Tok! Rights Issue Disetujui, Kioson Bidik Dana Segar Rp 300 M

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
25 August 2021 17:56
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten teknologi yang bergerak di bidang e-commerce dan telekomunikasi keuangan, PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS), memperoleh persetujuan untuk melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

Hal ini diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dilaksanakan Selasa (24/8/2021).

"KIOS menargetkan untuk menerbitkan sebanyak-banyaknya 365,79 juta saham baru dengan nilai nominal Rp 100 per saham," kata Direktur Utama Kioson, Reginald Trisna, dikutip CNBC Indonesia dari keterbukaan informasi, Rabu ini (25/8).


Dia mengatakan, jumlah tersebut setara dengan 51% dari modal disetor KIOS sebelum rights issue dan juga disertai dengan penerbitan waran Seri II dengan jumlah sebanyak-banyaknya 248,74 ribu Waran Seri II.

Lebih lanjut, Reginald menjelaskan, dalam hal pemegang saham tidak melaksanakan HMETD miliknya, maka persentase kepemilikan atas perseroan akan terdilusi hingga sebanyak-banyaknya 33,77%.

Rencana rights issue ini akan dilaksanakan oleh KIOS setelah mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Terkait dengan harga pelaksanaan rights Issue, pihak manajemen mengatakan angka tersebut masih dalam pembahasan, akan tetapi perusahaan mengharapkan akan memperoleh dana segar hasil penerbitan saham baru di kisaran Rp 250 hingga 300 miliar.

"Untuk target dana, kami proyeksikan sebesar Rp 250-300 miliar," ujar Roby Tan, Direktur KIOS.

Adapun tujuan pelaksanaan rights issue ini, diharapkan dapat mendukung pertumbuhan bisnis perseroan sehingga akan berpengaruh positif terhadap kondisi keuangan perseroan dan dapat memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham.

"Jika semua berjalan sesuai rencana, dana hasil aksi korporasi ini nantinya juga akan digunakan untuk mengembangkan kegiatan usaha perdagangan, pergudangan, dan telekomunikasi yang merupakan bagian dari kegiatan usaha utama Perseroan dan anak perusahaan," kata Reginald.

Kioson melaporkan penurunan pendapatan hingga 79,30% pada semester I-2021. Pendapatan tersebut tercatat jeblok menjadi Rp 175,43 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 847,79 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan publikasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), turunnya pendapatan KIOS secara drastis disebabkan oleh anak usahanya PT Narindo Solusi Komunikasi yang tidak lagi memiliki pelanggan strategis seperti Gojek, Tokopedia (Tokped), Blibli dan Matahari Mall.

Meski pendapatan dari penjualan ambruk, kinerja laba perusahaan malah mengalami perbaikan.

Tercatat sepanjang 6 bulan awal tahun 2021 perusahaan memperoleh laba bersih sebesar Rp 1,48 miliar, berbalik dari kondisi rugi bersih sebesar Rp 10,80 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada penutupan perdagangan Rabu (25/8) di pasar modal, harga saham KIOS turun 3,64% ke level Rp 1.060 per saham. Dalam sepekan saham ini telah melemah 9,79%, dalam sebulan terakhir terkoreksi 23,74% dan sejak awal tahun mengalami pertumbuhan hingga 449%.

Kioson resmi menjadi startup pertama yang mencatatkan saham di BEI pada 5 Oktober 2017 dan menjadi emiten ke-24 tahun tersebut.

Saham Kioson dicatatkan pada Papan Pengembangan dengan kode saham KIOS. Harga saham Kioson dibuka menguat 50% ke level Rp 450 per saham dari harga awal Rp 300 per saham.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading