Bocoran BEI: Ada Perusahaan Raksasa Mau IPO, Apakah GoTo?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
16 September 2021 11:45
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkirakan pada tahun depan akan ada perusahaan yang mencatatkan saham perdana di bursa dengan nilai emisi jumbo.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna Setia menyampaikan, ada sejumlah katalis positif bagi pasar modal domestik akan lebih bergairah pada tahun depan.

Di antaranya, indikator rata-rata nilai transaksi harian (RNTH), dan jumlah investor mengalami pertumbuhan positif di tahun 2021. Pada tahun depan, BEI bahkan menargetkan, nilai rerata transaksi harian akan meningkat menjadi Rp 13,5 triliun per hari dari target sepanjang tahun ini sebesar Rp 12 triliun.


Selain itu, kata Nyoman, dengan adanya sentimen positif terkait perkembangan ekonomi global maupun domestik dari para pelaku pasar modal, serta dukungan dan komitmen dari regulator-regulator terkait.

"Kami optimis kegiatan IPO di tahun depan akan lebih promising," kata Nyoman kepada awak media.

Sementara itu, Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa, Laksono Widodo mengungkapkan, ada tiga faktor utama yang berpotensi mendorong kenaikan nilai transaksi harian di bursa.

Pertama, pemulihan ekonomi setelah pandemi Covid-19 di tahun 2022. Kedua, semakin maraknya transaksi oleh investor ritel. Terakhir adalah IPO perusahaaan dengan emisi besar di tahun depan.

"Nilai transaksi tahun depan target Rp 13,5 triliun," kata Laksono.

Berdasarkan data BEI, sampai dengan 14 September 2021, sebanyak 38 IPO saham telah dicatatkan di bursa dengan perolehan dana sebesar Rp 32,1 triliun. Saat ini masih terdapat 25 perusahaan yang masuk dalam pipeline pencatatan saham.

Seperti diketahui, GoTo berpotensi menjadi salah satu perusahaan yang akan meraih emisi jumbo dan telah menyampaikan rencananya untuk melantai di bursa saham.

GoTo dikabarkan akan menunda rencana penawaran umum perdana saham menjadi tahun 2022 sembari menanti selesainya aturan mengenai kebijakan dual class of shares dan klasifikasi saham dengan hak suara multipel atau multiple voting share (MVS) dan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading