Mau Tahu Pandangan Asing Terhadap IPO GoTo Dkk? Mari Simak

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
10 September 2021 15:40
Mitra GoTo untuk layanan GoKilat atau GoSend Same Day Delivery (SMD) melakukan aksi mogok kerja dengan cara off bid secara massal di kawasan Kemang, Selasa, (8/6). Mogok massal tersebut dilakukan karena pihak GoTo mengubah insentif para kurir/driver secara sepihak. Ia mengatakan perubahan skema insentif GoSend FMD tersebut juga melanggar ketentuan perundang-undangan di Indonesia. Pasalnya, Undang-Undang nomor 20 tahun 2008 tentang Kemitraan tidak membolehkan adanya keputusan sepihak tetapi melalui perundingan bersama yang menguntungkan para pihak yang bermitra. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Minat terhadap perusahaan rintisan atau startup di Asia Tenggara tumbuh karena investor berusaha memanfaatkan potensi besar untuk memburu IPO raksasa berikutnya di kawasan ini.

Akan tetapi rasa lapar tersebut bisa jadi tidak terpuaskan untuk beberapa waktu ke depan, menurut mitra pengelola salah satu perusahaan modal ventura tahap awal (early stage VC), yang mengatakan beberapa perusahaan baru masih memutuskan untuk menunda go public.

Awal Agustus lalu, di Indonesia IPO raksasa berhasil dilaksanakan, dengan perusahaan e-commerce Bukalapak mampu memperoleh dana segar hingga Rp 22 triliun, terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia.


Meskipun demikian, beberapa perusahaan raksasa yang sebelumnya dikabarkan akan segera go public malah dirumorkan menunda keputusan tersebut, setidaknya tidak akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Merger raksasa Gojek dan Tokopedia, GoTo, dirumorkan mengundur rencana IPO hingga tahun depan, sementara menurut sumber Bloomberg, Traveloka disebut-sebut batal IPO di Wall Street via SPAC.

"Tentu saja ada perusahaan dalam portofolio kami yang diminta [untuk go public], tetapi mereka [perusahaan] belum berselera," Vinnie Lauria dari Golden Gate Ventures mengatakan kepada CNBC Internasional.

Asia Tenggara telah menjadi subjek hiruk pikuk investasi pada tahun 2021, dikabarkan berhasil mengumpulkan US$ 6 miliar atau setara dengan Rp 87 triliun (kurs Rp 14.500/US$) pada kuartal pertama tahun ini. Pengumuman IPO dari Grab, GoTo dan serta suksesnya penawaran perdana Bukalapak mampu memicu kepercayaan baru di kawasan ini.

Tetapi Lauria mengatakan bahwa beberapa perusahaan dalam portofolionya telah menolak atau menunda berbagai penawaran untuk go public - baik melalui SPAC atau IPO langsung - karena mereka mengatakan belum berada pada tingkat kematangan yang tepat, dan lebih memilih untuk mempersiapkan diri.

Satu hal yang pasti, pencatatan publik tentu akan membuka akses pengawasan yang lebih tinggi dari para investor, di samping juga tuntutan pelaporan secara reguler. Lauria, yang portofolionya mencakup bisnis iklan jual beli barang bekas online Carousell dan platform jual beli mobil bekas Carro, menolak menyebutkan nama perusahaan mana secara spesifik, tetapi dia mengatakan dua dari start-up mereka memiliki valuasi di atas atau mendekati US$ 1 miliar (Rp 14,5 triliun).

Berhati-hati
Asia Tenggara saat ini menjadi rumah bagi sekitar 20 unicorn - perusahaan rintisan dengan valuasi US$ 1 miliar atau lebih - perusahaan rintisan teknologi di kawasan ini diperkirakan akan bernilai US$ 1 triliun (Rp 14.500 triliun) pada tahun 2025.

Beberapa sudah menyatakan rencana mereka untuk go public. Sementara yang lain lebih mawas diri. Lauria mengatakan, bagaimanapun, 2022 dapat menandai titik balik, dengan hampir setengahnya berpotensi terdaftar sebagai perusahaan publik tahun depan.

"Untuk 20 atau lebih unicorn di Asia Tenggara, kita mungkin akan melihat delapan dari mereka mengambil jalan untuk go public tahun depan," katanya.

Keragu-raguan beberapa pendiri untuk segera melakukan IPO mungkin bertentangan dengan misi VC untuk segera keluar, ketika investasi terealisasi dan dapat diuangkan. Tapi Lauria mengatakan dia melihat untuk jangka panjang. Lagi pula, seperti kata pepatah, "satu apel yang busuk akan merusak yang lainnya."

"Jika kita memiliki dua kegagalan besar, hal tersebut benar-benar dapat membuat orang-orang menjauh dari pasar Asia Tenggara selama 10 tahun karena mereka kehilangan banyak uang di kawasan ini," katanya.

"Mari kita ambil langkah yang lebih pelan sembari memastikan perusahaan yang sampai di sana [IPO] memiliki kualitas yang fenomenal. Saya kira dalam jangka panjang, itu akan jauh lebih baik," kata Lauria.

Game Changer
Walaupun demikian, prospek perusahaan rintisan di Asia Tenggara tampak semakin menjanjikan, menurut Lauria, yang mengatakan kawasan ini kini memasuki tahap pertumbuhan berikutnya dengan munculnya pendiri startup generasi kedua.

"Kami baru mulai melihat tanda-tanda awal dari generasi kedua. Tetapi ketika itu terjadi, saya pikir itu cukup mampu untuk mengubah permainan, "kata Lauria.

Biasanya, satu generasi dalam istilah start-up berlangsung selam tujuh sampai delapan tahun, dalam waktu tersebut, pengalaman dan teknologi berkembang. Tidak hanya meningkatkan kualitas start-up dan tim yang kian kaliber, tetapi juga jumlah modal yang bisa mereka kumpulkan.

"Beberapa waktu ke belakang terdapat perbedaan besar dalam pengalaman di Asia Tenggara versus pasar seperti AS. Sekarang, banyak yang berubah," lanjut Lauria, yang memulai bisnisnya di Singapura pada 2011.

"Memiliki generasi kedua yang kuat sudah terlihat memberi saya banyak kepercayaan diri untuk 10 tahun ke depan," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading