Newsletter

Pekan Lalu Loyo, Minggu Ini IHSG Bisa 'Balas Dendam'?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
23 August 2021 06:21
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air benar-benar loyo sepanjang pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya menghijau dua kali dan nilai tukar nilai tukar rupiah harus takluk di hadapan keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS).

IHSG jatuh pada perdagangan minggu lalu. Apa boleh buat, bursa saham dunia memang sedang terguncang karena isu pengetatan kebijakan atau tapering off dari bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve/The Fed.


Minggu lalu, IHSG terkoreksi 1,77% secara point-to-point. IHSG mengakhiri pekan ini bawah 6.100.

Namun IHSG tidak sendiri. Mayoritas indeks saham utama Asia pun berjatuhan, dengan Hang Seng (Hong Kong) menjadi yang paling parah.

Hanya tiga indeks saham yang berhasil menguat yaitu PSEI (Filipina), SET (Thailand), dan KLCI (Malaysia). PSEI menjadi yang terbaik dengan lonjakan hampir 5%.

Sementara, mata uang Garuda melemah sepanjang pekan lalu. Dolar AS memang terlalu kuat dan berjaya di Asia.

Sepanjang minggu lalu, rupiah melemah 0,45% di hadapan dolar AS secara point-to-point. Pada perdagangan akhir pekan, rupiah ditutup di Rp 14.450/US$, terlemah sejak 30 Juli 2021.

Rupiah tidak sendiri karena hampir seluruh mata uang Asia tidak berdaya di hadapan dolar AS. Hanya peso Filipina yang mampu membukukan penguatan secara mingguan, dan ringgit Malaysia di posisi stagnan. Sisanya tidak selamat.

Apa boleh buat, dolar AS memang terlampau kuat. Pekan lalu, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) terapresiasi 1,02% secara point-to-point.

Sepanjang pekan, sentimen yang paling mendominasi pasar adalah antisipasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed.

Investor menanti rails notula rapat (minutes of meeting) The Fed edisi Juli 2021 yang dirilis Kamis dini hari waktu Indonesia. Pasar ingin menggali petunjuk kira-kira kapan Ketua Jerome 'Jay' Powell dan sejawat akan mulai mengurangi pembelian surat berharga (quantitative easing) alias tapering off dan menaikkan suku bunga acuan.

Memang, sejak pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) melanda AS, The Fed memberlakukan kebijakan moneter ultra-longgar. Suku bunga dipangkas habis-habisan hingga mendekati 0% dan The Fed memborong surat berharga (quantitative easing) senilai US$ 120 miliar saban bulannya.

Notula tersebut menggambarkan nada (tone) The Fed yang semakin berani. Semakin hawkish, semakin tidak malu-malu dalam menyebut potensi tapering off.

Survei yang dilakukan Reuters terhadap 43 institusi memperkirakan The Fed akan mulai terang-terangan mengumumkan pengurangan quantitative easing pada September 2021 alias bulan depan.

Namun pengurangan ini sepertinya baru akan dilakukan pada Januari 2022. Quantitative easing diperkirakan baru akan benar-benar selesai pada kuartal IV-2022.

Pengurangan quantitative easing berarti pasokan dolar AS tidak akan lagi melimpah seperti sekarang. Seperti barang, saat pasokan berkurang pasti harga akan naik. Mata uang juga begitu, pasokan yang menurun membuat nilai tukarnya kian mahal.

Persepsi ini membuat investor memburu dolar AS, untuk jaga-jaga kalau nanti pasokannya berkurang. Ini membuat dolar AS berjaya, dalam sepekan terakhir Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) melesat 1,02%.

Perburuan terhadap dolar AS membuat investor melupakan aset-aset lain, termasuk saham. Jadi tidak heran bursa saham Asia juga ikut berguguran, termasuk IHSG.

Dibayangi Tapering Off The Fed, Wall Street Turun Sepekan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading