Bencana Lebih Besar dari Covid Ancam Bumi, Mau Kabur ke Mana?

Tech - Redaksi, CNBC Indonesia
04 September 2021 06:15
FILE - In this file photo taken on Monday, Aug. 2, 2021, Smoke from forest fires is seen over small town of Kysyl-Syr, Vilyuysky District, Sakha Republic also known as Yakutia, Russia Far East. Wildfires in Russia's vast Siberia region are endangering several villages and prompted evacuations and other emergency precautions. Officials said 93 active forest fires burned across 1.1 million hectares (2.8 million acres) of Sakha-Yakutia in northeastern Siberia. (AP Photo/Nikolay Petrov, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jika ada yang mengira pandemi Covid-19 sebagai ancaman paling mengerikan untuk Bumi ternyata salah. Sebab ada perubahan iklim (climate change), yang dikatakan Bill Gates menjadi ancaman yang lebih seram dari penyebaran virus Covid-19.

Bill Gates menyebut perubahan iklim sulit untuk diatasi dibanding mengakhiri pandemi. Masalah itu bisa berdampak lebih buruk dari yang terjadi pada penyebaran virus seperti kematian dan ekonomi yang lumpuh.


Bahkan menurutnya bisa memecahkan masalah perubahan iklim merupakan hal menakjubkan. "Memecahkan masalah perubahan iklim akan menjadi hal paling menakjubkan yang pernah dilakukan umat manusia," ungkap Bill Gates, dikutip BBC, Jumat (3/9/2021).

Menurut Bill Gates untuk menghentikan perubahan iklim kita harus menghentikan total emisi karbon. Manusia harus berhenti menggunakan peralatan yang melepaskan karbon dioksida (CO2) ke udara. Manusia harus beralih ke energi hijau dan meninggalkan penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara.

Pendiri Microsoft mengungkapkan perubahan iklim dapat membuat 14 kematian per 100.000 populasi selama 40 tahun mendatang. Apabila emisi lebih buruk lagi maka bisa menyebabkan 73 kematian dalam 100.000 orang.

Bahkan dia memprediksikan dampak perubahan iklim berkali-kali lipat daripada yang terjadi saat ini dengan pandemi. "Dengan kata lain, pada 2060, perubahan iklim bisa sama mematikannya dengan Covid-19, dan pada 2100 bisa lima kali lebih mematikan dari Covid-19," ungkapnya.

Dalam satu-dua dekade ke depan, ekonomi juga diprediksi lebih rusak. Ini sama dengan pandemi dalam 10 tahun atau akhir abad menjadi lebih buruk apabila masih menghasilkan emisi.

Untuk menyelesaikan masalah ini, menurutnya cara agar menghilangkan emisi gas rumah kaca dengan membangun dan menerapkan inovasi.

Kode merah untuk kemanusiaan juga dikeluarkan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), berbarengan dengan ilmuwan yang memperingatkan masalah darurat iklim. Kehidupan manusia juga terancam karena masalah itu yakni seperti menunda kehamilan dan mendapatkan anak. Banyak manusia berpendapat dengan orang yang lebih banyak bisa membuat buruk emisi yang muncul dan peningkatan kekurangan pangan.

Masalah ini juga menjadi fokus oleh pasangan Pangeran Harry dan Meghan Markle. Keduanya memutuskan memiliki maksimal dua anak karena masalah lingkungan pada 2019 lalu.

Sudah Makan Korban

Dampak perubahan iklim pun sudah dirasakan manusia. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan jumlah bencana, seperti banjir dan gelombang panas (heatwave), akibat perubahan iklim (climate change) meningkat lima kali lipat selama 50 tahun terakhir.

Tidak hanya itu, deretan bencana ini juga menewaskan lebih dari 2 juta orang dan menelan kerugian total US$ 3,64 triliun atau sekitar Rp 51.981 triliun (asumsi Rp 14.200/US$). "Kerugian ekonomi meningkat seiring meningkatnya eksposur," kata Sekretaris Jenderal WMO Petteri Taalas, dikutip dari Reuters.


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading