Posisi Spekulatif Dolar AS Jeblok 65%, Tanda Batal Tapering?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
25 August 2021 17:40
Dollar AS - Rupiah (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Isu tapering mempengaruhi pasar finansial global sejak pekan lalu, dolar Amerika Serikat (AS) yang paling diuntungkan. Tetapi di pekan ini, dolar AS justru mengalami tekanan, sebabnya pelaku pasar mulai ragu tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) oleh bank sentral AS (The Fed) akan dilakukan di tahun.

Sepanjang pekan lalu, indeks dolar AS melesat lebih dari 1% setelah rilis risalah rapat kebijakan moneter The Fed edisi Juli yang menunjukkan peluang tapering di tahun ini.

Inflasi di AS yang dikatakan sudah mencapai target dan pemulihan pasar tenaga kerja juga hampir sesuai ekspektasi, membuat mayoritas anggota dewan memilih tapering di tahun ini.


idr

"Melihat ke depan, sebagian besar partisipan (Federal Open Market Committee/FOMC) mencatat bahwa selama pemulihan ekonomi secara luas sesuai dengan ekspektasi mereka, maka akan tepat untuk melakukan pengurangan nilai pembelian aset di tahun ini," tulis risalah tersebut.

Tetapi dalam 2 hari pertama pekan ini, indeks dolar AS justru berbalik turun 0,64%. Penyebabnya, Presiden The Fed wilayah Dallas, Robert Kaplan, pada Jumat lalu mengatakan akan mempertimbangkan kembali tapering dalam waktu dekat jika penyebaran virus corona mengganggu pemulihan ekonomi AS.

Kaplan merupakan salah satu anggota The Fed yang hawkish atau pro pengetatan moneter. Sehingga komentarnya memberikan dampak signifikan terhadap ekspektasi tapering.

Sebelum rilis risalah The Fed, pelaku pasar ternyata juga tidak yakin The Fed akan melakukan tapering di tahun ini. Hal tersebut terlihat dari merosotnya posisi spekulatif kontrak dolar AS. Berdasarkan data dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC), pada pekan yang berakhir 17 Agustus, posisi beli bersih (net long) dolar AS tercatat sebesar US$ 1,06 miliar, merosot lebih dari 65% dari pekan sebelumnya sebesar US$ 3,08 miliar.

Net long tersebut merupakan posisi dolar AS melawan 6 mata uang utama, yakni euro, poundsterling, yen, franc, dolar Kanada dan dolar Australia.

Pertemuan Jackson Hole di Amerika Serikat yang akan diadakan pada Jumat nanti menjadi perhatian pelaku pasar sebab ketua The Fed, Jerome Powell, diperkirakan akan memberikan detail kapan dan bagaimana akan dilakukan.

"Kami pikir investor akan menunggu untuk mendengar tapering dari Jerome Powell pada hari Jumat, sebelum kembali masuk ke aset-aset berisiko lagi, dan menjual dolar AS," tulis ahli strategi dari ING dalam catatan kepada nasabahnya yang dikutip CNBC International, Selasa (24/8/2021).

Sementara itu analis dari National Australia Bank melihat lonjakan kasus Covid-19 di AS membuat The Fed menunggu data ekonomi dua bulan ke depan sebelum mengumumkan tapering.

"Jackson Hole adalah kunci, tetapi melihat ketidakpastian (akibat Covid-19) The Fed kemungkinan akan melihat data tenaga kerja 2 bulan ke depan, tetapi pengumuman tapering tetap di tahun ini," kata Tapas Strickland, analis dari National Australia Bank, sebagaimana dilansir Reuters.

Sementara itu ekonom dari Goldman Sachs memperkirakan The Fed baru akan mengumumkan tapering di bulan November, dengan probabilitas sebesar 45%. Selain itu, besarnya tapering diperkirakan sebesar US$ 15 miliar, dari total nilai QE saat ini US$ 120 miliar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading