Ntap! Ini Produk Reksa Dana Paling Cuan, Ada Punya Anda?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
06 September 2021 17:37
Reksa Dana

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 2,47%, secara umum kinerja mayoritas indeks reksa dana konvensional berhasil tumbuh secara year to date (Ytd). Hanya indeks reksa dana saham (equity fund) saja yang mencatatkan kinerja negatif sejak awal tahun.

Mengacu pada laporan mingguan Infovesta, Senin (6/9/2021), indeks reksa dana pasar uang (money market fund) menjadi yang paling naik di antara yang indeks reksa dana konvensional lainnya, yakni sebesar 2,36%.

Kemudian, indeks reksa dana pendapatan tetap (fixed income fund) mengekor dengan menguat 1,74% dan reksa dana campuran (balanced fund) di posisi ketiga dengan terapresiasi 0,71%. Sementara, indeks reksa dana saham malah negatif 3,52%.


Seiring kinerja yang terbilang cukup positif tersebut, terdapat sejumlah produk reksa dana yang berhasil melesat secara Ytd (hingga 3 September 2021).

Berikut ini tabel 5 besar masing-masing produk reksa dana paling 'cuan' sejak awal tahun.

Sumber: Infovesta

Adapun, kinerja saham syariah melalui Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) mencatatkan performa negatif sebesar -1,26% secara ytd. Kemudian, kinerja indeks LQ45 dan Jakarta Islamic Indeks (JII) masih masing-masing masih mengalami penurunan yang cukup dalam, yakni masing-masing sebesar -6,52% dan -13,75%.

"Penurunan yang dalam pada kedua indeks tersebut disebabkan karena komposisi yang cukup besar pada sektor barang baku melalui kinerja IDX Sektor Barang Baku yang selama 6 bulan terakhir mengalami tekanan mencapai -13,56%," jelas Infovesta, dikutip CNBC Indonesia (6/9/2021).

Hal tersebutlah yang menyebabkan kinerja reksa dana saham konvensional sedikit lebih baik ketimbang reksa dana saham syariah.

Di sisi lain, reksa dana pendapatan tetap syariah berhasil mencatatkan kinerja sedikit lebih tinggi daripada reksa dana pendapatan tetap konvensional. Hal ini didukung oleh imbal hasil surat utang syariah yang cenderung lebih tinggi bila tinimbang dengan surat utang konvensional dengan kualitas kredit dan tenor yang sepadan.

Selain itu, Infovesta mencatat, terdapat beberapa sentimen positif yang mendukung pasar obligasi Indonesia, seperti tren penurunan kasus harian Covid1-9 yang diiringi dengan kenaikan tingkat vaksinasi di Tanah Air, tingkat inflasi per bulan Agustus yang masih stabil serta meredanya isu tapering oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed.

Selama sepekan ke depan, investor pasar obligasi masih menantikan data klaim pengangguran AS yang menjadi salah satu indikator kebijakan ekonomi Amerika yang juga dapat mempengaruhi pergerakan pasar obligasi Indonesia.

Infovesta menjelaskan, bagi investor yang memiliki jangka waktu investasi pendek hingga menengah masih dapat mempertahankan posisinya pada reksa dana pasar uang dan pendapatan baik konvensional maupun syariah karena kinerjanya yang tidak berbeda jauh.

"Berikutnya, bagi investor dengan jangka waktu investasi panjang dapat memanfaatkan momentum September effect atau tren penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada bulan ini untuk melakukan aksi averaging down atau buy on weakness reksa dana saham baik konvensional maupun syariah dengan tetap memperhatikan komposisi alokasi portofolio masing-masing produk reksa dana," pungkas Infovesta.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading