IHSG Susah Tembus 6.200, Dapen Ungkap Biang Keroknya!

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
09 September 2021 07:01
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) buka suara soal masih jebloknya laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup ambles 1,41% di 6.026 pada perdagangan Rabu kemarin (8/9/2021) seiring dengan belum baiknya sentimen di pasar modal Indonesia.

Dalam sebulan terakhir indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) ini memang melorot 1,66%. Data BEI menunjukkan, pada Rabu kemarin, nilai transaksi mencapai Rp 12,08 triliun dengan volume perdagangan 24,55 miliar saham.

Investor asing tercatat jualan (net sell) sebesar Rp 645 miliar di pasar reguler dalam sehari, kendati sebulan terakhir masih tercatat asing net buy sebesar Rp 4,98 triliun di pasar reguler.


Ketua ADPI, Suheri, mengungkapkan sejumlah alasan mengapa laju IHSG saat ini tampak terseok-seok tak mampu menyentuh level psikologis 6.200.

Pertama, investor asing belum banyak masuk ke pasar saham domestik seiring dengan adanya sinyal tapering (pengurangan pembelian obligasi oleh bank sentral AS, the Fed).

Belum masuknya investor asing, yang biasanya ke saham-saham unggulan yang menopang IHSG, membuat pergerakan saham emiten berkapitalisasi besar itu kalah harga dengan saham berkapitalisasi pasar rendah. 

"Asing ini kan tergantung sentimen global, dan sentimen global selalu ada, gak cuma tapering saja," katanya dihubungi CNBC Indonesia, Rabu kemarin (8/9/2021).

Kedua, dominasi investor ritel di pasar modal Indonesia. Saat ini Suheri mengatakan kenaikan jumlah investor ritel memang sangat signifikan sehingga cukup dominan di pasar.

Hanya saja, tipe investor ritel ini adalah short term, jangka pendek, cenderung trading dalam mencari cuan jangka pendek di saham-saham non LQ-45.

Horizon investasi di saham ini berbeda dengan investor asing yang bertipe jangka menengah panjang dan membeli saham-saham fundamental baik yang tergabung di LQ45, indeks berisi 45 saham paling likuid berkinerja baik di BEI.

"Asing belum banyak masuk, kalau ritel itu kan cari oppurtunity, bukan jangka panjang, apalagi anak muda milenial, dia trader juga, bergerak ke saham yang menguntungkan dia ambil. Kalau investor institusi kan dia waktunya lama [horizon investasinya]," kata Suheri dari Dapen Astra ini.

"Maka ketika ritel itu trader, dia cari saham-saham kapitalisasi kecil, dan saham teknologi, begitu untung akan lepas. Sementara institusi pegang saham-saham unggulan di LQ45, jadi wajar kenapa IHSG gak gerak karena saham-saham gede ketinggalan harganya. Saham-saham gede ini investasinya asing, sementara mereka masih di luar [belum masuk RI]," jelasnya.

Menurut Suheri, setiap ada kebijakan luar negeri di AS, biasanya asing akan melakukan rebalancing dan keluar sementara.

"AS ada tapering dan segala macam, suku bunga, umumnya setiap ada perubahan. Keluar dulu asing, saya perhatikan dari dulu belum 100 persen asing masuk, masuk pun sedikit," katanya.

Namun Suheri optimistis di akhir tahun gerak IHSG akan lebih meningkat lagi mengingat tren di Desember selalu lebih tinggi dari awal tahun.

"Jelang akhir tahun polanya akan sana, akhir tahun akan berubah [IHSG]," katanya.

Saat ini porsi investasi para anggota ADPI yakni dana pensiun pemberi kerja (DPPK) setidaknya 5% di saham, berkurang dari tahun lalu sekitar 6%. Sementara menurut dia investor besar lainnya di pasar modal, seperti BPJS Ketenagakerjaan, sebetulnya bukan mengurangi porsi saham, lebih tepatnya tidak menambah porsi saham.

Akhir tahun lalu, Rabu (30/12/2020), IHSG ditutup melemah harian 0,95% ke level 5.979,07 dari hari sebelumnya. Data BEI menunjukkan, pada awal tahun 2020, IHSG sempat bertengger di level di atas 6300-an.

Saat Covid-19 masuk di Maret 2020, IHSG ambruk ke level terendah sepanjang masa pada Maret 2020 di posisi 3.911,72. Jika menghitung dari level terendah Maret tersebut, IHSG di Desember 2020 berhasil naik 52,85%.

Adapun, bila dibandingkan dengan akhir 2019 di posisi 6.299,54, IHSG pada akhir 2020 turun 5,09%.

Sementara itu, BEI mencatatkan penambahan sebanyak 1 juta investor saham baru sampai dengan 31 Agustus 2021.

Dengan penambahan tersebut, saat ini jumlah investor saham di BEI menjadi 2.697.832 single investor identification (SID) saham dan 6,1 juta investor secara keseluruhan di pasar modal Tanah Air (termasuk reksa dana dan obligasi).

SID adalah nomor identitas tunggal yang dikeluarkan oleh KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) kepada investor. Seorang investor hanya memiliki satu nomor SID dan menandakan pemiliknya telah terdaftar secara resmi sebagai investor di pasar modal.

Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi mengatakan, jumlah pertumbuhan investor saham baru meningkat pesat hanya dalam kurun waktu 8 bulan saja di tahun ini, yaitu meningkat hampir dua kali lipat dari pencapaian sebelumnya pada tahun 2020 yang berjumlah 590.658 SID baru.

"Optimalisasi digital yang dimulai sejak tahun 2019 serta dimaksimalkan pada tahun 2020 kemarin, yang kemudian dilanjutkan dengan sinergi serta kolaborasi bersama seluruh pemangku kepentingan pasar modal, telah menjadi kekuatan pengembangan investor pada tahun 2021 dan menjadi alasan utama bagi pesatnya peningkatan jumlah investor baru pada tahun ini," ungkap Inarno, dalam keterangan resmi, Kamis (2/9/2021).

Adapun per 6 Agustus lalu, jumlah SID pasar modal tercatat mencapai 9,6 juta SID jika ditambah dengan peserta Tabungan Perumahan Rakyat (TAPERA) yang sudah terhitung masuk ke dalam Sistem Multi Investasi Terpadu (S-MULTIVEST) KSEI, yang beroperasi sejak 10 Juni 2021.

Jadi jumlah 9,6 juta SID tersebut adalah gabungan dari investor saham, reksa dana, surat berharga negara (SBN), dan Tapera.

Rincian Data SID (per 6 Agustus 2021)


- Jumlah SID Efek 2.614.073

- SID Reksa Dana 5.230.329

- SID SBN 546.434

- SID TAPERA 3.985.320.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading