Pasokan Luber! Harga Minyak Mentah Gagal Naik Pekan Ini

Market - Putra, CNBC Indonesia
05 September 2021 13:23
PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) yang merupakan bagian dari Regional Jawa Subholding Upstream berhasil menyelesaikan pengeboran Sumur Eksplorasi Fanny-2 dengan status sebagai sumur penemu minyak dan gas bumi (Oil and Gas Discovery).

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah bergerak stagnan pada perdagangan pekan ini (30 Agustus-3 September). Setelah sempat melesat di awal pekan, harga emas hitam balik terkoreksi dan tak mampu bergerak banyak karena sentimen yang masih cenderung negatif.

Melansir data dari Refinitiv, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) pekan ini naik tipis 0,80% ke US$ 69,29/barel. Sementara minyak mentah jenis Brent merangkak turun tipis 0,12% ke US$ 72,61/barel.

Sejatinya, di awal pekan harga minyak sempat naik tajam karena fasilitas produksi di Amerika Serikat (AS) yang tutup sementara sebagai antisipasi serangan Badai Ida.


Badai kategori 4 ini membuat 94% fasilitas produksi lepas pantai (offshore) di Teluk Meksiko terpaksa berhenti sementara. Produksi yang hilang ditaksir mencapai 1,7 juta barel/hari.

Akan tetapi setelah kenaikan yang tajam, investor mulai mencari celah untuk mencairkan keuntungan. Tekanan jual ini membuat harga kontrak minyak terkoreksi.

Seperti diketahui, OPEC+ sepakat untuk menaikkan produksi sebanyak 400.000 barel/hari setiap bulannya. Kebijakan ini disepakati Juli 2021 dan berakhir Desember 2021.

Namun akibat pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) yang kembali mengganas dan pemberlakuan pembatasan mobilitas masyarakat di berbagai negara, permintaan energi malah turun.

Di Indonesia, misalnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi komponen energi pada Agustus 2021 adalah -0,02% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Sementara dibandingkan Agustus 2020 (year-on-year/yoy), terjadi inflasi -0.1%.

Bukannya inflasi, yang ada malah deflasi baik itu bulanan maupun tahunan. Ini menandakan permintaan bahan bakar minyak (BBM) sedang sangat rendah, karena pemerintah masih menerapkan kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

"Permintaan masih mengecewakan, terutama di Asia. Kami memperkirakan permintaan akan kembali ke level sebelum pandemi pada paruh kedua 2022," kata Amrita Sen, Co-Founder Energy Aspects, sebagaimana dikutip dari Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading