Internasional

Ngeri! China Bersiap 'Badai' karena 'Kematian' Evergrande

Market - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
24 September 2021 07:23
FILE PHOTO: Hui Ka Yan, chairman of Evergrande Real Estate Group Ltd, the country's second-largest property developer by sales, attends a news conference on annual results in Hong Kong, China March 29, 2016.      REUTERS/Bobby Yip/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis utang yang menimpa Evergrande membuat China ketar-ketir. Kini otoritas Negeri Tirai Bambu meminta pejabat lokal mempersiapkan diri soal 'kemungkinan badai' jika 'kematian' perusahaan real estat raksasa itu terjadi.

Hal ini terungkap dalam laporan The Wall Street Journal (WSJ), Kamis (23/9/2021). Pemerintah Xi Jinping juga mengatakan pejabat lokal hanya boleh turun tangan pada menit terakhir untuk mencegah efek domino kasus.


Laporan WSJ menunjukkan kemungkinan pemerintah pusat masih memiliki keinginan untuk menyelamatkan Evergrande, terlepas dari implikasi globalnya. Kekhawatiran soal Evergrande yang tak bisa membayar utang telah meningkat beberapa minggu terakhir dan menjadi biang keladi aksi jual di seluruh pasar dunia, Senin lalu.

Perusahaan sendiri dalam update terbarunya mengaku telah membayar obligasi lokal Rabu kemarin. Ini membuat pasar di Asia sedikit tenang meski tidak jelas kapan perusahaan membayar bunga obligasi luar negerinya yang jatuh tempo kemarin.

Sebelumnya pekan lalu, Al Jazeera juga melaporkan isu turun tangannya pemerintah Beijing. Disebut, pusat telah mengumpulkan sekelompok ahli akuntansi dan hukum untuk memeriksa keuangan raksasa properti China Evergrande Group.

Regulator di Provinsi Guangdong, markas Evergrande, disebut telah mengirim tim dari King & Wood Mallesons. Ini firma hukum yang spesialisasinya mencakup restrukturisasi.

Selain itu, atas perintah China, mereka juga mengirimkan penasihat keuangan dan akuntan tambahan untuk menilai pengembang. Namun hingga kini belum ada sumber resmi pemerintah yang berkomentar lagi.

Kebangkrutan Evergrande berpotensi menjadi tsunami finansial atau seperti yang dikatakan beberapa analis, "Lehman Brothers China".Evergrande sendiri mengalami ancaman gagal bayar senilai US$ 300 miliar atau Rp 4 ribu triliun (asumsi Rp 14.200/US$).

Analis menyebut hal ini terjadi lantaran perusahaan properti kedua terbesar China itu terlalu banyak meminjam uang saat penjualan sektor properti sedang cukup bermasalah.Arus kas berada di bawah "tekanan yang luar biasa".


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading