Internasional

Rajin Jualan Aset Kripto, Ternyata Ini Rencana Besar DBS!

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
14 September 2021 09:25
Gedung Bank DBS

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank terbesar di Singapura dan Asia Tenggara dari sisi aset, DBS Group menargetkan jumlah anggota atau member pada platform baru perdagangan mata uang kripto (cryptocurrency) DBS Digital Exchange menjadi 1.000 pada akhir Desember ini.

Sementara itu, target dalam 3 tahun ke depan jumlah member akan naik 20%-30% setiap tahun seiring dengan maraknya token digital dari investor dan publik.

Akhir tahun laluDBS Bank Singapura (DBS) mengumumkan peluncuran pertukaran aset digital lewat DBS Digital Exchange, yang memungkinkan investor institusional dan investor terakreditasi untuk memanfaatkan ekosistem tokenisasi, perdagangan, dan kustodi yang terintegrasi penuh untuk aset digital.


Pertukaran mata uang digital berupa perdagangan cryptocurrency akan memfasilitasi pertukaran mata uang fiat ke mata uang kripto dan sebaliknya.

DBS Digital Exchange akan menawarkan layanan pertukaran antara empat mata uang fiat (SGD, USD, HKD, JPY), dan empat mata uang kripto, yaitu Bitcoin, Ether, Bitcoin Cash, dan XRP.

Dilansir Reuters, dalam sebuah wawancara, Eng-Kwok Seat Moey, Kepala Pasar Modal di DBS, mengatakan DBS Digital Exchange, yang didirikan pada Desember lalu sebagai bursa dengan anggota khusus, melihat permintaan yang kuat dari investor korporat, individu terakreditasi, dan perusahaan investasi yang mengelola kekayaan dari keluarga kaya.

"Kami berkembang sangat pesat. Investor secara bertahap mengeksplorasi mata uang kripto dan aset digital," kata Eng-Kwok, yang juga merupakan Ketua Bursa Digital DBS.

Masuknya DBS dalam bisnis kripto datang setelah CEO-nya Piyush Gupta mengarahkan bank untuk menginvestasikan miliaran dolar demi meningkatkan infrastruktur teknologi selama 8 tahun terakhir karena perusahaan ikut terjun dalam komputasi awan (cloud computing) serta melakukan digitalisasi layanan.

DBS Digital Exchange menyebut dirinya sebagai satu-satunya bursa digital layanan penuh yang didukung oleh bank di dunia - menawarkan perdagangan mata uang kripto, tokenisasi aset, dan layanan penyimpanan digital di sektor kripto, di mana kepercayaan investor masih rendah.

Popularitas mata uang kripto yang melonjak telah menimbulkan masalah bagi bank arus utama saat mereka mencoba dan menyeimbangkan minat klien pada koin digital dengan kekhawatiran aturan terkait risiko yang dihadapi.

Standard Chartered dikabarkan sedang mendirikan usaha patungan untuk mendirikan broker mata uang kripto dan platform pertukaran digital di Inggris dan Eropa, sementara HSBC mengatakan tidak memiliki rencana untuk menawarkan mata uang digital kepada pelanggan di pasar tersebut.

Eng-Kwok mengatakan posisi DBS sebagai salah satu pengelola kekayaan terbesar di Asia dan keahliannya dalam memulai transaksi di pasar modal akan membantu menarik pengguna dan meningkatkan volume perdagangan mereka.

Langkah ini dilakukan pada saat DBS - dan juga bank lainnya - ingin meningkatkan pendapatan berbasis biaya karena pendapatan bunga bersih menurun di tengah kebijakan suku bunga rendah.

Eng-Kwok mengatakan bursa berharap untuk mendaftarkan setidaknya setengah lusin token keamanan pada akhir 2022.

Token keamanan adalah jenis aset kripto unik yang dirancang untuk memvalidasi dan memastikan hak kepemilikan dan berfungsi sebagai instrumen transfer nilai untuk aset, bundel aset, atau serangkaian hak tertentu.

Bank sentral Singapura (MAS, Monetary Authority of Singapore) mengatur bisnis crypto di bawah kerangka peraturan baru yang mulai berlaku pada Januari 2020.

Bisnis perantara perdagangan efek DBS telah menerima persetujuan prinsip di bawah aturan baru, yang akan memungkinkannya untuk secara langsung mendukung manajer aset dan perusahaan untuk memperdagangkan token pembayaran digital melalui bursa digital DBS.

Bursa Efek Singapura memiliki 10% saham dalam bursa digital milik DBS.

"Memiliki bank arus utama membantu memupuk lingkungan di mana risiko penyelesaian minimal dan ada perlindungan terhadap simpanan pengguna dan keamanan transaksi," kata Ganesh Viswanath-Natraj, asisten profesor keuangan di Warwick Business School di Inggris.

Pekan lalu, Binance, salah satu bursa cryptocurrency terbesar di dunia, mengatakan akan membatasi layanannya di Singapura, beberapa hari setelah bank sentral menyuruhnya untuk berhenti menawarkan layanan pembayaran.

"Tujuan kami adalah menciptakan platform yang dapat melayani seluruh rantai nilai aset digital, mulai dari awal kesepakatan hingga tokenisasi, pencatatan, perdagangan, dan penyimpanan - semuanya dalam layanan dari bank, yang terpercaya dan teregulasi," kata Kwee Juan Han, Group Head strategi dan perencanaan di DBS.

Han mengatakan tren perusahaan yang mengeksplorasi opsi penggalangan dana melalui tokenized assets, dan meningkatnya minat investor swasta untuk memperluas pangsa aset digital dalam portofolio, memberikan kesempatan dan waktu yang tepat untuk DBS meluncurkan bursa digital.

Dia mengatakan DBS mengharapkan bisnis barunya, termasuk pertukaran digital dan perdagangan karbon untuk menghasilkan total pendapatan sebesar SG$ 350 juta atau setara dengan Rp 3,71 triliun (kurs Rp 10.621/SG$) pada akhir tahun depan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Aturan Aset Kripto Diperketat, Harga Bitcoin Terjun Bebas


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading