Harga Logam Dunia Rontok!

Market - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
08 September 2021 12:10
Tim Peneliti Fisika LIPI, Puspitek Tangerang Selatan berhasil mengembangkan masker kain disinfektor berlapis tembaga yang mampu membunuh virus Covid-19 dalam waktu 4 jam.  Jumat (10/7/20). CNBC Indonesia/Tri Susilo Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan riset pada masker kain sebagai upaya penanganan Covid-19 di Indonesia. Inovasi masker ini diperuntukan bagi masyarakat umum, bukan tenaga medis. Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI Deni Shidqi Khaerudini menyatakan, timnya sedang mengembangkan masker kain disinfektor berbasis lapisan tembaga yang diyakini anti Covid-19. Ini berdasarkan beberapa penelitian terkait tembaga sebagai anti-microbial agent. Penelitian tersebut di antaranya menunjukkan bahwa tembaga telah dikenal sebagai anti-microbial agent (agen anti mikroba) sejak zaman Mesir dan Yunani kuno, seperti untuk perawatan luka dan sterilisasi air. Selain itu, ditemukan terjadinya perusakan bakteri maupun virus akibat kontak dengan tembaga (contact killer), meski berbeda-beda tergantung jenis mikroorganisme. Secara umum, mekanisme perusakan terjadi dengan ion-ion tembaga yang mudah terlepas setelah bakteri atau virus menempel pada lapisan tembaga. Hal ini mengakibatkan kerusakan pada dinding sel dan degradasi DNA atau RNA, sehingga mikroba tidak mampu reproduksi yang berujung pada kematian sel tersebut. Terkait SARS-CoV-2 atau virus corona penyebab Covid-19, penelitian terbaru menunjukkan bahwa virus corona hanya mampu bertahan selama 4 jam di permukaan tembaga. Riset ini juga didasari efektivitas penyaringan (filter) mikroorganisme terhadap masker kain yang selama ini umum digunakan masyarakat untuk mencegah penularan Covid-19. Diketahui, virus corona berdiameter 0,065-0,125 mikron. Penelitian efektivitas filter masker kain didasarkan pada mikroorganisme B. Atrophaeus yang berdiameter 0,9-1,25 mikron. Hasilnya, masker kain satu lapis memiliki kemampuan filter 69,42 persen dan yang dua lapis sebesar 70,66 persen. Dengan demikian, jika dibandingkan dengan virus corona yang memiliki diameter 10 kali lipat lebih kecil dari bakteri B. Atrophaeus, maka kemampuan filter masker kain terhadap virus corona jauh lebih rendah. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Masker Berlapis Tembaga (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga logam untuk industri tumbang dalam sepekan terakhir. Penyebabnya adalah lemahnya permintaan dari pabrik-pabrik olahan logam akibat penyebaran virus corona varian delta di berbagai negara.

Berikut gerak logam yang digunakan sebagai industri sepekan terakhir mengacu indeks LME (London Metal Exchange):


logamSumber: LME

Berdasarkan data yang dihimpun Tim Riset CNBC Indonesia, logam dengan koreksi harga terdalam adalah timah yang ambles 5,83% dalam sepekan terakhir. Kemudian tembaga melemah 1,96% dan nikel turun 0,19%. 

Harga timah global anjlok dalam sepekan terakhir karena aktivitas tambangmulai kembali beroperasi. Yunnan Tin Group sebagai produsen Timah terbesar di dunia sudah memulai produksinya setelah vakum untuk perawatan tahunan.

Malaysia Smelting Corp, produsen terbesar ketiga di dunia, juga sudah memulai produksinya pada Agustus 2021 setelah menghentikan produksi selama 2 bulan sejak Juni 2021 karena lockdown dalam upaya menekan kasus Covid-19.

Kembali berproduksinya perusahaan pengolahan Yunnan Tin dan Malaysia Smelting Corp meningkatkan persediaan timah. Meningkatnya persediaan timah dapat menekan harga timah.

"Prospek untuk beberapa bulan ke depan harga timah masih dalam tekanan karena pasokan secara bertahap kembali," kata kepala penelitian AMT Tom Mulquenn, dikutip dari Refinitv.

Kelesuan Permintaan Sampai Banjir Bebani Harga Tembaga
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading