BPJS-TK & Dapen Belanja Saham, IHSG Bakal Kuat di Atas 6.500

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
14 October 2021 08:49
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal tahun menunjukkan tren penguatan sebesar 9,33% ke level psikologis 6.500. Investor institusi seperti asuransi dan pengelola dana pensiun mulai kembali memperbesar portofolio mereka instrumen saham, terutama yang berbasis indeks LQ-45.

Berdasarkan data BEI, di Asia Tenggara, kinerja IHSG masih lebih baik dari bursa saham Malaysia dan Filipina yang terkoreksi 1,83% dan 0,99% sejak awal tahun. Hanya saja, kinerja IHSG masih sedikit di bawah bursa Singapura dan Thailand yang menguat 11,05% dan 13,41%.

Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia, Suheri mengungkapkan, saat ini dana pensiun fokus menempatkan alokasi investasi saham di indeks LQ-45. Secara porsi, berdasarkan data sampai dengan akhir Desember 2020, porsi investasi saham dapen mencapai 10,51%, disusul 6% reksa dana.


Lainnya ditempatkan di Surat Berharga Negara sebesar 25%, obligasi korporasi 20%, sisanya di deposito dan instrumen lainya seperti obligasi untuk pembiayaan infrastruktur.

"Dari tahun ke tahun saham itu pada praktiknya, alokasinya tidak berubah, kita lebih berinvestasi dengan horison jangka panjang," kata Suheri, kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/10/2021).

Suheri menyatakan, setiap ada fluktuasi di pasar, perusahaan dana pensiun tetap berpengang pada arahan investasi (guidance) yang berlaku yang baru bisa diubah jika ada persetujuan dewan pengawas.

"Tidak ada perubahan signifkan setiap pergerakan di pasar, kalau ikutin pasar, malah nanti tidak bisa memenuhi kebutuhan liabilitas jatuh tempo," katanya.

Dia meyakini, dengan portofolio mix yang ada saat ini, potensi keuntungan dari hasil investasi dapen akan mencapai 7-8%, utamanya ditopang oleh SBN yang menawarkan bunga cukup tinggi pada tenor-tenor yang lebih lama.

"Kita lebih ke pemenuhuhan liabilitas dalam jangka panjang, untuk saham, lebih banyak di LQ-45, sekarang diperluas ke IDX-80. Untuk SBN wajib, karena masih ada ketentuan minimum 30%," ucapnya.

Sementara itu, BPJS Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek menyatakan berpeluang kembali memperbesar porsi investasinya di pasar modal, terutama saham jika kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus membaik.

Direktur Pengembangan Investasi BP Jamsostek Edwin Michael Ridwan mengatakan, saat ini perusahaan terus memantau pergerakan di pasar modal. Pasalnya, seiring dengan vaksinasi yang terus massif dilakukan, kepercayaan investor kembali berinvestasi di pasar modal akan kembali pulih seiring membaiknya perekonomian.

"Kalau kami lihat prospeknya membaik, tentunya juga akan menyesuaikan, kami melihat bahwa dengan vaksinasi meluas dan cukup berhasil, tahun depan vaksinasi bisa 80% populasi, dengan kondisi itu prospek ekonomi akan membaik," kata Edwin, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Selasa (15/9/2021).

Dengan membaiknya perekonomian, pasar modal sebagai salah satu indikatornya menurut Edwin akan kembali menarik sebagai tempat untuk berinvestasi.

"Investor pasar saham akan mulai masuk lagi. Kami pun memperhatikan kondisi tersebut dan tidak menutup kemungkinan bahwa kami akan ikut kembali menempatkan investasi kami di pasar saham kalau prospeknya semakin baik," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading