Nilai Transaksi Drop, ke Mana Investor Ritel Angkatan Corona?

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
14 September 2021 08:30
Suasana seminar yang bertajuk kemudahan Investasi Pasar Modal di Era Ekonomi Digital di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/8). Seminar ini diisi oleh pembicara dari Ady F. Pangerang, Presiden Direktur Bareksa.com, Samuel Sentana, Head of Fintech Tokopedi, dan Destya Danang Pradityo, Head of Financial & Payment Services BukaLapak. Seminar ini merupakan satu rangkaian dari acara Investor Summit 2018. Dalam seminar ini selain menginformasikan bahwa pembelian reksa dana telah dapat dilakukan melalui aplikasi dari kedua perusahaan, Bareksa, Tokopedia, dan BukaLapak juga membeberkan rencana untuk lebih membuka akses dan kemudahan masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdagangan Senin (13/9) kemarin ditutup dengan Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) tercatat mengalami pelemahan 0,11% ke level 6.088,16. Selain IHSG masih tertekan, nilai transaksi harian juga ikut mengalami penurunan dengan total nilai transaksi hanya sebesar Rp 9,12 triliun.

Sebelumnya pada pekan lalu (6-10 September 2021) total nilai transaksi saham adalah sebesar Rp 55,48 triliun sedangkan secara keseluruhan total transaksi di pasar modal mencapai Rp 56,24 atau rata-rata nilai transaksi mencapai Rp 11,25 triliun.

Angka ini masih berada di bawah rata-rata nilai transaksi harian sejak awal tahun lalu, yang tercatat berada di angka Rp 13,06 triliun.


Jika dilirik dalam beberapa pekan terakhir, sejak awal Agustus lalu total nilai transaksi di bursa mengalami tren penurunan. Pada minggu pertama Bulan Agustus (2-6 Agustus) total seluruh transaksi di pasar modal mencapai Rp 75,65 triliun atau rata-rata harian mencapai Rp 15,13 triliun.

Pada minggu kedua (9-13 Agustus) total transaksi turun menjadi Rp 62,64 triliun, salah satunya diakibatkan oleh tutupnya pasar modal satu hari karena libur nasional perayaan tahun baru Islam. Pada pekan kedua rata-rata transaksi harian mencapai Rp 15,66 triliun.

Selanjutnya pekan ketiga (16-20 Agustus) pasar modal juga sempat libur satu hari dalam rangka perayaan kemerdekaan RI, total transaksi mencapai Rp 55,92 triliun atau rata-rata harian turun menjadi Rp 13,98 triliun. Pada pekan keempat (23-27 Agustus) total transaksi kembali jeblok, bahkan semakin parah, turun menjadi Rp 48,14 triliun atau per hari hanya mencapai Rp 9,63 triliun.

Pada pekan kelima bulan Agustus yang juga beririsan dengan pekan pertama bulan September (30 Agustus sampai 3 September) total transaksi mengalami perbaikan, naik menjadi Rp 55,32 triliun atau rata-rata harian berada di angka Rp 11,06 triliun. Sedangkan pekan lalu total transaksi naik tipis menjadi Rp 56,24 triliun seperti disebutkan di atas.

Rata-rata transaksi harian pada setiap pekan sejak awal Agustus masih lebih tinggi dari total transaksi harian pada penutupan perdagangan Senin (13/9), apa yang sebenarnya terjadi dengan pasar modal dan ke mana para investor ritel hengkang?

Tentu terdapat banyak faktor yang bisa menyebabkan perdagangan sepi, seperti berpindahnya investor retail ke instrumen investasi lain seperti surat utang atau bahkan beralih ke aset kripto.

Tercatat empat dari lima mata uang kripto dengan kapitalisasi terbesar yaitu bitcoin, ethereum, cardano dan binance mengalami reli peningkatan harga sejak awal bulan Agustus sebelum kompak nyungsep lebih dari 10% sejak pekan lalu, berdekatan dengan pengumuman El Salvador menjadi negara pertama yang mengadopsi aset kripto sebagai alat tukar yang sah.

Selain itu, penurunan yang terjadi di pasar saham belakangan ini bisa juga terjadi karena minimnya sentimen positif di pasar modal dan banyak investor yang nyangkut selepas tren transaksi saham yang ramai pada awal bulan lalu yang berimbas transaksi bursa semakin sepi.

Dalam sebulan terakhir empat dari enam emiten yang mencatatkan nilai transaksi terbesar merupakan emiten dengan kapitalisasi besar, sedangkan lima dari enam emiten teratas ini dalam sebulan terakhir harga sahamnya mengalami penyusutan. Tercatat hanya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang tercatat positif, naik 2,26% dengan nilai transaksi mencapai Rp 10 triliun.

Sedangkan BBRI dalam sebulan melemah 2,17% total transaksi Rp 10,4 triliun, BUKA terkoreksi hingga 11,52% dengan total transaksi Rp 8,5 triliun, ARTO tercatat turun 8,01% dengan nilai transaksi Rp 6,8 triliun.

Sedangkan dua emiten lain degan kapitalisasi pasar menegah adalah BBYB yang turun 4,57% dengan total nilai transaksi Rp 6,2 triliun dan pelemahan terbesar terjadi di BABP yang turun 15,25% dalam sebulan dengan nilai transaksi mencapai Rp 5,0 triliun.

Pada perdagangan Senin (13/9), dua saham dengan nilai transaksi dan harga sahamnya paling tertekan dalam sebulan terakhir, yaitu BUKA dan BABP, absen dalam daftar 10 saham dengan paling aktif dengan nilai transaksi terbesar.

Sebenarnya IHSG tidak melemah sendiri kemarin, Straits Times Singapura tertekan lebih dalam atau mencapai 0,79%, sedangkan Hang Seng Hong Kong lebih parah lagi, ditutup ambles 1,5%. Adapun Indeks Nikkei Jepang, Shanghai Composite China dan KOSPI Korea Selatan ditutup menguat.

Penurunan tajam juga terjadi di Wall Street. Ketiga indeks utama di bursa saham Amerika Serikat (AS) mencatat kinerja negatif. Indeks S&P 500 merosot 1,69%, Dow Jones tertekan 2,15%, dan Nasdaq minus 1,6%. Sedangkan dari Benua Eropa Indeks DAX 30 Jerman dan FTSE 100 masing-masing turun 1,09% dan 1,53%.

Tidak dapat ditentukan secara pasti penyebab turunnya nilai transaksi bursa, akan tetapi investor harus tetap optimis mengingat masih terdapat emiten baru yang akan segera melantai di bursa. Dari 53 target IPO baru yang dicanangkan oleh BEI, hingga 13 September baru 38 yang terlaksana, berarti masih tersisa 23 calon emiten baru yang berpeluang dicatatkan di lantai bursa. Setidaknya fakta tersebut diharapkan mampu menaikkan nafsu investor retail untuk kembali menyemarakkan bursa saham Indonesia.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading