DCII Milik Salim Naik Ribuan Persen, tapi Transaksinya Kecil

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
01 September 2021 12:10
Toto Sugiri, pemilik DCII/ dok.DCII

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten data center milik pengusaha Toto Sugiri PT DCI Indonesia Tbk (DCII) pernah menjadi primadona investor, yakni saat mencatatkan reli kenaikan luar biasa pada awal hingga pertengahan Juni lalu yang diiringi dengan rerata nilai transaksi yang cenderung 'minim'.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), setelah sempat naik tipis 0,59% pada pagi tadi, per 11.10 WIB saham DCII turun 0,79%ke Rp 50.300/saham dengan nilai transaksi baru sebesar Rp 157,80 juta dan volume perdagangan hanya 3.100 saham.

Dalam sepekan saham ini melesar 16,28%, sementara dalam sebulan anjlok 15,25%.


Pasca-pembukaan suspensi (penghentian perdagangan sementara) oleh bursa pada 12 Agustus 2021, nilai transaksi dan volume perdagangan DCII cenderung lebih kecil dari perdagangan sepanjang Juni lalu ketika saham ini mencatatkan reli yang 'gila-gilaan'.

Sebagai informasi, BEI sempat 'menggembok' saham DCII sejak 17 Juni hingga 10 Agustus atau hampir 2 bulan seiring dengan kenaikan harga saham yang signifikan, didorong oleh kabar masuknya Bos Indofood Anthoni Salim ke saham ini.

Bahkan, sehari sebelum suspensi--atau pada 16 Juni--saham DCII sempat ditutup di harga tertinggi sepanjang masa, yakni Rp 59.000/saham, atau meroket 13.947,62% dari harga saat penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada 6 Januari 2021 sebesar Rp 420/saham.

Namun di tengah lonjakan harga yang luar biasa, sejak debut pada awal tahun ini, nilai transaksi saham DCII tidak pernah lebih tinggi dari Rp 10,21 miliar--angka yang dicapai pada 16 Juni.

Gambaran saja, sejumlah saham-saham dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) di atas Rp 100 triliun atau big cap biasanya memiliki nilai transaksi puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Tentu, sebagai salah satu big cap, nilai transaksi saham DCII cenderung minim. 

Rerata nilai transaksi DCII sejak IPO sebesar Rp 1,16 miliar, sementara rerata volume perdagangan sejak awal 'manggung' sebesar 76.902 saham.

Adapun, ketika reli kenaikan saham pada 31 Mei sampai 16 Juni (di periode ini saham DCII melambung 414,16%) rerata nilai transaksi melonjak menjadi Rp 4,46 miliar dan rata-rata volume perdagangan 103.590 saham.

Setelah 'gembok' kembali dibuka mulai 12 Agustus lalu, dibandingkan dengan saat awal Juni, rerata nilai transaksi saham DCII lebih rendah, yakni Rp 1,62 miliar, sedangkan rerata volume transaksi menjadi 33.393 saham.

Asal tahu saja, pasca-kembali beraktivitas, bursa memasukkan saham ini ke dalam kategori efek bersifat ekuitas dalam pemantauan khusus atau mendapat notasi X besar pada 12 Agustus lalu.

Dalam penjelasan bursa, saham DCII masuk ke dalam kriteria nomor 10 dalam pemantauan khusus. Adapun poin nomor 10 menandakan suatu saham dikenakan penghentian sementara perdagangan Efek selama lebih dari 1 hari bursa ursa yang disebabkan oleh aktivitas perdagangan.

Peraturan Nomor II-S tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas dalam Pemantauan Khusus yang dikeluarkan pada 16 Juli 2021 menyebutkan, saham yang masuk ke dalam pemantauan khusus akan dikenakan batasan persentase auto rejection saham sebesar 10%.

Jadi, suatu saham dengan notasi X diperbolehkan naik hingga menyentuh batas auto rejection atas (ARA) atau auto rejection bawah (ARB) masing 10%. Namun, khusus untuk aturan ARB, selama pandemi bursa telah memutuskan batas ARB maksimal untuk papan utama dan pengembangan adalah 7%.

Mengacu pada aturan ini, tidak mengherankan ketika saham DCII hanya bisa naik 10% pada Selasa sampai Kamis pekan lalu.

Mengacu pemegang saham efektif DCII sampai 31 Juli 2021, saham ini dimiliki oleh Otto Toto Sugiri sebesar 29,90%, Marina Budiman 22,51%, Han Arming Hanafia 14,11%, ketiganya merupakan pemegang saham pengendali.

Sedangkan, Anthoni Salim tercatat menggenggam kepemilikan 11,12%. Sisanya, pemegang saham publik 22,36%.

Sebelumnya, manajemen DCII sebelumnya memberikan penjelasan mengenai konversi saham DCII yang dilakukan Presiden Direktur Toto Sugiri dan Presiden Komisaris perusahaan Marina Budiman dari tanpa warkat (scriptless) menjadi warkat, pada Rabu (4/8/2021).

Dalam keterbukaan informasi di BEI, Corporate Secretary DCI Indonesia Gregorius Nicholas Suharsono mengatakan, konversi saham yang dilakukan oleh kedua petinggi DCII tersebut dilakukan demi efisiensi.

"Pemegang saham utama menilai bahwa penyimpanan dalam bentuk warkat merupakan hal yang lebih efisien," ujar Gregorius.

Gregorius menegaskan saat ini pengendali dan pemegang saham utama perseroan tidak memiliki rencana untuk mengubah kepemilikan saham perseroan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Deretan 5 Fakta Saham DCII, Meroket 11.000% Wajar Gak sih?


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading