan melakukan pertemuan pada 2-3 November 2021.

Dalam proses yang dikenal sebagai tapering ini, The Fed akan mengurangi pembelian obligasi senilai US$ 120 miliar per bulan secara bertahap. Risalah menunjukkan, bank sentral mungkin akan mulai denganmemangkas US$ 10 miliar pembelian obligasi (Treasury) dan US$ 5 miliar pembelian mortgage-backed securities (MBS) atau efek beragun aset KPR.The Fed saat ini membeli setidaknya US$ 80 miliar di Treasury dan US$ 40 miliar di MBS.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading