Volatilitas Meningkat, Dow Futures Melemah

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
17 September 2021 19:42
Trader Timothy Nick works in his booth on the floor of the New York Stock Exchange, Thursday, Jan. 9, 2020. Stocks are opening broadly higher on Wall Street as traders welcome news that China's top trade official will head to Washington next week to sign a preliminary trade deal with the U.S. (AP Photo/Richard Drew)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks bursa Amerika Serikat (AS) tertekan pada Jumat (17/9/2021), di tengah makin meningkatnya periode volatilitas September.

Kontrak futures indeks Dow Jones Industrial Average melemah 82 poin dari nilai wajarnya. Kontrak serupa indeks S&P 500 dan Nasdaq juga melemah, masing-masing sebesar 0,3% dan 0,2%. Saham Moderna menjadi pengerem koreksi, setelah menguat di sesi pra-pembukaan menyusul rilis data yang menunjukkan bahwa vaksinasi sangat krusial menjegal virus Covid-19.

Indeks S&P 0 setiap September turun rata-rata 0,4%, menjadi bulan terburuk, menurut Almanac terbitan Stock Trader's. Pemicu volatilitasnya adalah masuknya periode kedaluwarsa kontrak berjangka saham opsi, dan lainnya.


"Kami memperkirakan volatility akan meningkat bulan depan didorong oleh kenaikan musiman terkait ketakpastian investor, berlanjutnya ketakpastian virus, dan katalis kebijakan fiskal dan moneter yang signifikan," tulis John Marshall, Kepala Riset Derivatif Goldman Sachs, dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

Menurut catatan, lanjut dia, volatilitas S&P 500 biasanya meningkat 27% pada September, dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Namun, Wall Street memasuki Jumat ini dengan masih membukukan reli meski tipis.

Dow Jones naik 0,41% dan S&P 500 tumbuh 0,34% sepanjang pekan berjalan. Nasdaq menguat 0,44% sepanjang pekan setelah selama sebulan berada di zona merah. Sepanjang bulan berjalan, Dow Jones turun 1,7%, S&P 500 drop 1,1% dan terpaut 1,6% dari rekor tertingginya, sementara Nasdaq turun 0,5%.

Pada Kamis kemarin, Dow Jones turun 63 poin, setelah sempat anjlok hingga 274 poin. Indeks S&P 500 turun 0,16%, Nasdaq masih menguat tipis, sebesar 0,13% didorong saham Netflix, Microsoft dan Amazon yang kompak menghijau.

Pemerintah AS merilis penjualan ritel per Agustus yang naik 0,7% (bulanan). Angka itu membalik estimasi ekonom dalam konsensus Dow Jones yang memprediksi pelemahan 0,8% (bulanan). Artinya, terjadi kenaikan belanja di sana sehingga inflasi berpeluang menguat dan membuat bank sentral AS kian percaya diri melakukan kebijakan tapering lebih cepat.

Namun, pasar masih menilai peluang percepatan tapering (pengurangan pembelian surat utang di pasar sekunder) masih tergerogoti oleh data pengangguran yang masih buruk. Klaim tunjangan pengangguran AS pekan lalu tercatat 332.000, atau lebih buruk dari prediksi ekonom dalam polling Dow Jones yang memperkirakan angka 320.000.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading