Roundup

Jokowi Longgarkan PPKM, Cek 8 Kabar Pasar Sebelum Trading!

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
24 August 2021 08:40
Presiden RI Jokowi memberi pernyataan tentang perkembangan PPKM, Senin 23/8/2021 (Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham domestik berakhir di teritori positif pada perdagangan di awal pekan ini, Senin (23/8), seiring dengan penguatan mayoritas bursa saham global.

Selain itu, dari dalam negeri, terdapat sejumlah sentimen positif yakni mulai melandainya kasus Covid-19 dan kebijakan pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) tadi malam menyampaikan update terkini terkait kebijakan PPKM Level 4 diperpanjang hingga 30 Agustus 2021. Namun ada beberapa kota yang bisa turun level.


"Pemerintah memutuskan mulai tanggal 24 Agustus hingga 30 Agustus di beberapa daerah bisa diturunkan levelnya dari level 4 ke level 3. Untuk pulau Jawa dan Bali, wilayah aglomerasi Jabodetabek, Bandung Raya, Surabaya Raya, dan beberapa wilayah kota/kabupaten lainnya sudah bisa berada pada level 3 mulai 24 Agustus 2021," kata Jokowi, Senin malam (23/8).

Data BEI mencatat, Senin kemarin, IHSG ditutup menguat 1,31% ke level 6.109,82 poin dengan nilai transaksi Rp 12,56 triliun. Investor asing melakukan pembelian bersih senilai Rp 2,17 triliun. Namun, bila diakumulasi sejak awal tahun, net buy asing mencapai Rp 20,09 triliun.

Cermati aksi dan peristiwa emiten berikut ini yang dihimpun dalam pemberitaan CNBC Indonesia sebelum memulai transaksi pada perdagangan Selasa (24/8/2021):

1.Emiten Luhut Lepas Saham Pembangkit ke Arifin Panigoro Rp 1 T

Perusahaan energi PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) atau sebelumnya bernama PT Toba Bara Sejahtera melepas kepemilikan saham pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Paiton Energy.

Nilai penjualan pembangkit ini total mencapai US$ 68,86 juta (Rp 998,61 miliar, asumsi kurs Rp 14.500/US$).

Berdasarkan publikasi yang disampaikan perusahaan, disebutkan bahwa perusahaan melepas kepemilikannya sebesar 5% melalui PT Batu Hitam Perkasa (BH) dengan nilai US$ 64,61 juta (Rp 936,84 miliar). BHP adalah perusahaan yang 100% sahamnya dimiliki oleh TOBA.

Kemudian, perusahaan juga melepas 5% saham kelas A dalam modal Minejesa Capital B.V.., sebuah perusahaan yang berbasis di Belanda yang juga bagian dari kepemilikan PLTU tersebut. Pembeli seluruh saham ini adalah perusahaan energi milik Arifin Panigoro melalui anak usahanya PT Medco Daya Energi Sentosa (MDES).

2.Wika Realty Mulai Terima Pengalihan Aset Hotel BUMN Rp 3,2 T

PT Wijaya Karya Realty (Wika Realty), anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) terus menerima pengalihan aset dari perusahaan-perusahaan BUMN pengelola hotel. Pengalihan aset ini merupakan bagian dari pembentukan Holding Hotel BUMN, di mana Wika Realty menjadi induk holding ini.

Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan oleh Wika, akan dilakukan setoran modal dan tukar-menukar saham dengan saham Wika Realty dengan PT Aero Wisata di PT Senggigi Pratama Internasional (SPI) dan Saham PT Hotel Indonesia Natour (Persero)/HIN di PT Hotel Indonesia Properti (HIPro). Selain itu juga akan dilakukan pembelian aset PT PT Pegadaian (Persero).

Aset yang akan ditransaksikan antara lain 11 hotel yang berasal dari HIN, satu hotel milik Aerowisata dan 9 hotel milik Pegadaian.

3.Disuntik PMN Rp 7,9 T, Waskita Rampungkan 7 Ruas Tol

Emiten konstruksi BUMN, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) bakal menyelesaikan pembangunan 7 ruas tol dengan menggunakan dana yang bersumber dari Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 7,9 triliun.

Rinciannya, sebanyak 6 ruas tersebut berada di Pulau Jawa dan 1 di Sumatera. Ruas yang akan mendapatkan alokasi dana PMN tersebut adalah Tol Bekasi - Cawang - Kampung Melayu, Tol Cimanggis - Cibitung, Tol Ciawi - Sukabumi, Tol Pejagan - Pemalang, Tol Pasuruan - Probolinggo, Tol Krian - Legundi - Bunder - Manyar, dan Tol Kayu Agung - Palembang - Betung.

"PMN sebesar Rp7,9 triliun yang rencananya diberikan kepada Waskita akan sepenuhnya digunakan untuk melanjutkan pembangunan pada 6 ruas tol di Pulau Jawa dan 1 ruas di Pulau Sumatera," kata President Director Waskita, Destiawan Soewardjono, dalam keterangan resmi, Senin (23/8/2021).

4.Duh! Waktu IPO GoTo Masih Belum Bisa Ditentukan

Rencana GoTo, entitas hasil merger Gojek dan Tokopedia yang berencana melantai di bursa saham domestik tampaknya urung terwujud tahun ini.

GoTo dikabarkan akan menunda rencana penawaran umum perdana saham menjadi tahun 2022 sembari menanti selesainya aturan mengenai kebijakan dual class of shares dan klasifikasi saham dengan hak suara multipel atau multiple voting share (MVS) dan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Meski ditunda, perusahaan rintisan teknologi terbesar di Indonesia ini sebelumnya akan menyelesaikan pendanaan pra-IPO dengan target dana yang dihimpun sebesar US$ 2 miliar atau sekitar Rp 28 triliun dalam beberapa pekan ke depan.

5.Akhirnya Asabri Cabut dari BBYB Milik Akulaku! Sisa 0,53%

Perusahaan asuransi BUMN PT Asabri (Persero) lagi-lagi menjual saham bank milik Akulaku, PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) sehingga porsinya dari sebelumnya lebih dari 20% di tahun 2019, tergerus menjadi 4,28% per 12 Agustus 2021.

Hingga kini menurut keterangan resmi Bank Neo kepemilikan saham Asabri bahkan tersisa 0,53% hingga 19 Agustus 2021.

Sebagai informasi, pada kuartal I-2019 saham Asabri di BBYB masih sebanyak 21,91% atau 1.240.539.090 saham, sementara pada kuartal I-2020 saham Asabri masih 20,13% atau setara 1.240.539.090 saham.

6.Ditinggal Gojek-Tokopedia-Blibli, Omzet Emiten KIOS Drop 79%

Emiten teknologi penyedia perangkat lunak dan perangkat keras, PT Tbk (KIOS), melaporkan penurunan pendapatan hingga 79,30% pada semester pertama tahun 2021.

Pendapatan Kioson tercatat jeblok menjadi Rp 175,43 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 847,79 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan publikasi di Bursa Efek Indonesia BEI), turunnya pendapatan KIOS secara drastis disebabkan oleh anak usahanya PT Narindo Solusi Komunikasi yang tidak lagi memiliki pelanggan strategis seperti Gojek, Tokopedia (Tokped), Blibli dan Matahari Mall.

Anak usaha KIOS ini memang menjual produk digital seperti pulsa, e-money dan berbagai macam tagihan lainnya.

Hilangnya partner strategis tersebut membuat Narindo tidak memiliki kontribusi terhadap pendapatan KIOS sejak kuartal pertama 2021.

7.Bursa Siap Depak 4 Emiten 'Gurem' Ini dari Papan Perdagangan!

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan sejumlah emiten sudah berada dalam proses penghapusan pencatatan saham (delisting) lantaran telah melewati batas waktu ketentuan bursa.

Untuk itu, para pemangku kepentingan atau stakeholders emiten-emiten tersebut diharapkan mencermati keterbukaan informasi yang disampaikan bursa dan emiten.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan beberapa emiten seperti PLAS, GOLL, SUGI dan TRIO saat ini dipantau ketat oleh bursa lantaran kondisi kelangsungan usaha (going concern) perusahaan menjadi perhatian.

"Selama tidak ada perbaikan kondisi atas penyebab terjadinya suspensi PLAS, GOLL, SUGI dan TRIO, maka perusahaan tercatat tersebut masih dalam proses delisting. Bursa akan mempertimbangkan upaya perbaikan kinerja yang dilakukan sebelum perusahaan tercatat tersebut ditetapkan delisting oleh Bursa," kata Nyoman, Senin (23/8/2021).

8.RUPSLB Bank Capital 25 Agustus, Siapa Serap Rights Issue-nya?

PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) berencana menggelar Penawaran Umum Terbatas IV (PUT IV) melalui penerbitan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue sebanyak-banyaknya 20 miliar saham.

Bank Capital merupakan salah satu dari tujuh bank yang mengajukan izin ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjadi bank digital. Mengacu pada keterbukaan informasi yang dipublikasikan BACA, nilai nominal rights issue tersebut sebesar Rp 100 per saham.

Untuk aksi korporasi ini, manajemen BACA akan meminta restu para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan diselenggarakan pada 25 Agustus mendatang di Le Meridien Hotel Jakarta.

Adapun harga pelaksanaan belum ditetapkan, tetapi jika mengacu pada harga terendah saham BACA di awal tahun yakni Rp 376/saham, potensi dana yang bisa diraih mencapai Rp 7,5 triliun.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ini Dia 9 Kabar yang Pantas Dibaca Sebelum Cari Cuan


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading